Tuesday, July 03, 2012

PROMOSI ( Promotion )




1.  Pengertian Promosi
Siagian (2006)[1] menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan promosi ialah apabila seorang pegawai dipindahkan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain yang tanggung jawabnya lebih besar, tingkatannya dalam hierarki jabatan lebih tinggi dan penghasilannya pun lebih besar pula. Setiap pegawai mendambakan promosi karena dipandang sebagai penghargaan atas keberhasilan seseorang menunjukkan prestasi kerja yang tinggi dalam menunaikan kewajibannya dalam pekerjaan dan jabatan yang dipangkunya sekarang, sekaligus sebagai pengakuan atas kemampuan dan potensi yang bersangkutan untuk menduduki posisi yang lebih tinggi dalam organisasi. Promosi dapat terjadi tidak hanya bagi mereka yang menduduki jabatan manajerial, akan tetapi juga bagi mereka yang pekerjaannya bersifat teknikal dan non manajerial.
       Menurut Hasibuan (2007) promosi adalah perpindahan yang memperbesar authority dan responsibility karyawan ke jabatan yang lebih tinggi di dalam satu organisasi sehingga kewajiban, hak, status, dan penghasilannya semakin besar[2]. Dalam nada yang sama, Martoyo (2007) mendefinisikan promosi sebagai perpindahan dari suatu jabatan ke jabatan lain  yang mempunyai status dan tanggung jawab lebih tinggi. Hal ini berarti bahwa kompensasi pada umumnya lebih tinggi bila dibanding dengan pada jabatan lama[3]. Selanjutnya Werther and Davis (2003), menyatakan bahwa promosi  terjadi ketika seorang karyawan dipindahkan dari suatu pekerjaan ke posisi lain yang lebih tinggi gajinya,  tanggung jawabnya, dan tingkat dalam organisasi. Secara umum hal itu diberikan sebagai penghargaan dari kinerja masa lalunya dan harapan masa depannya. Namun demikian dengan pengurangan karyawan berakibat pada organisasi yang lebih ramping, hanya ada sedikit  orang-orang dipromosikan, mendorong untuk menyatakan bahwa supervisor harus lebih berpikiran terbuka tentang pengejaran jabatan oleh bawahannya[4]
Mondy, et. all., (2005) mengemukakan  bahwa promosi  adalah perpindahan  karyawan ke tingkat yang lebih tinggi  dalam suatu organisasi. Istilah promosi merupakan  kata-kata yang paling menggugah  dalam bidang manajemen sumber daya manusia.  Seseorang yang menerima promosi  biasanya mendapatkan  tambahan reward finansial dan peningkatan kepercayaan diri  karena prestasi dan pencapaian. Kebanyakan karyawan merasa positif tentang promosi. Namun  bagi  tiap orang yang mendapatkan kesempatan dipromosikan ada orang-orang tidak  terpilih. Jika seseorang yang ingin dipromosikan tidak berkeahlian,  atau  calon favorite mereka diabaikan, mereka mungkin menjadi tidak antusias atau bahkan mengundurkan diri. Jika konsensus dari karyawan secara langsung dilibatkan bahwa orang yang salah dipromosikan berakibat pada kemarahan karyawan[5].


2. Dasar-dasar Promosi
Siagian  (2006)[6] mengemukakan bahwa bagi siapa pun promosi itu diberlakukan, yang penting ialah bahwa pertimbangan-pertimbangan yang digunakan didasarkan pada serangkaian kriteria yang objektif, tidak pada "selera" orang yang mempunyai kewenangan untuk mempromosikan orang lain.  Organisasi pada umumnya menggunakan dua kriteria utama dalam mempertimbangkan seseorang untuk dipromosikan, yaitu prestasi kerja dan senioritas. Promosi yang didasarkan pada pres­tasi kerja menggunakan hasil penilaian atas hasil karya yang sangat baik dalam promosi atau jabatan sekarang. Dengan demikian pro­mosi tersebut dapat dipandang sebagai penghargaan organisasi atas prestasi kerja anggotanya itu. Akan tetapi promosi demikian harus pula didasarkan pada pertimbangan lain, yaitu perhitungan yang matang atas potensi kemampuan yang bersangkutan menduduki posisi yang lebih tinggi. 
Artinya perlu disadari bahwa mempro­mosikan seseorang bukannya tanpa risiko, dalam arti bahwa tidak ada jaminan penuh bahwa orang yang dipromosikan benar-benar memenuhi harapan organisasi. Karena itulah analisis yang matang mengenai potensi yang bersangkutan perlu dilakukan. Analisis demikian menjadi lebih penting apabila dikaitkan dengan kenyataan bahwa kemampuan setiap manusia terbatas. Artinya, tidak mustahil bahwa seseorang menunjukkan prestasi kerja yang tinggi pada pekerjaan dan posisinya sekarang, tetapi karena yang bersangkutan sebenarnya sudah mencapai "puncak kompetensinya", tidak lagi mampu berprestasi hebat pada posisi yang lebih tinggi. 
Dalam hal demikian mempromosikan seseorang akan membawa kerugian, bukan hanya bagi yang bersangkutan, tetapi juga bagi organisasi. Praktek promosi lainnya ialah yang didasarkan pada senioritas. Promosi berdasarkan senioritas berarti bahwa pegawai yang paling  berhak  dipromosikan ialah yang masa kerjanya paling  lama. Banyak organisasi yang menempuh cara ini dengan tiga pertimbangan, yaitu:
1)    Sebagai penghargaan atas jasa-jasa seseorang paling sedikit dilihat dari segi loyalitas kepada organisasi,
2)      Penilaian biasanya bersifat objektif karena cukup dengan
membandingkan masa kerja orang-orang tertentu yang dipertimbangkan untuk dipromosikan,
3)  Mendorong organisasi mengembangkan para pegawainya karena pegawai yang paling lama berkarya akhirnya akan mendapat promosi.

Cara ini mengandung kelemahan, terutama pada kenyataan bahwa pegawai yang paling senior belum tentu merupakan pegawai yang paling produktif,  juga belum tentu paling mampu bekerja. Kelemahan tersebut memang dapat diatasi dengan adanya program pendidikan dan pelatihan, baik yang diperuntukkan bagi sekelompok pegawai yang melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu maupun yang secara khusus diperuntukkan bagi para pegawai senior tertentu yang akan dipertimbangkan untuk dipromosikan.  Agar persyaratan objektivitas terpenuhi dan agar lebih terjamin bahwa promosi para pegawai mempunyai dampak positif bagi organisasi dan semangat para karyawan keseluruhan, pendekatan yang paling tepat dalam hal promosi karyawan adalah menggabungkan prestasi kerja dan senioritas. Dalam hal demikian pun faktor risiko hanya mungkin diperkecil karena memang tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya.
       Hasibuan (2007)[7] menjelaskan  bahwa program promosi hendaknya memberikan informasi yang jelas, apa yang dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk mempromosikan seseorang karyawan dalam perusahaan tersebut. Hal ini penting supaya karyawan dapat mengetahui dan memperjuangkan nasibnya. Pedoman yang dijadikan dasar untuk mempro­mosikan karyawan adalah:
1)   pengalaman (senioritas),
2)   kecakapan (ability), serta
3)   kombinasi pengalaman dan kecakapan.

1)    Pengalaman (senioritas) yaitu promosi yang didasarkan pada lamanya peng­alaman kerja karyawan. Pertimbangan promosi adalah pengalaman kerja seseorang, orang yang terlama bekerja dalam perusahaan mendapat prioritas pertama dalam tindakan promosi. Kebaikannya adalah adanya penghargaan dan pengakuan bahwa pengalaman merupakan saka guru yang berharga. Dengan pengalaman, seseorang akan dapat mengembangkan kemampuannya sehingga karyawan tetap betah bekerja pada perusahaan dengan harapan suatu waktu ia akan dipromosikan. Kelemahannya adalah seseorang karyawan yang kemampuannya sangat terbatas, tetapi karena sudah lama bekerja tetap dipromosikan. Dengan demikian, perusahaan akan dipimpin oleh seorang yang berkemampuan rendah, sehingga perkembangan dan kelangsungan perusahaan disangsikan.

2)  Kecakapan (ability) yaitu seseorang akan dipromosikan berdasarkan   penilaian kecakapan. Pertimbangan promosi adalah kecakapan, orang yang cakap atau ahli mendapat prioritas pertama untuk dipromosikan. Kecakapan adalah total dari semua keahlian yang diperlukan untuk mencapai hasil yang bisa dipertanggungjawabkan (definisi). Kecakapan merupakan kumpulan pengetahuan (tanpa memperhatikan cara mendapatkannya) yang diperlukan untuk memenuhi hal-hal berikut a)Kecakapan dalam peaksanaan prosedur kerja yang praktis, teknik-teknik khusus, dan disiplin ilmu pengetahuan. b)Kecakapan dalam menyatukan dan menyelaraskan bermacam-macam elemen yang semuanya terlibat di dalam penyusunan kebijaksanaan dan di dalam situasi manajemen. Kecakapan dibidang ini bisa digunakan untuk pekerjaan konsultasi atau pekerjaan pelaksanaan. Kecakapan ini mengombinasikan elemen-elemen dari perencanaan, pengorganisasian, pengaturan (directing), penilaian (evaluating), dan pembaruan (innovating). c)Kecakapan dalam memberikan motivasi secara langsung. Cara Mengukur Kecakapan (Know-How). Kecakapan mempunyai ukuran lebar dan dalam. Jadi suatu pekerjaan bisa memerlukan banyak pengetahuan tapi serba sedikit, atau sedikit pengetahuan tapi secara mendalam. Total kecakapan adalah jumlah dari lebar dan dalam. Konsep ini sangat praktis dalam memberikan perbandingan dan penilaian terhadap bobot dari total kecakapan dalam berbagai pekerjaan, dalam hal berapa banyak penge-tahuannya dan sampai berapa dalam setiap pengetahuannya. Kesulitan mengukur kecakapan adalah menentukan tolok ukur kecakapan. Apakah nilai ijazah dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk mengukur kemam-puan seseorang sedangkan nilai ijazah hanya mencerminkan kecerdasan seseorang pada saat ujian saja. Belum tentu orang yang nilai ijazahnya tinggi akan lebih mampu dalam praktek.

3)    Kombinasi pengalaman dan kecakapan yaitu promosi vang berdasarkan pada lamanya pengalaman dan kecakapan. Pertimbangan promosi adalah berdasarkan lamanya dinas, ijazah pendidikan formal yang dimiliki, dan hasil ujian kenaikan golongan. Jika seseorang lulus dalam ujian maka hasil ujian kenaikan dipromosi­kan. Cara ini adalah dasar promosi yang terbaik dan paling tepat karena mempromosikan orang yang paling berpengalamandan terpintar, sehingga kelemahan promosi yang hanya berdasarkan pengalaman/kecakapan saja dapat diatasi. Promosi yang berdasarkan kombinasi pengalaman dan kecakapan, memberikan kebaikan-kebaikan sebagai berikut:
a)    Memotivasi karyawan untuk memperdalam pengetahuannya bahkan memaksa diri mengikuti pendidikan formal. Dengan demikian, perusahaan akan mem­punyai karyawan yang semakin terampil.
b)   Moral karyawan akan semakin baik, bergairah, semangat, dan prestasi kerjanya semakin meningkat karena ini termasuk elemen-elemen yang dinilai untuk promosi.
c)   Disiplin karyawan semakin baik karena disiplin termasuk elemen yang akan mendapat penilaian prestasi untuk dipromosikan.
d)    Memotivasi berkembangnya persaingan sehat dan dinamis di antara para karya­wan sehingga mereka berlomba-lomba untuk mencapai kemajuan.
e)    Perusahaan akan menempatkan karyawan yang terbaik pada setiap jabatan sehingga sasaran optimal akan tercapai.
Kelemahannya adalah:
a)     Karyawan yang kurang mampu akan frustrasi bahkan mengundurkan diri dari perusahaan itu.
b)   Biaya perusahaan akan semakin besar karena adanya ujian kenaikan golongan.

Werther and Davis (2003)[8] menjelaskan bahwa  promosi biasanya didasarkan pada merit  dan atau senioritas.  
a)    Promosi berdasarkan Merit. Promosi yang didasarkan pada merit  terjadi ketika  seorang karyawan dipromosikan   karena  kinerja yang luar biasa dalam pekerjaannya. Ketika promosi kebanyakan  untuk usaha dan kesuksesan masa lalu dua masalah mungkin dialami. Satu masalah adalah ketika pembuat keputusan  dapat secara objektif membedakan karyawan yang berkinerja kuat dari yang lemah. Ketika promosi didasarkan pada merit digunakan,  keputusan seharusnya merefleksikan kinerja individu, bukan seleksi yang bias. Ini mungkin terjadi ketika karyawan yang berkinerja terbaik adalah suatu anggota dari golongan dilindungi dan pembuat keputusan bias. Pembuat keputusan seharusnya tidak memunculkan  sangkaan pribadi untuk mempengaruhi promosi. Ketika keputusan promosi hasil dari  bias pribadi  organisasi mendapatkan orang yang kurang kompeten dalam  dalam posisi lebih penting dan lebih tinggi, dan ini menimbulkan kinerja yang buruk dan kemarahan karyawan lain. Masalah kedua dengan promosi didasarkan merit  adalah prinsip Peter yang menyatakan bahwa hirarki orang-orang cenderung  untuk menimbulkan tingkat ketidakkompetenan mereka. Meskipun tidak secara umum benar prinsip menyarankan bahwa kinerja yang baik dalam pekerjaan  bukan jaminan kinerja yang baik dalam pekerjaan yang lain.   Jika seorang insinyur baru diperkerjakan di Riset Exxon and  Engineering Company secara konsisten dibuat perubahan desain penghematan biaya dalam proses pabrik,  yang akan menjadi suatu contoh kinerja luar biasa. Namun demikan andaikan seorang insinyur dipromosikan menjadi supervisor. Keahlian diperlukan untuk menjadi supervisor yang efektif adalah sangat berbeda dari yang diperlukan untuk menjadi seorang insinyur  dalam jabatan tinggi. Sebagai akibat promosi demikian Exxon mendapatkan supervisor tidak efektif  dan kehilangan insinyur yang hebat.

b)  Promosi berdasarkan senioritas. Dalam beberapa situasi, kebanyakan karyawan senior mendapatkan promosi.  Senior dalam hal ini berarti karyawan yang bekerja sangat lama kepada majikannya. Keuntungan dari pendekatan ini adalah objektif. Semua hal yang harus dikerjakan adalah membandingkan senioritas calon untuk menentukan yang seharusnya dipromosikan. Hal logis dari pendekatan ini bahwa dapat mengeliminasi promosi yang bias dan memerlukan manajemen untuk mengembangkan karyawan-karyawan seniornya karena pada akhirnya mereka akan dipromosikan. Promosi berdasarkan senoioritas  biasanya terbatas untuk karyawan jam-jaman. Untuk contoh promosi dari mekanik kelas kedua menjadi mekanik kelas pertama mungkin terjadi secara otomatis melalui senioritas kapan saja ada lowongan untuk mekanik kelas pertama. Organisasi buruh sering mencari tipe promosi ini untuk mencegah diskrminasi majikan kepada anggota serikat. Kebanyakan ahli kepegawaian  menunjukan  kepedulian tentang kompetensi orang yang dipromosikan sendiri-sendiri berdasarkan senioritas karena tidak semua karyawan cakap.  


 3. Syarat-syarat Promosi
Menurur Hasibuan (2007)[9] dalam mempromosikan karyawan, harus sudah dipunyai syarat-syarat tertentu yang telah direncanakan dan dituangkan dalam program promosi perusahaan. Syarat-syarat promosi harus diinformasikan kepada semua karyawan, agar mereka mengetahui secara jelas. Hal ini penting untuk memotivasi karyawan berusaha mencapai syarat-syarat promosi tersebut. Persyaratan promosi untuk setiap perusahaan tidak selalu sama tergantung  perusahaan masing-masing. Syarat-syarat promosi pada umumnya meliputi  hal-hal berikut.
1)    Kejujuran. Karyawan harus jujur terutama pada dirinya sendiri, bawahannya, perjanjian-perjanjian dalam menjalankan atau mengelola jabatan tersebut, harus sesuai kata dengan perbuatannya. Dia tidak menyelewengkan jabatannya untuk kepentingan   pribadinya.
2)     Disiplin. Karyawan harus disiplin pada dirinya, tugas-tugasnya, serta mentaati peraturan-peraturan yang berlaku baik tertulis maupun kebiasaan. Disiplin karyawan sangat penting karena hanya dengan kedisiplinan memungkinkan perusahaan dapat mencapai hasil yang optimal.
3)   Prestasi Kerja. Karyawan itu mampu mencapai hasil kerja yang dapat dipertanggungjawabkan kualitas maupun kuantitas dan bekerja secara efektif dan efisien. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan dapat memanfaatkan waktu dan mempergunakan alat-alat dengan baik.
4)  Kerja Sama. Karyawan dapat bekerja sama secara harmonis dengan sesama karyawan baik horizontal maupun vertikal dalam mencapai sasaran perusahaan. Dengan demikian, akan tercipta suasana hubungan kerja yang baik di antara semua karyawan.
5)  Kecakapan. Karyawan itu cakap, kreatif, dan inovatif dalam menyelesaikan tugas-tugas pada jabatan tersebut dengan baik. Dia bisa bekerja secara mandiri dalam menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, tanpa mendapat bimbingan yang terus-menerus dari atasannya.
6) Loyalitas. Karyawan harus loyal dalam membela perusahaan atau korps dari tindakan yang merugikan perusahaan atau korpsnya. Ini menunjukkan bahwa dia ikut  berpartisipasi aktif terhadap perusahaan atau korpsnya.
7)   Kepemimpinan. Dia harus mampu membina dan memotivasi bawahannya untuk bekerja dan bekerja secara efektif dalam mencapai sasaran perusahaan. Dia harus menjadi panutan dan memperoleh personality   authority yang tinggi dari para bawahannya
8)  Komunikatif. Karyawan itu dapat berkomunikasi secara efektif dan mampu menerima atau mempersepsi informasi dari atasan maupun dari bawahannya dengan baik, sehingga tidak terjadi miskomunikasi.
9)    Pendidikan. Karyawan harus telah memiliki ijazah dari pendidikan formal sesuai dengan spesifikasi jabatan.

4.  Prosedur Promosi
Menurut Sastrohadiwiryo (2002)[10] prosedur  promosi yang biasa dianut perusahaan  adalah:
1)     Promosi dari dalam perusahaan. Hampir merupakan suatu tradisi  untuk mencari calon yang akan menduduki  jabatan manajer  pada suatu hirarki perusahaan  diantara jajaran tenaga kerja yang ada  merupakan kebiasaan umum yang tampak hampir  membudaya.
2)    Promosi melalui proses pencalonan. Pencalonan oleh manajemen adalah proses penunjang guna  mengajukan bawahan tertentu untuk dipromosikan. Tidak dapat disangsikan bahwa prosedur ini  tidak sistematis  dan mudah keliru, tetapi bagaimanapun juga proses inilah yang paling luas digunakan dalam perusahaan  untuk menyelidiki tenaga kerja yang akan dipromosikan.
3)   Promosi melalui prosedur seleksi. Prosedur lain yang ditempuh dalam rangka  promosi tenaga kerja adalah melalui proses seleksi. Biasanya  proses seleksi  bagi perusahaan-perusahaan besar  menggunakan berbagai ujian psikologis untuk tujuan ini. Cara ini sebenarnya kurang mendapat tanggapan positif  dari para tenaga kerja karena prosedur dianggap terlalu berbelit-belit, akibat banyak waktu dan tenaga yang terbuang dengan sia-sia.


5. Peranan Promosi
Menurut Hasibuan(2007) promosi (promotion) memberikan peran penting bagi setiap karyawan, bahkan menjadi idaman yang selalu dinanti-nantikan. Dengan promosi berarti ada kepercayaan dan pengakuan mengenai kemampuan serta kecakapan karyawan bersangkutan untuk menduduki suatu jabatan yang lebih tinggi. Dengan demikian, promosi akan memberikan status sosial, wewenang (authority), tanggung jawab (respon­sibility), serta penghasilan (outcomes) yang semakin besar bagi karyawan. Jika ada kesempatan bagi setiap karyawan dipromosikan berdasarkan asas keadilan dan objektivitas, karyawan akan terdorong bekerja giat, bersemangat, berdisiplin, dan berprestasi kerja sehingga sasaran perusahaan secara optimal dapat dicapai. Adanya kesempatan untuk dipromosikan juga akan mendorong penarikan (recruiting) pelamar yang semakin banyak memasukkan lamarannya sehingga pengadaan (procurement) karyawan yang baik bagi perusahaan akan lebih mudah. 
Sebaliknya, jika kesempatan untuk dipromosikan relatif kecil/tidak ada maka gairah kerja, semangat kerja, disiplin kerja, dan prestasi kerja karyawan akan menurun. Penarikan dan pengadaan karyawan semakin sulit bagi perusahaan bersangkutan. Begitu besarnya peranan promosi karyawan maka sebaiknya manajer per­sonalia harus menetapkan program promosi serta menginformasikannya kepada para karyawan. Program promosi harus memberikan informasi tentang asas-asas, dasar-dasar, jenis-jenis, dan syarat-syarat karyawan yang dapat dipromosikan dalam perusahaan bersangkutan. Program promosi harus diinformasikan secara terbuka, baik asas, dasar, jenis, persyaratan, maupun metode penilaian karyawan yang akan dilakukan dalam perusahaan. Jika hal ini diinformasikan dengan baik, akan menjadi motivasi bagi karyawan untuk bekerja sungguh-sungguh[11].


Semoga Bermanfaat & Terima kasih



[1] Martoyo, S., 2007, Manajemen Sumber Daya Manusia, BPFE, Yogyakarta, hal. 169
[2] Op. Cit. hal. 108
[3] Op. Cit. hal.  67
[4] Op. Cit. hal. 261
[5] Op. Cit. hal. 598
[6] Op. Cit. hal. 170
[7] Op.Cit. hal. 109-111
[8] Op. Cit. hal.  261
[9] Op.Cit. hal. 111
[10]Sastrohadiwiryo, S., 2002, Manajemen Tenaga Kerja Indonesia, Bumi Aksara, Jakarta, hal.  263
[11] Op. Cit. hal. 107

1 comment:

This Blog Free of Advertisement