Pages

Thursday, February 12, 2026

OPERATOR TIDAK MENJALANKAN SOP - ANALISIS & SOLUSI



Satu istilah yang sering kita dengar, yaitu SISTEM. Dimanapun kita berada dalam fungsi – fungsi struktral, baik sebagai bagian dari fungsi PPIC, Maintenance mesin, Procurement, Produksi, Warehouse & Logistic, Produksi. Kita selalu beroperasi didalam  Sistem tertentu.


Definisi SISTEM

Berikut adalah beberapa definisi sistem menurut para ahli yang sering digunakan:

·         Jogiyanto (2020)
Sistem didefinisikan sebagai sekumpulan dari bagian-bagian/komponen yang saling berhubungan dan bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.( Jogiyanto, H.M. (2020). Analisis & Desain Sistem Informasi: Pendekatan Terstruktur Teori dan Praktik Aplikasi Bisnis. Andi Offset.)

·         Sutarman (2021)
Sistem adalah kumpulan elemen yang saling berhubungan dan berinteraksi dalam satu kesatuan untuk menjalankan suatu proses pencapaian suatu tujuan utama. (Sutarman. (2021). Pengantar Teknologi Informasi. Jakarta: PT Bumi Aksara.)

·         Edgar F. Huse dan James L. Bowdict (1977)
Sistem adalah suatu seri atau rangkaian bagian-bagian yang saling berhubungan dan bergantung sedemikian rupa sehingga interaksi dan saling pengaruh dari satu bagian akan mempengaruhi keseluruhan.(Modul Pendidikan Sebagai Sistem (unitri.ac.id))

·         John McManama (2014)
Sistem adalah struktur konseptual yang tersusun dari fungsi-fungsi yang saling berhubungan yang bekerja sebagai suatu kesatuan organik untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan secara efektif dan efisien. (Jurnal/Repositoy Darmajaya, Teori Umum Sistem.)


Karakteristik/Elemen Dasar Sistem

Suatu kumpulan elemen dapat disebut sistem jika memiliki karakteristik berikut:

·         Komponen (Components): Bagian-bagian yang saling berinteraksi.

·         Batasan (Boundary): Ruang lingkup sistem.

·         Lingkungan Luar (Environment): Faktor luar yang mempengaruhi sistem.

·         Penghubung (Interface): Media penghubung antar komponen.

·         Input (Masukan): Energi atau data yang dimasukkan.

·         Proses (Processing): Pengolahan input menjadi output.

·         Output (Keluaran): Hasil pemrosesan.

·         Sasaran (Objective/Goal): Tujuan akhir sistem. 


Siapakah Operator ?

Kita akan membahas, satu komponen dalam sebuah SISTEM dalam perusahaan. Yaitu Komponen “ Operator “. Operator didefinisikan sebagai sebagai karyawan dengan keahlian operasional terbatas, bekerja berdasarkan instruksi, langkah kerja, target dan qualitas kerja yang telah ditetapkan. Opeartor tidak melakukan aktivitas manajerial. Lalu, apakah yang dimaksud dengan aktivitas manajerial ? “frasa” ini diartikan sebagai aktivitas koordinasi dan pengawasan terhadap orang lain, untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi (Robbins dan Coulter,2010). Gambar dibawah menjelaskan mengenai Hirarki Manajemen.


Anda perhatikan, Hirarki terbawah, inilah yang disebut sebagai “Operator”. Operator tidak hanya tentang orang-orang yang mengoperasikan mesin atau alat-alat produksi. Administrasi, security, petugas cleaning service, dan lain sebagainya, selama mereka tidak melakukan fungsi atau aktivitas manajerial. Tentunya, output dari pekerjaan ini bisa berupa barang ( product )  maupun jasa ( service )

Diatas hirarki Operator, ada Manajer Lini Pertama, posisi ini diartikan sebagai orang yang berada satu tingkat langsung diatas opreator. Bisa Grup Leader, Foreman, Kepala shift, supervisor , dsb. Ini tentunya akan berbeda disetiap entitas organisasi perusahaan.

Setelah melihat hirarki ini, akan “sangat tidak dibenarkan” jika ada Manajer Lini Pertama yang masih mengerjakan pekerjaan-pekerjaan operator ( karyawan non-manajerial ). Apapun alasannya. Ini Doktrin dasar dalam menjalankan fungsi Struktural.

Untuk memudahkan bagaimana komponen “ Operator “ ini bekerja, sepertinya lebih mudah kalau kita membayangkan operator mesin pabrik ya. Operator dalam contoh ini, akan menghasilkan barang. Jika kita lihat bahasan mengenai elemen dasar sistem, ada istilah “ proses”, yaitu cara untuk mengolah input menjadi output. Proses bisa berupa prosedure kerja, Instruksi kerja, Standard mutu, Alur kerja. Yang kita singkat menjadi Standard Operating Prosedure atau SOP.


OPERATOR vs SOP

Perusahaan anda memiliki mesin berteknologi tinggi dan terupdate, supervisor dan manajer dengan tingkat kecerdasan diatas rata-rata, menggunakan bahan baku terbaik dan  Disain SOP yang terperinci dan bagus.  

Keunggulan ini tampak mengesankan bukan ? Tetapi selama operator dilantai produksi bekerja tidak berdasarkan SOP semuanya akan tampak sia-sia. Mesin tidak mencapai performa masimum, tingkat kerusakan mesin tinggi, hasil produksi rendah, kualitas produk memprihatinkan, dan masih banyak lagi, anda bisa tambahkan sendiri.

Situasi ini, akan menjadi mimpi buruk dalam operasional perusahaan. Operator-operator ini layaknya tentara yang berperang di medan perang. Persenjataan yang digunakan merupakan hasil pengembangan terbaru dan efektif. Akan tetapi Tentara digaris depan, tidak mengoperasikannya dengan cara yang benar. Selain nyawa pasukan menjadi taruhannya, kekalahan hanya masalah waktu saja.


Mengapa Operator tidak dapat menjalankan SOP dengan benar ?

Ada 2 kemungkinan, SOP nya sendiri yang tidak tepat sehingga “ sulit” untuk dipahami dan diterapkan , dan kemungkinan kedua berasal dari faktor operatornya. Kita kesampingkan kemungkinan pertama, fokus pada kemungkinan kedua, yaitu aspek konsistensi operator.

Sebagai Supervisor atau Manajer,  umumnya menyasar pada aspek “kemauan” atau “motivasi” kerja, sederhannya operatornya sendiri yang tidak mau bekerja sesuai SOP. Solusinya biasanya, dengan konseling, dengan melakukan interaksi personal antara atasan (konselor) dengan bawahan ( klien individu/kelompok) untuk membantu klien memahami diri dan mengatasi masalah.

Jika, Konseling ini tidak memberikan hasil yang positif, akan turun teguran atau Surat Peringatan, Dengan asumsi, operator “tidak mau” mengikuti aturan dan harus dikenakan hukuman, agar “sadar” dan berubah.

Ini biasanya “action “ standard yang dilakukan. Saya akan memberikan sudut pandang lain terkait dengan situasi ini.

Anda sudah pernah mendengar mengenai kognisi? Singkatnya, kognisi mengontrol pikiran dan perilaku kita, dan merupakan segala hal yang berkaitan dengan bagaimana kita mengetahui dan merespons dunia di sekitar kita.

Kognisi (atau daya pikir) adalah istilah yang merujuk pada proses mental yang terjadi di otak dan berhubungan dengan pengetahuan, pemahaman, dan pemikiran. Secara sederhana, kognisi adalah tindakan mental atau proses memperoleh pengetahuan dan pemahaman melalui pikiran, pengalaman, dan indra.

Dalam konteks manufaktur, aspek-aspek ini sangat penting untuk keselamatan, kualitas, dan efisiensi. Berikut adalah aspek-aspek kognitif utama yang biasa dimiliki (atau sangat dibutuhkan) dalam dunia kerja.

1. Perhatian dan Kewaspadaan (Attention & Vigilance)

Ini mungkin yang paling krusial di lingkungan pabrik.

  • Perhatian Selektif (Selective Attention): Kemampuan untuk fokus pada satu tugas spesifik (misalnya, menyelaraskan komponen) sambil mengabaikan gangguan di sekitarnya (seperti kebisingan mesin atau lalu lintas forklift).
  • Kewaspadaan (Vigilance): Kemampuan untuk mempertahankan konsentrasi selama periode waktu yang lama, terutama dalam tugas-tugas monoton seperti mengawasi panel kontrol, memonitor lini produksi, atau melakukan inspeksi kualitas visual.

2. Memori (Memory)

  • Memori Kerja (Working Memory): Kemampuan untuk menyimpan dan menggunakan informasi sementara saat melakukan tugas. Contoh: Mengingat instruksi verbal 3 langkah dari supervisor sambil berjalan mengambil alat.
  • Memori Jangka Panjang (Long-Term Memory): Mengingat prosedur kerja (SOP), aturan keselamatan (K3), dan langkah-langkah troubleshooting yang sudah dipelajari.

3. Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Kemampuan untuk bereaksi ketika terjadi sesuatu yang tidak terduga.

  • Identifikasi Masalah: Menyadari bahwa ada sesuatu yang salah (misalnya, mesin mengeluarkan suara aneh, produk terlihat cacat).
  • Analisis Penyebab: Mencari tahu mengapa itu terjadi (misalnya, "Suara ini muncul setelah saya mengganti bahan baku A").
  • Implementasi Solusi: Menentukan tindakan perbaikan yang tepat (misalnya, menghentikan mesin, membersihkan penyumbat, atau memanggil teknisi).

4. Penalaran (Reasoning)

Kemampuan untuk berpikir logis dan memahami hubungan sebab-akibat.

  • Penalaran Numerik: Membaca dan memahami angka pada alat ukur (seperti caliper atau termometer), menghitung jumlah bahan baku, atau memahami metrik target produksi.
  • Penalaran Mekanis/Spasial: Memahami cara kerja mesin sederhana dan bagaimana komponen-komponen fisik saling berhubungan. Ini sangat penting untuk pekerja perakitan (assembly) dan teknisi pemeliharaan.

5. Pengambilan Keputusan (Decision Making)

Kemampuan untuk memilih tindakan terbaik, seringkali dengan cepat dan di bawah tekanan. Contoh: "Apakah saya harus segera menghentikan lini produksi karena cacat kecil ini, atau bisa menunggu hingga akhir shift?"

6. Fleksibilitas Kognitif (Cognitive Flexibility)

Di manufaktur modern, ini menjadi semakin penting.

  • Kemampuan Belajar: Cepat beradaptasi dan mempelajari proses, produk, atau teknologi baru (misalnya, menggunakan Human-Machine Interface/HMI layar sentuh yang baru).
  • Task Switching: Kemampuan untuk beralih antara tugas-tugas yang berbeda secara efisien tanpa membuat kesalahan.


Tingkat kebutuhan untuk setiap aspek kognitif ini sangat bervariasi tergantung pada perannya.

·     Operator Lini Perakitan mungkin sangat bergantung pada perhatian terhadap detail, memori prosedural (SOP), dan kewaspadaan.

·      Teknisi Pemeliharaan (Maintenance) lebih membutuhkan pemecahan masalah yang kompleks, penalaran mekanis, dan kemampuan analisis.

·  Inspektur Kualitas (QC) membutuhkan perhatian selektif dan penalaran numerik yang sangat tinggi.

Seringkali kita menyalahkan "kecerobohan" atau "motivasi" saat operator gagal menjalankan Standard Operating Procedure (SOP). Padahal, akar masalahnya seringkali terletak pada keterbatasan kognitif alami manusia: Fokus (Attention) dan Memori (Working Memory).

Ketika lingkungan kerja bising atau padat gangguan, atau SOP terlalu kompleks, otak operator dipaksa melampaui batas kemampuannya.


Akar Masalah: Beban Kognitif Berlebih


Secara sederhana, distraksi (atau kecohan) adalah segala sesuatu yang mengalihkan perhatian Anda dari fokus yang seharusnya diinginkan atau tugas yang sedang dikerjakan.

Ini adalah proses yang menghalangi atau mengurangi penerimaan dan pemrosesan informasi yang relevan dengan tugas utama.

Jenis Distraksi dalam Konteks Kerja

Distraksi dibagi menjadi dua kategori utama, dan keduanya sangat relevan dengan kegagalan menjalankan SOP:



Dalam pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi seperti menjalankan SOP, bahkan distraksi singkat (hanya beberapa detik) dapat menyebabkan hilangnya urutan langkah dan memicu kesalahan fatal.

 

Solusi: Training & Desain yang Ramah Otak

Untuk mengatasi keterbatasan kognitif, kita harus mendesain sistem yang mendukung otak, bukan melawannya:

  1. Mengurangi Beban Kognitif:
    • Visual Management: Ganti teks panjang dengan visualisasi, checklist bergambar, atau poka-yoke (mekanisme anti-salah).
    • Chunking (Memecah): Pecah SOP yang panjang menjadi modul-modul kecil/singkat.
  2. Meningkatkan Fokus & Retensi:
    • Training Berbasis Simulasi: Latihan di lingkungan yang mereplikasi distraksi nyata. Ini melatih operator untuk menyaring gangguan.
    • Retrieval Practice: Setelah training, minta operator menulis ulang langkah SOP tanpa melihat (bukan sekadar membaca). Ini sangat kuat meningkatkan memori jangka panjang.
    • Spaced Repetition: Ulangi pelatihan singkat secara berkala (microlearning), daripada pelatihan padat sekali setahun.

KESIMPULAN

Rubah sudut pandang, bahwa organsisasi memiliki peran dalam membuat rencana tindakan untuk memperbaiki situasi ini. Organisasi memiliki tanggung jawab yang paling  besar terhadap implementasi SOP, meskipun faktor utamanya terletak pada faktor operator ( Human).  

Memposisikan operator sebagai “yang paling bertanggung jawab” dalam kegagalam implementasi SOP, hanya membuat situasi semakin rumit, dan cenderung menemui jalan buntu. Sudah tidak terhingga anda melakukan konseling dan Surat Peringatan ( SP ), masalah masih juga tidak terpecahkan.

Kegagalan menjalankan SOP bukanlah selalu masalah kemauan, melainkan masalah desain yang menuntut terlalu banyak dari kemampuan fokus dan memori operator. Mari kita fokus pada desain SOP dan lingkungan kerja yang kognitif-friendly!

 


OPERATOR TIDAK MENJALANKAN SOP - ANALISIS & SOLUSI...

Tuesday, February 07, 2023

SISTEM PRODUKSI

link
SISTEM PRODUKSI...

Wednesday, February 01, 2023

METODE PERAMALAN - PPIC Series Vol.02

link
METODE PERAMALAN - PPIC Series Vol.02...

Saturday, January 28, 2023

Tuesday, March 31, 2020

MEMBENTUK MENTALITAS PEKERJA




ATTITUDE

Secara umum, attitude merupakan suatu sikap, perilaku dan tingkah laku yang seseorang lakukan dalam berinteraksi dengan orang lain yang disertai dengan kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap tersebut.
Attitude sering sekali dikaitkan dengan kesiapan mental individu yang mempengaruhi juga menentukan kegiatan individu yang berhubungan dalam merespon obyek atau situasi yang mempunyai arti baginya. Attitude selalu berkenaan dengan suatu objek dan juga sikap terhadap objek yang disertai dengan perasaan positif maupun negatif.                                   
MEMBENTUK MENTALITAS PEKERJA...

Sunday, March 29, 2020

CORONA

From toys to Teslas, China's coronavirus disrupts flow of global ...

Ibarat serangan udara, virus Corona  tampak memiliki  kekuatan untuk meluluh lantakkan tatanan kehidupan manusia. Bagaimana tidak, solusi saat ini yaitu social distancing , isolasi , Lock Down. Pengembangan anti virus masih dalam tahapan yang tidak memiliki tenggat waktu. Pertanyaannya, jika solusi yang ditawarkan mengurangi kontak , dan sosialisasi dengan pihak luar, bagaimana kita bisa bekerja. 
CORONA...

Wednesday, June 28, 2017

Revolusi Industri ke-4



Perlahan namun pasti, kita akan memasuki era revolusi industri ke 4. Istilah populernya Industri 4.0
Revolusi ini  didorong oleh kemajuan dalam artificial intelligence atau kecerdasan buatan, robotika, kendaraan yang mampu mengemudi sendiri, pencetakan 3-D, nanoteknologi dan bidang lain sains. Kanselir Jerman, Angela Merkel, pada pertemuan tahunan WEF 2015, menjelaskan Industri 4.0 tak lain mengintegrasikan dunia online dengan produksi industri.

Dunia telah berkembang melewati 3 tahap, Revolusi industri pertama menggunakan air dan tenaga uap untuk mekanisasi produksi. Revolusi kedua menggunakan tenaga listrik untuk produsi massal. Revolusi ketiga menggunakan teknologi elektronik dan informasi untuk otomatisasi sektor produksi. 
Di sela agendannya menghadiri World Economic Forum on ASEAN 2017 di Phnom Penh, Kamboja, Jumat (12/5), Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan,  industri nasional dapat menggunakan teknologi digital seperti Big Data, Autonomous Robots, Cybersecurity, Cloud, dan Augmented Reality. Sistem Industry 4.0 ini akan memberikan keuntungan bagi industri, misalnya menaikkan efisiensi dan mengurangi biaya sekitar 12-15 persen. (http://www.kemenperin.go.id/artikel/17565/Empat-Strategi-Indonesia-Masuk-Revolusi-Industri-Keempat)

Ungkapan optimis Pak Menteri  memasuki era Industri 4.0 patut diapresiasi, tentunya harus diikuti kebijakan-kebijakan nyata yang benar-benar menopang dan mendorong Industri manufacture Nasional  sehingga datanganya era ini benar-benar dinikmati sebagai peluang meningkatkan profit perusahaan.

KEMBALI KE INDUSTRI DALAM NEGERI ...
Membicarakan hal-hal yang positif  di era industri 4.0 selalu menyenangkan. Tapi, sebagai praktisi saya bingung, kalaupun diterapkan di lingkungan industri saat ini, seberapa besar porsinya, dan mulai dari mana ...

Mesin – mesin yang dimonitor dan dikontrol secara online melalui jaringan internet bukanlah hal baru. Tentunya  selama ada jaringan internet dan dibukakan akses. Namun berbicara mengenai  teknologi digital seperti Big Data, Autonomous Robots, Cybersecurity,  Augmented Reality, adalah  hal yang lain, kecuali yang sedang kita bicarakan ini  pabrik-pabrik dalam film dokumenter “ Mega Factory” di National Geographic Channel.  Disamping itu  rendahnya penyerapan tenaga kerja secara nasional akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi.  Bagaimana tidak, di era ini, industri tidak hanya install mesin-mesin  otomatis, dan sistem roboticdi satu lokasi.  Namun perusahaan yang menerapkan teknologi sama, misal  di Detroit , Shenzen , dan  Purwakarta, cukup di monitor dan dikontrol  di satu lokasi, dan disanalah pusat pengendali teknologinya.  Dari  sisi  internal perusahaan, model seperti ini akan mengurangi tenaga kerja di level tertentu, dan bisa menurunkan biaya produksi. Namun dari sisi kepentingan Nasional, akan berbeda ceritanya. Pastinya harus dilakukan riset yang lebih mendalam mengenai hubungan faktor-faktor ini  beserta pengaruhnya.

Untuk perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia saya sama sekali tidak kuatir, karena aktualnya, revolusi Industri tahap ke-3 pun kita belum melewati  ;) 

Akan tetapi di luar sana,  Industri besar di China, Amerika, Eropa sudah mulai mengarah  ketahap sana, mereka dapat memproduksi barang dengan kualitas yang konsisten dan harga yang ekonomis. Kalau begini ya ujung-ujungnya ke Industri dalam negri bukan, barang kita gak laku, keuntungan perusahaan berkurang, lalu pengurangan tenaga kerja.

Artinya  datangnya era industri 4.0 sama pastinya dengan terbitnya matahari besok pagi. Siap tidak siap ya harus kita lalui dan hadapi, ini realitanya.
Apakah ini akan menjadi berkah atau Tsunami bagi kita, hanyalah kita yang bisa menjawab, kesiapan sumber daya manusia mulai dari tahap pendidikan dasar sampai tinggi  mutlak diperlukan. Saya pikir sudah waktunya pemerintah melalui Departemen terkait, memberikan  pendampingan melalui pelatihan-pelatihan teknis dan managerial  berkala dan terstruktur secara nasional  untuk level supervisor dan manager.


Situasi yang memusingkan bagi  pengusaha, apakah kita harus galau. Jawabannya 100 % tidak. Justru disinilah peluang kita sebagai pekerja pabrik. Salah satu solusi dari pengusaha yaitu merekrut manager – manager yang dapat memberikan solusi bagi permasalahannya, diantaranya dengan meningkatkan output produksi  dengan biaya minimal , mungkin andalah salah satunya.  
Revolusi Industri ke-4...

Sunday, October 19, 2014

Ide Spesifik



Ide spesifik berarti detail dan aktual. Sangat penting bagi seluruh anggota team memiliki kontribusi terhadap upaya mencapai tujuan organisasi.
Namun sayangnya ide-ide yang keluar terkadang jauh dari harapan. Ide yang masuk dalam kategori ini masih dalam tahap "mungkin" bisa dan tidak. Bahasa simplenya, masih asal bicara. 
Ide Spesifik...

Wednesday, October 08, 2014

Kegagalan Komunikasi


Saya ingin mendongeng buat anda. Cerita ini memberikan contoh menarik mengenai kegagalan komunikasi antara atasan dan bawahan.

Ada 4 tokoh cerita dalam cerita ini, yaitu Boss, dan 3 orang pekerjanya. sebut saja pekerja 1, pekerja 2, dan pekerja 3.

Boss         : Saya ada pekerjaan untuk kalian !
Pekerja     : Siap Boss 
Boss         :  Saya ingin besok kalian masing-masing lakukan pekerjaan ini.
                   Pekerja 1 kamu gali dan buat lobang, gunakan cangkul
                   Pekerja 2 kamu menanam pohon di dalam lobang galian
                   Pekerja 3 kamu menutup galian kembali dengan tanah, gunakan skop
Pekerja     : Siap laksanakan Boss !

Kegagalan Komunikasi ...

Wednesday, September 24, 2014

CONVEYOR dalam INDUSTRI


Desain sistem conveyor lebih terasa costumize. Itu yang saya rasakan saat merancang sistemnya. Saat saya tanyakan ke conveyor maker, kondisinya memang seperti ini, karena konsep, jalur, model, mekanismenya, atau desainnya harus mengikuti kebutuhan proses. Bagaimanapun, sebagai material moving tool, sistem conveyor adalah sistem pendukung, jadi harus mengikuti desain proses yang ada.
CONVEYOR dalam INDUSTRI ...

Sunday, December 01, 2013

BASIC MAINTENANCE


Minggu lalu, sekeluarga  sekeluarga bersama rombongan gereja bepergian ke Bandung. Dengan Bis , kami berangkat dari Tangerang jam 06.00. Dua Jam perjalanan sebelum memasuki  Bekasi Barat, dua ban belakang sebelah kiri pecah bersamaan. Karena Ban cadangan hanya satu, sekitar 45 menit kami semua menunggu kiriman dari Pool. Setelah perbaikan selesai mertua saya dengan nada kesal nyeletuk, “kirim mobil yang baru dong bang”, anda tahu jawaban pak sopir, begini kurang lebih,”mobil baru apa tidak, kalau meletus udah nasib bu”. Saya tersenyum kecut, kebetulan manantu si ibu tadi pernah kerja dipabrik ban, kasus meletusnya 2 ban secara bersamaan saat memasuki tol ( jalan rata dan relatif bersih dari paku, dll ) hanya ada 2 alasan, pertama adanya defect akibat problem manufacture, dan kedua ban sudah melewati masa pakai, kata lainnya ya memang waktunya ganti akibat faktor keausan atau daya tahan materialnya sudah menurun. Saya sangat yakin penyebab meletusnya ban ini karena faktor kedua.
BASIC MAINTENANCE...

Sunday, September 01, 2013

Kisah Pak Fredy


Pak Fredy seorang pekerja keras, dia sadar betul tugas dan tanggung jawab seorang kepala keluarga. Kenaikan pengeluaran untuk kebutuhan hidup memaksa bapak tiga orang anak ini berpikir keras untuk meningkatkan income. Kesempatan yang memungkinkan untuk menjadi solusi jangka pendek yaitu mendapatkan kenaikan salary. Dengan kompetensi yang dimiliki, rupanya Pak Fredy  sangat yakin akan mendapatkan pekerjaan dengan besaran gaji yang didambakan diluar sana.
Kisah Pak Fredy...

Sunday, July 14, 2013

CARA PALING EFEKTIF MENINGKATKAN CAPASITAS PRODUKSI





Saya akan menjelaskan dengan cara yang paling sederhana, mari kita lihat persamaan dibawah.


Saya yakin anda sudah mengerti dengan faktor-faktor produksi diatas, biasa kita dengar 5 faktor produksi. Ada  faktor Manusia, Material, metode Kerja, Machine, dan Lingkungan.
Jika saya terjemahkan dalam persamaan Matematis.
Vp = f {Mn,Ml,Mt,Mc,E}

Peningkatan Capasitas Produksi sebagai variabel terikat merupakan fungsi dari beberapa variabel bebas seperti  faktor Manusia, Material, Methode, machine, dan Environmnet.
Ke-5 faktor ini tidak memiliki bobot atau prosentase yang sama. Inilah yang akan saya share dengan anda. Ada kalanya orang produksi terjebak dengan faktor-faktor ini tanpa tahu mana yang sebenarnya menjadi prioritas. Apapun level anda dalam strukur organisasi produksi, Manager, Supervisor, atau Grup Leader. Pastikan baca paparan dibawah ini.
CARA PALING EFEKTIF MENINGKATKAN CAPASITAS PRODUKSI ...

Monday, March 04, 2013

Galau ...

Senin, 4 Maret 201, 21.00 pm

Malam ini saya teringat ucapan dosen saya saat kuliah, mengenai market intelegence.
Market intelligence merupakan pengumpulan informasi yang digunakan untuk menyelesaikan segala permasalahan berkaitan dengan strategi pemasaran yang akan dijalankan.  Market intelligence digunakan untuk mencari data-data yang berkaitan dengan kondisi internal dari competitor seperti untuk mendapatkan informasi produk andalan dari pesaing, keunggulan produk pesaing, kemana pesaing membidik sasaran, serta mempelajari pola-pola strategi pesaing secara detail. Sehingga berdasarkan informasi yang diperoleh tersebut perusahaan dapat mengatur suatu strategi antisipatif dan untuk meningkatkan produk sendiri melebihi produk yang sudah dihasilkan pesaing.
Galau ......

Sunday, March 03, 2013

Memahami Pull dan Push System dalam Industri Manufacture


Pull, Push  dalam kamus bahasa berarti tarik, dorong. Jika membicarakan Lean Manufacturing dan Just In Time (JIT), rasanya dua kata ini sangat erat kaitannya.

Dibanding Push System, Pull System yang lebih menjadi pusat perhatian dalam implementasi JIT . Pull merupakan proses operasi mulai dari tahap pembelian hingga delivery customer yang hingga saat ini dianggap modern dan bisa mengikuti arah pasar. Sedangkan istilah yang satunya, yaitu Push system, merepresentasikan  sebuah system operasi tradisional dan konservative, identik dengan aktivitas yang tidak memiliki nilai tambah atau istilahnya "waste". Untuk menghindari stock out, manajemen menentukan tingkat volume pembelian material dan level of inventory, tidak berpedoman pada turunnya Purchase order (PO) customer. Sebagai acuan yaitu forecasting atau peramalan tingkat penjualan.

Dalam manufacturing, Pull System kurang lebih memiliki arti sebagai berikut :
a) Venkatesh (1996) menyatakan pada sistem  push, sebuah mesin melakukan proses produksi tanpa harus menunggu permintaan dari mesin yang akan melakukan proses berikutnya. Sebaliknya pada sistem  pull, sebuah mesin melakukan proses produksi hanya jika ada permintaan dari mesin yang akan melakukan proses selanjutnya.
b) Goddard dan Brooks (1984), sistem push dan pull diasosiasikan dengan aliran informasi. Mereka mendefinisikan  push sebagai aksi untuk mengantisipasi kebutuhan, sedangkan  pull sebagai aksi untuk melayani permintaan.
c) Villa dan Watanabe (1993) menggambarkan kaitan sistem  push dengan proses manajemen dalam upaya mengurangi risiko stock-out, sedangkan sistem  pull sebagai suatu proses produksi yang mengalir dengan ekspektasi inventori sekecil mungkin.
Memahami Pull dan Push System dalam Industri Manufacture...

Monday, February 25, 2013

Berakhirnya sebuah Generasi di Industri Manufacture

Generasi ini secara sadar maupun tidak mengikuti faham  “Status Quo” … maju tidak mundurpun tidak. Awalnya saya berfikir kelompok ini didominasi oleh orang-orang tua, lama dan dianggap senior diperusahaan. Meskipun tidak selalu, akhirnya saya berhipotesa ini benar.
Berakhirnya sebuah Generasi di Industri Manufacture...

Tuesday, February 19, 2013

Analisa Terbakarnya Komponen Electric pada Compressor


Minggu lalu  seorang teman memberi kabar jika salah satu compressor udara  50 HP milik perusahaannya terbakar.  Teman saya ini  ingin share dan memastikan, apakah system safety kompresor udara merk 'XYZ' miliknya  masih aman? Dan, saya coba yakinkan bahwa design  rangkaian electric  pada mesin – mesin yang mendapatkan ijin  untuk diperjual belikan, sudah pasti  system safety electrical sudah diperhitungkan dan aman. Tentunya sepanjang tidak ada modifikasi yang aneh-aneh dari users. 

Untuk jelasnya, Saya minta teman ini mengirim  foto-foto nya. Anda bisa lihat juga  pada gambar dibawah. Bisa anda perhatikan tanda-tanda terbakar disana ?


Analisa Terbakarnya Komponen Electric pada Compressor...

Thursday, February 07, 2013

Selamat Jalan Prof. Sjafri Mangkuprawira

http://ronawajah.wordpress.com/tentang-tb-sjafri-mangkuprawira/

Satu lagi orang baik telah meninggalkan kita. 
Saya pikir salah satu yang terbaik dibidangnya. 

6 January 2013 ... 
Sulit bagi saya untuk percaya. Bahkan perlu beberapa detik  untuk menyadari bahwa  berita ini benar. 
Prof.  Sjafrie  telah tiada

Saya bersyukur, Tuhan begitu baik beri saya kesempatan untuk  pernah mengenal anda.  

Terima kasih Prof ...
Dedikasi, semangat, pikiran dan Cita-cita anda menjadi inspirasi bagi Saya. 


Selamat Jalan Prof. Sjafri Mangkuprawira...

Sunday, January 27, 2013

Bekerja di Pabrik itu Menyenangkan



Pendahuluan
Sebelum jauh, saya coba gali informasi mengenai perusahaan-perusahaan favorite fresh graduate di Indonesia. Berdasarkan survey yang dilakukan majalah warta ekonomi, yang dilakukan pada periode Oktober – November 2010, yang melibatkan 1590 responden di wilayah Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, berikut 10  besar perusahaan “idaman” di Indonesia dari urutan pertama hingga sepuluh, [1] PT Pertamina (Persero), [2] PT Astra International Tbk, [3] PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), [4] PT Bank Central Asia Tbk (BCA), [5] PT Unilever Indonesia Tbk, [6] PT Garuda Indonesia, [7] PT Indosat Tbk, [8] PT Bank Mandiri Tbk, [9] Chevron IndoAsia Business Unit, [10] PT Medco Energi International Tbk.
Bekerja di Pabrik itu Menyenangkan...

Sunday, January 20, 2013

Belajar dari Tragedi Tsunami Plaza UOB Jakarta






Foto dan vidio yang beredar di internet  ini  memberikan gambaran yang sangat mengerikan. Hampir tidak terbayangkan sebuah gedung mewah di pusat ibu kota tak berdaya melawan ganasnya alam. Lelah rasanya berpolemik apakah ini bencana alam, atau karena ulang manusia. Dalam hitungan detik, kita tersadar bahwa hasil karya manusia setinggi apapun tingkat keamanannya tetap tidak akan (pernah) berdaya melawan alam....Pray for Jakarta


Saya coba mengurai  bencana ini dari sisi teknis, karena bagaimanapun saya masih penasaran, adakah kesalahan konstruksi di Plaza UOB ini. Hari ini saya buka web site Thamrin Nine untuk coba mengenal lebih dekat, tapi tidak bisa diakses. Ok, meskipun tidak cukup informasi saya akan coba gambarkan kejadian ini  sehingga bisa kita tarik hipotesanya.
Belajar dari Tragedi Tsunami Plaza UOB Jakarta...