Pages

Monday, February 25, 2013

Berakhirnya sebuah Generasi di Industri Manufacture

Generasi ini secara sadar maupun tidak mengikuti faham  “Status Quo” … maju tidak mundurpun tidak. Awalnya saya berfikir kelompok ini didominasi oleh orang-orang tua, lama dan dianggap senior diperusahaan. Meskipun tidak selalu, akhirnya saya berhipotesa ini benar.

Sesaat melewati krisis ekonomi ’98, perusahaan manufacture di Indonesia semakin memahami makna sebenarnya dari kompetisi. Yakni pertarungan untuk memperebutkan pasar. Kekuatan atau dalam konsep SWOT disebut Strenghtness terukur dari produk. Seberapa kompetitifkah harga jualnya, yang pastinya tergantung dari tingkat Harga pokok produksinya (HPP), atau seberapa berkualitaskah produk yang dihasilkan merujuk pada aspek spesifikasi, realibility, safety, dll. Atau seberapa mampukah produk  mengikuti atau memenuhi “keinginan” customer , masih belum cukup? Saya masih ada satu poin lagi, seberapa banyak produk memiliki nilai tambah (addded value ) bagi calon penggunanya. Kompetisi tidak hanya berlangsung dalam skala Nasional, melainkan Regional ( Asia ) hingga Global, Tidak ada lagi istilah “monopoli” di era ini. Dan  krisis 98 memberikan pelajaran berharga betapa rapuhnya  fondasi ekonomi sektor real kita.

Meningkatkan kekuatan atau strenghtness perusahaan adalah harga mati. Pengembangan SDM, Peningkatan Sistem Informasi perusahaan, Upgrade Teknologi, Development Produk baru, Perubahan Strategi Marketing, Implementasi Management Performance Monitoring seperti KPI-BSC dan MBO, dan masih banyak lagi langkah strategis yang diambil untuk membuat perusahaan lebih ofensif dan agresif dalam berkompetisi.

Kembali ke Generasi “Status Quo”, kelompok ini tidak memiliki kesadaran, kemauan dan hasrat untuk melakukan perubahan. Pada paragraf pembuka saya memasukkan beberapa orang-orang tua, lama dan senior mendominasi kelompok ini. Saya telah memasuki  beberapa perusahaan di bidang usaha yang berbeda. Meskipun belum meneliti secara ilmiah, saya “merasakan” ada korelasi antara konsep berpikir kelompok senior (bahkan super senior ) dalam arti usia dan posisi struktural dengan adanya konsep status quo.

Dari aspek Usia Kerja, dalam industri manufacture saya membagi kedalam 3 Generasi :
1. Generasi I, rata-rata generasi ini memasuki perusahaan di tahun 1975 – 1980 ( ‘70-‘80 ) saat usia rata-rata 20 tahun. Maka saat ini usianya  53 – 58 tahun.
2. Generasi II, generasi ini memasuki manufacture di antara tahun 1980 – 1990, jika saat masuk rata-rata usianya 20 tahun, maka saat ini usia pekerja dikelompok ini berkisar antara 43 – 53 tahun.
3. Generasi III, generasi ini memasuki dunia industri mulai awal ’90 an – th. 2000, dengan rata-rata usia masuk yang sama, maka saat ini usia pekerja berkisar antara 33 – 40 tahun.

Generasi I mendominasi kelompok status quo, saya melihat secara langsung saat memasuki industri ini di tahun 1998. Ditahun inilah masa keemasan Generasi ini, secara struktural kelompok ini begitu berakar pengaruhnya dan sangat kuat. Meski sejarah menunjukkan bahwa fondasi perusahaan-perusahaan manufacture nasional tidak sekuat yang diduga. Kuatnya arus perubahan yang dicanangkan oleh Management Perusahaan terkadang berbenturan dengan tembok-tembok ini hingga menjelangnya tahun 2000 an. Saat pengaruh kelompok ini berabgsur surut. Perlahan namun pasti, Generasi II mulai menggantikannya di posisi-posisi puncak. Pengaruh Generasi II yang lebih baik dan memiliki pemahaman lebih baik akan arti “daya saing” dan “kompetisi”. Generasi inilah yang memberikan dasar bagi munculnya Generasi III yang saat ini, mulai mengisi posisi – posisi midle Eksekutif, dan tidak lama lagi mereka akan memasuki posisi-posisi Senior dan Top Eksekutif di Perusahaan.

Generasi I sudah memasuki tahap-tahap akhir. Tidak lebih dari 5 tahun kedepan, Generasi ini benar-benar tergantikan posisi strukturalnya oleh Generasi berikutnya. Pertanyaan besarnya, mengapa Generasi I tampak tidak memiliki daya saing yang kuat, berikut analisa saya :
1. Mereka memasuki Industri manufacture karena terdorong oleh side efect Repelita, yang menitik beratkan pembangunan pada sektor Industri. Urbanisasi berada pada puncak tertingginya. Tanpa bekal pendidikan dan ketrampilan yang memadai, Generasi ini mulai memasuki pabrik (industri manufacture).
2. Industri Favorite pemerintah saat itu yaitu jenis padat karya. Ada masa yang berbanding terbalik dengan saat ini, yaitu dimana peluang kerja lebih besar dari suplay angkatan kerja. Inilah yang saya maksud dalam argumen poin (1). Dalam situasi ini, memperkerjakan orang dalam jumlah besar dalam satu lokasi sangat disadari resikonya. Penentuan Pemimpin-pemimpin Struktural tidak mengutamakan aspek knowledge, skill, dan attitude. Perusahaan lebih mengutamakan stabilitas. Maka tidak mengherankan, di kantong industri di Tangerang, Bekasi ada Jawara / jagoan kampung, orang-orang yang berpengaruh secara sosial menempati posisi-posisi strategis di struktur organisasi perusahaan.
3. Generasi ini rata-rata lahir menjelang kemerdekaan dan dewasa ditengah eforia era keemasan minyak bumi Indonesia. Begitu banyaknya kejadian hebat di era 80an,  membuat Generasi ini terjebak dengan Romantika masa lalu. Saya masih tidak yakin, namun begitu sulitnya mereka melakukan perubahan saya pikir cukup untuk memberikan alasannya.

Apapun yang terjadi, biarlah ini menjadi catatan perjalanan industri manufacture Indonesia. Masa lalu membentuk masa sekarang. Bukan bermaksud menghakimi, tapi artikel ini saya tulis untuk memberikan pembelajaran akan arti pentingnya daya saing dan belajar untuk “tidak mengulang kesalahan” di masa lalu.

Akhir kata, mari kita berbuat lebih baik lagi untuk Industri Manufacture Indonesia. Minggu lalu saya dan mungkin anda juga tahu, Textil bermotif Batik dan Sepatu “murah”  made in China membanjiri pasar di Indonesia. Anda bisa bayangkan nasib jutaan pekerja Garment dan Sepatu Nasional. Akhir tahun 2012, Pameran-pameran Teknologi  Permesinan dari China sangat Gencar diadakan. Jika pola yang sama terjadi sepanjang tahun ini, maka mind set teknologi china itu jelek akan semakin pudar. Di satu sisi, industri diuntungkan dapat menggunakan mesin teknologi tinggi dengan biaya investasi hampir 1/3 dibanding mesin Eropa / Amerika.

Tapi dalam jangka menengah, industri kita semakin tergantung dengan China. Lalu, Kapan kita menjadi bangsa yang mandiri ? Dari  aspek  stabilitas politik, China bisa dikatakan sangat tidak stabil, ideologi nasional  menempatkan mereka selalu diposisi siaga perang. Bisa dibayangkan efeknya, jika kita terlanjur tergantung dengan mereka ?

Berakhirnya sebuah generasi  tidak selalu berarti positif sepanjang kita  tidak menjadi bangsa yang mampu belajar dari kesalahan. Inilah tanggung jawab kita sebagai generasi berikutnya.

1 comment: