Pages

Thursday, September 27, 2012

Pendidikan dan Tanggung Jawab Negara


Beberapa hari belakangan tema ini sempat menjadi head line di media nasional. Dalam 1 pekan, 2 nyawa pelajar melayang di Jakarta akibat tawuran. Untuk teman, saudara, dan keluarga besar almarhum, saya sampaikan duka sedalam-dalamnya, semoga almarhum diberikan tempat terbaik disisi Nya.
Tidak ada yang tidak terusik dengan kejadian ini. Kegeraman pada sang pembunuh seolah menjadi hal yang lumrah dalam situasi ini.
 .

Mulai dari Pakar Psikologi, Public figure, politikus, hingga negarawan kita yang berkomentar. Namun sampai detik ini saya masih bingung dan tidak mengerti “ Mengapa ini bisa terjadi ? Apa jalan keluarnya ?”.
Saya teringat masa-masa sekolah dulu, fanatisme dan permusuhan antar siswa sekolah bukanlah barang baru, silahkan tanya ke orang tua kita, apakah mereka mengalaminya ? malah hal-hal seperti ini menjadi satu bagian dalam memori masa SMP dan SMA. Seiring dengan pertumbuhan mulai dari tahap remaja hingga dewasa, sebagian besar dari kita pasti mengalaminya.

Kebetulan saya menemukan Buku psikologi Remaja, terbitan 1986, sudah lama bukan. Judul buku ini “Kenakalan Remaja dalam perspektif pendekatan sosiologis-psikologis-teologis dan usaha penanggulanannya”, oleh Bambang Mulyono, penerbit ANDI Offset, Yogyakarta. Saya kembali baca judulnya, apakah masih Relevan di masa-masa sekarang? Dengan fakta yang terjadi disekitar kita, masih bisakah kita menerima  kata “kenakalan”? Apakah jauh lebih melegakan kalau edisi terbaru seri ini  menggunakan kata “Kebrutalan”? Ok, terlepas dari maslah etomologi, Inti pembahasan dalam buku ini yaitu melihat  permasalahan remaja ini dari sudut Makro dan keluarga/Mikro. Kebijakan Pemerintah dalam bidang Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Hukum dan Pendidikan memberikan pengaruh langsung pada perkembangan mental generasi muda Indonesia. Pertanyaan besarnya… apakah Birokrat menyadarinya ?

Situasi yang terjadi di Jakarta bukanlah masalah 2 individu. Tidak cukup mengadili dan memburu pelaku-pelaku yang diasumsikan sebagai “aksi tunggal”. Ini aksi kolektive bung ! Ini adalah impack. Mari mengendalikan rasa kaget kita. Kejadian ini hanyalah satu dari sekian banyak modus yang bisa muncul dari akar masalah yang sama, yaitu Ekonomi dan Tingkat Pendidikan. Saya hampir  tidak memiliki cukup keberanian untuk membayangkan kemungkinannya.  Kalau anak kemarin sore saja sudah memiliki “rasa puas” dengan membunuh bagaimana dengan ….. ah sudahlah. Ditengah  kegalauan ini, tidak henti-hentinya para pejabat saling melempar tanggung jawab, ada yang bilang ini menjadi tugas masyarakat, ada lagi ini bentuk kegagalan pendidikan, yang lain berkata keluarga tidak berperan aktif, atau ada sedikit yang ingin beda, ini akibat kurangnya tuntunan agama, hukum tidak tegas dan lain-lain mulai A sampai Z, sampai kita sendiri dibuat bingung sebenarnya yang kita mau lakuin itu apa. Ah  What ever…

Dalam beberapa situasi, kita mengenal variabel “Given”, yaitu faktor – faktor yang kita harus terima tanpa tahu kenapa. Seperti misalnya Suku, Ras, Jenis Kelamin. Untuk di Indonesia sepertinya Pendidikan sudah sangat layak menjadi salah satunya. Saya memiliki Hipotesa “ Pendidikan yang baik bisa didapat jika memiliki kondisi ekonomi keluarga yang baik”. Bagi  kalangan masyarakat yang memiliki ekonomi kurang, ya tidak ada pilihan. Ada yang bilang SMAN 6 dan SMAN 70 sekolah favourite. Saya hampir tidak bisa percaya, apa sih ukuran sekolah favorite? Dari tingkat kelulusan? Dari rata-rata nilai? Dari kelengkapan fasilitas sekolah ? Kalau out put mentalitas siswanya saja seperti ini. Berarti Grading Sekolah di DKI perlu di Evaluasi lagi indicatornya. Poinnya tidak ada banyak pilihan bagi kalangan ekonomi bawah. Jika Hipotesa ini benar, berarti negara sudah gagal. Kapitalisasi Pendidikan telah mendorong bangsa ini menuju Jurang. Dan inilah akar dari semua masalah sosial yang terjadi.

Artikel terkait dengan dunia pendidikan dapat dilihat di Link berikut : 
http://www.dedylondong.blogspot.com/2012/02/perbaikan-sistem-pendidikan-untuk.html

1 comment:

  1. assalamu alaikum wr wb..
    bismillahirrahamaninrahim... senang sekali saya bisa menulis
    dan berbagi kepada teman2 melalui tempat ini,
    sebelumnya dulu saya adalah seorang pengusaha dibidang property rumah tangga
    dan mencapai kesuksesan yang luar biasa, mobil rumah dan fasilitas lain sudah saya miliki,
    namun namanya cobaan saya sangat percaya kepada semua orang,
    hingga suaatu saat saya ditipu dengan teman saya sendiri dan membawa semua yang saya punya,
    akhirnya saya menanggung hutang ke pelanggan-pelanggan saya totalnya 470 juta dan di bank totalnya 600 juta ,
    saya sudah stress dan hampir bunuh diri anak saya 3 orang masih sekolah di smp / sma dan juga anak sememtarah kuliah,tapi suami saya pergi entah kemana dan meninggalkan saya dan anaka-naknya ditengah tagihan hutang yang menumpuk,
    demi makan sehari hari saya terpaksa jual nasi bungkus keliling dan kue,
    ditengah himpitan ekonomi seperti ini saya bertemu dengan seorang teman
    dan bercerita kepadanya, alhamdulilah beliau memberikan saran kepada saya.
    dulu katanya dia juga seperti saya setelah bergabung dengan KH. Ahmad Danan hidupnya kembali sukses,
    awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama satu minggu saya berpikir
    dan melihat langsung hasilnya, `
    saya akhirnya bergabung dan mengunjung websiteNya http://pondok-allaqsha.logdown.com
    semua petunjuk K.H. Ahmad Danan saya ikuti dan hanya 1 hari astagfirullahallazim,
    alhamdulilah demi allah dan anak saya,
    akhirnya 5m yang saya minta benar benar ada di tangan saya,
    semua utang saya lunas dan sisanya buat modal usaha,
    kini saya kembali sukses terimaksih K.H. Ahmad Danan saya tidak akan melupakan jasa aki.
    jika teman teman berminat, yakin dan percaya insya allah,
    saya sudah buktikan demi allah silahkan kunjungi web resmi di http://pondok-allaqsha.logdown.com/










































































































































































































































































































    ReplyDelete