Pages

Tuesday, February 17, 2026

UJI COBA PENDARATAN PESAWAT TEMPUR DI JALAN TOL : APAKAH SEKEDAR PROPAGANDA ?

 


Kali ini kita berdiskusi ringan saja ya. Berita ini saya kutip, dari Kompas

TNI Angkatan Udara berhasil melakukan uji coba pendaratan dan lepas landas darurat menggunakan pesawat tempur di ruas Jalan Tol Trans-Sumatera, Kabupaten Mesuji, Lampung, Rabu (11/2/2026). Uji coba tersebut melibatkan dua jenis pesawat tempur, yakni F-16 Fighting Falcon dan EMB-314 Super Tucano

Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto menyampaikan, keberhasilan uji coba tersebut merupakan tonggak sejarah dalam sistem pertahanan Indonesia. Pemanfaatan infrastruktur sipil seperti jalan tol untuk operasi militer adalah implementasi nyata dari doktrin Sistem Pertahanan Semesta sesuai Pasal 27 dan 30 UUD 1945.

Saya heran dan tergelitik untuk menanggapi isi berita ini.

Pertama, Jika langkah ini memiliki nilai strategis tinggi bagi Angkatan Bersenjata kita, kenapa di ekspos lewat pemberitaan secara masif ? Bukankah pemberitaan ini akan menghilangkan nilai strategis dari rencana ini sendiri ? Atau memang langkah ini sengaja di ekspos agar "Yang berwewenang" mendapatkan pengakuan dari masyarakat dan atasan ?

Kedua, Panjang ruas tol yang digunakan yaitu Km.228 - 231, kurang lebih 3000 meter. sudah memenuhi bagi F-16 dan Sukhoi untuk melakukan pendaratan, tentunya dengan apilakasi aspal dengan spesifikasi teknis khusus. Jika ini benar untuk pendaratan pesawat, kok saya tidak melihat adanya fasilitas pendukungnya ? Seperti misalnya :

* Posko logistic ( area penyimpanan bahan bakar, amunisi, dan mobile tower )

* Apron dan Taxiway Darurat. Bukannya aneh, kalau pesawat setelah mendarat berjajar di sepanjang badan jalan dan terekspose dari udara. Bukankah pesawat dalam situasi darurat harus terkamuflase.

* Fasiltas Turn-Arround berbentuk "U" di ujung landasan, yang memunkinkan pesawat memutar balik dengan aman,  karena setahu saya pesawat memiliki radius putar yang cukup lebar. 

Saya coba perhatikan di vidio yang beredar, tapi tidak melihat sarana pendukung yang saya maksud.  Jika pembangunan fasilitas - fasilitas pendukung ini, dilakukan setelah hasil uji coba dinyatakan sukses. tetapi dari Press Conference setelah uji coba, sama sekali tidak dibahas tindak lanjut mengenai pengadaan fasilitas pendukung, jadi penggunaan jalan raya untuk memang hanya difokuskan untuk menjadi "run way" .  Pertanyaannya, jika hanya difungsikan sebagai run way tanpa adanya fasiltas pendukung, apakah rencana ini dapat dijalankan ?

Apa yang menjadi pertanyaan ini bukan berarti saya memahami strategi militer, saya hanyalah warga sipil biasa, ini hanya "common sense" saja, Semoga ini tidak menjadi sekedar "tontonan" dan  propaganda untuk menarik perhatian masyarakat dan atasan, dengan menggunakan  uang negara. 

Ah ... sudahlah, biarlah nanti waktu yang akan membuktikannya. 



No comments:

Post a Comment