Pages

Monday, March 04, 2013

Galau ...

Senin, 4 Maret 201, 21.00 pm

Malam ini saya teringat ucapan dosen saya saat kuliah, mengenai market intelegence.
Market intelligence merupakan pengumpulan informasi yang digunakan untuk menyelesaikan segala permasalahan berkaitan dengan strategi pemasaran yang akan dijalankan.  Market intelligence digunakan untuk mencari data-data yang berkaitan dengan kondisi internal dari competitor seperti untuk mendapatkan informasi produk andalan dari pesaing, keunggulan produk pesaing, kemana pesaing membidik sasaran, serta mempelajari pola-pola strategi pesaing secara detail. Sehingga berdasarkan informasi yang diperoleh tersebut perusahaan dapat mengatur suatu strategi antisipatif dan untuk meningkatkan produk sendiri melebihi produk yang sudah dihasilkan pesaing.

Tiga jam lalu  saya dan Leader-leader Engineering  mengadakan acara santai diluar pabrik. Kebetulan  dimeja makan ada produk kompetitor (nggak usah disebutlah item dan perusahaannya ya …). Tanpa direncanakan sebelumnya, obrolan kami yang santai berubah menjadi serius, padahal sebelum berangkat kami baru saja menyelesaikan meeting engineering mingguan.

Kembali ke istilah Market Intelegence tadi, kami di engineering juga melakukannya. Hanya saja bidang ini tidak diajarkan di bangku kuliah. Seluruh informasi mengenai Teknologi  Mesin  hingga development yang dimiliki kompetitor tidak disengaja tumpah ruah diatas meja makan. Dari obrolan santai berubah menjadi obrolan tingkat tinggi. Jika diawal saya menyebut istilah “market intelegence”, apa yang sedang kami lakukan saat ini juga masuk kategori intelegence, hanya khusus di teknologi manufacturingnya. Boleh lah kalau saya sebut dengan Technologi Intelegence.

Seperti  Prosesor Core AMD Opteron 6274,  kami mengolah, menganalisa, dan menyimpulkan bebagai informasi tadi , saya pikir  fisik produk kompetitor dan pengaruh sate dan sop kambing  membuat otak kami berpikir lebih cepat. Hampir semua sisi teknologi procesing kami kupas habis, dari aspek bahan baku, type mesin, negara pembuat mesin, peluang development produk, sampai batas kemampuan ekspansi volume produksi.

Sial! Ternyata kami tertinggal satu langkah dibelakang. Apa yang saya dan marketing pikir kami masih didepan mereka berpotensi untuk salah. Langkah awal kami jelas, kami harus me-redefinisi  informasi-informasi yang masuk kategori Threat (tantangan), dan dari sisi internal, informasi ini  akan memperjelas weakness perusahaan. Menyadari  hal-hal ini, saya yakin jauh lebih baik untuk perusahaan dalam mengambil langkah-langkah strategis memperkuat strengthness.

Dalam hati, ini bukan pekerjaan yang mudah, pembuktian valid atau tidak informasi akan menjadi issue utama. Tidak ada bukti terdokumentasi untuk memperkuat argumen, sepertinya saya harus menjual ide ini ke level manager terlebih dahulu, sebelum  ke management. Setengah jam menulis artikel ini, saya pikir bisa mengusik kegalauan, ternyata tidak juga. Semua sudah terukur, Jika  salah langkah, beberapa point  strengthness kami akan terlewati sebelum 5 tahun kedepan.  Let’s  see!


3 comments:

  1. Pak Dedy sudah lama sekali sepertinya tidak membuat artikel. Krn saya termasuk org yg menikmati artikel2 pak dedy ttg manufaktur. Saya 2 tahun bekerja sebagai PPIC di manufaktur namun dalam waktu dekat ini saya akan pindah kerja sebagai PPIC di perusahaan konstruksi. Apakah ada perbedaan besar dalam prinsip bekerja seorang PPIC di manufaktur dengan di konstruksi? Mohon sarannya. Terima kasih.
    Best Regards
    Dwi Wahono

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Dwi,

      Oh iya, kebetulan bulan-bulan ini saya fokus ke pembangunan pabrik baru HACCP standard untuk ekspansi. jadi mulai perancangan design, pengawasan kontraktor, penyiapan man power , sistem dan proses, kebetulan saya yang bertanggung jawab. Disamping job reguler saya untuk operasional perusahaan. Jadi sabar dulu ya ...

      Manajemen kosntruksi menggunakan prinsip manajemen proyek. Proyek adalah kegiatan yang bersifat sementara dan telah ditetapkan awal pekerjaannya dan waktu selesainya. Tentunya pembuatan Planningnya lebih ditekankan pada ketepatan waktu penyelesaian suatu tahap atau proses.
      misal Perusahaan sudah menyewa Crane untuk pemasangan atap baja untuk 2 hari. Namun sampai hari ke-4 pengerjaan belum selesai, menyebabkan penambahan biaya sewa, mundurnya schedule pengerjaan proyek yang lain. Padahal dalam kontrak kerja, disebutkan adanya denda jika ada keterlambatan.
      Case ini bisa terjadi di schedulling kedatangan matrial concrete, baja, mesin ekscavator, dll. Seorang PPIC dalam proyek konstruksi ibaratnya seorang dirigent yang mengatur tempo permainan. Tapi konsep dasarnya masih sama dengan di manufacture. Bagaimanapun anda sangat tergantung pada kemampuan pekerja dilapangan menyelesaikan pekrjaan tepat waktu, dan ini ditentukan oleh volume hasil kerja mereka.
      Mensinkronkan alokasi perlengkapan kerja, jadwal kedatangan material, dan volume kerja akan menjadi seni tersendiri.
      Good Luck!

      Delete
  2. Terima kasih pencerahannya Pak Deddy. Dan semoga sukses dengan ekspansinya perusahaan.
    Dwi Wahono

    ReplyDelete