PENDAHULUAN
Logistik &
Invemtory menjadi topik yang hangat tahun-tahun belakangan ini. Perkembangan
ekspedisi – ekpedisi baru begitu pesat, dalam memenuhi permintaan pengiriman
barang untuk kebutuhan industri maupun retail, mencakup dalam & luar kota,
hingga antar pulau dan negara. Disamping Logistik ada saudara kandungnya, yaitu
Inventory, yaitu penyimpanan. Perkembangan transaksi dalam negeri, eksport,
maupun import, mendorong pertumbuhan usaha pergudangan. Kita tidak perlu ambil
contoh usaha pergudangan sebagai efek dari usaha export import. Kita lihat
pembangunan ibu Kota Negara ( IKN ) dimana pembangunan fisiknya dimulai pada
bulan Juli 2022. Satu hal yang mungkin terlewat dari perhatian media, yaitu
pertumbuhan usaha pergudangan di area sekitar pelabuhan transit. Dengan skala
pembangunan yang begitu besar, mulai dari barang untuk pembangunan, dan sarana
penunjang. Dari semen hingga kebutuhan
pembersih untuk usaha loundry. Barang-barang dengan jumlah yang begitu besar,
perlu adanya pengelolaan, mulai dari penerimaan, penempatan, hingga penyaluran.
Disinilah peranan Per gudangan, atau yang dalam pembahasan ini kita sebut
sebagai Inventory.
LOGISTIK & INVENTORY SEBAGAI BAGIAN DARI
SCM
Kita
batasi ruang lingkup pembicaraan kita kali ini dalam scope Industri. Karena
berhubungan dengan pengelolaan pergerakan dan penimpanan barang, maka pokok
bahasan akan lebih spesifik lagi ddi Industri Manufacture.
SCMatau Suplay Chain Management, merupakan payung induk dari 2 pokok bahasan kita
kali ini. Jadi kurang afdol jika kita tidak menyinggung sedikit mengenai ini. Berikut
definisi SCM Menurut Para Ahli
1. Council of Supply Chain
Management Professionals (CSCMP)
CSCMP adalah organisasi profesional
global yang menjadi standar dalam industri ini. Mereka mendefinisikan SCM
sebagai:
"Manajemen rantai pasok
mencakup perencanaan dan manajemen semua aktivitas yang terlibat dalam
pencarian sumber (sourcing), pengadaan (procurement), konversi, dan semua
kegiatan manajemen logistik. Yang terpenting, ini juga mencakup koordinasi dan
kolaborasi dengan mitra saluran, yang dapat berupa pemasok, perantara, penyedia
layanan pihak ketiga, dan pelanggan."
2. Heizer & Render (Pakar Operasi)
Dalam buku Operations Management,
mereka mendefinisikan SCM sebagai:
"Integrasi aktivitas yang
menyuplai bahan baku ke dalam barang jadi dan mendistribusikannya ke tangan
konsumen melalui sistem distribusi."
3. Handfield & Nichols
Mereka menekankan pada integrasi
informasi:
"SCM adalah integrasi dan
manajemen dari aktivitas rantai pasok dan hubungan antar organisasi melalui
hubungan organisasi yang kooperatif, proses bisnis yang efektif, dan berbagi
informasi tingkat tinggi untuk menciptakan rantai nilai yang menghasilkan
keunggulan kompetitif."
Meskipun
kata-katanya berbeda, semua ahli sepakat bahwa SCM bukan sekadar memindahkan
barang, melainkan tentang integrasi
tiga aliran utama:
- Aliran Barang: Dari bahan mentah ke konsumen.
- Aliran Informasi: Prediksi permintaan, status
pengiriman, dan inventaris.
- Aliran Finansial: Pembayaran, termin kredit, dan
pengaturan hak kepemilikan.
Untuk
menjalankan rantai pasok yang mulus, ada lima tahapan inti yang biasanya
dilewati:
- Perencanaan
(Planning): Menentukan strategi untuk
memenuhi kebutuhan pelanggan, mulai dari prediksi jumlah permintaan hingga
rencana penghematan biaya.
- Pencarian
Sumber (Sourcing): Memilih pemasok (supplier)
yang menyediakan bahan baku berkualitas dengan harga dan waktu pengiriman
terbaik.
- Produksi
(Manufacturing): Proses mengubah bahan mentah
menjadi produk jadi, termasuk pengujian kualitas dan pengemasan.
- Pengiriman
(Delivery/Logistics): Mengatur koordinasi pesanan,
penjadwalan pengiriman, hingga transportasi barang ke pelanggan.
- Pengembalian
(Returning): Menangani produk yang cacat
atau retur dari pelanggan (sering disebut reverse logistiks).
Jadi, kita bayangkan
SCM sebagai sebuah "orkestra" yang memastikan semua pemain (pemasok,
pabrik, gudang, dan kurir) bekerja harmonis agar produk sampai tepat waktu
tanpa biaya yang membengkak. Di era digital sekarang, SCM bukan lagi sekadar
soal truk dan gudang, tapi juga soal data.
Penggunaan AI dan analitik membantu perusahaan memprediksi tren pasar bahkan
sebelum konsumen melakukan klik "beli".
Apa sih manfaat
SCM ? Kita lihat beberapa yang utama, diantaranya :
· Efisiensi Biaya: Mengurangi pemborosan di
gudang dan memangkas biaya transportasi yang tidak perlu.
· Kepuasan Pelanggan: Memastikan barang tersedia
saat dibutuhkan dan sampai tepat waktu.
· Keunggulan Kompetitif: Perusahaan yang bisa
bergerak lebih cepat dengan biaya lebih rendah akan memenangkan pasar.
· Mitigasi Risiko: Membantu perusahaan siap
menghadapi gangguan (misalnya kelangkaan bahan baku atau keterlambatan
pengiriman).
Apakah implikasi
dalam struktur organisasi perusahaan ? Dengan lingkup tugas SCM yang begitu
besar, beberapa perusahaan menempatkan, beberapa departemen, yang biasanya
terpisah , menjadi terintegrasi berada dibawah koordinasi Departemen SCM ,
yaitu : Procurement atau Purchasing , Production Planning Inventory Control (
PPIC ), Ware House ( Gudang ),serta Logistik & Distribusi.
HUBUNGAN
LOGISTIK & INVENTORY
Ok,
mari kita lebih dalam menuju pembahasan, yakni Logistik & Inventory.
Secara struktural mereka adalah
satu kesatuan (logistik), namun secara fungsi mereka adalah dua disiplin yang berbeda.
Dalam
dunia profesional, Inventory
(Persediaan) adalah bagian inti dari Logistik. Jika logistik adalah tubuhnya, maka inventory adalah
"darah" yang mengalir di dalamnya.
Berikut
adalah penjelasan lebih detail mengenai hubungan keduanya:
Hubungan
"Bagian dan Keseluruhan"
Secara
akademis dan praktis, Logistik adalah payung besar yang menaungi
beberapa aktivitas. Aktivitas tersebut meliputi:
- Transportasi
(Pemindahan barang).
- Pergudangan
(Tempat barang).
- Manajemen Inventory (Pengelolaan jumlah barang).
- Pengemasan
dan Administrasi.
Jadi,
Anda tidak bisa menjalankan logistik tanpa mengelola inventory, dan Anda tidak
punya inventory jika tidak ada proses logistik untuk memindahkannya.
Perbedaan
Fokus (Kapan Mereka Terlihat Terpisah?)
Meski
bersatu, keduanya sering dikelola oleh tim yang berbeda karena fokusnya
berbeda:
Ada
istilah dalam manajemen yang disebut "Trade-off"
antara Logistik dan Inventory. Keduanya saling memengaruhi biaya satu sama
lain:
- Contoh 1: Jika Anda ingin biaya Logistik (transportasi) murah,
Anda mungkin akan mengirim barang dalam jumlah besar sekaligus menggunakan
kapal laut. Dampaknya? Anda
akan punya Inventory yang
menumpuk banyak di gudang.
- Contoh 2: Jika Anda ingin Inventory di gudang sesedikit
mungkin (agar hemat tempat), Anda harus sering-sering mengirim barang
dalam jumlah kecil. Dampaknya?
Biaya Logistik
(transportasi) akan membengkak karena frekuensi pengiriman yang tinggi.
Lantas,di Mana keduanya Bertemu? Titik temu paling nyata antara
Logistik dan Inventory ada di Gudang
(Warehouse).
- Logistik mengatur bagaimana barang
masuk dan keluar dari pintu gudang.
- Inventory mengatur catatan berapa banyak
barang yang tersisa di dalam rak gudang tersebut.
LOGISTIK
Jika
SCM adalah "arsitek" yang merancang seluruh bangunan, maka Logistik adalah "tukang dan
armada" yang memastikan material berpindah dan sampai ke lokasi yang
tepat. Logistik didefinisikan sebagai
bagian dari proses rantai pasok yang merencanakan, melaksanakan, dan
mengendalikan aliran barang, layanan, dan informasi secara efisien dari titik
asal ke titik konsumsi.
7
Aspek Utama Logistik (7R)
Dalam
dunia profesional, logistik dianggap berhasil jika memenuhi prinsip 7R:
- Right
Product (Produk yang benar)
- Right
Quantity (Jumlah yang tepat)
- Right
Condition (Kondisi yang baik)
- Right Place
(Tempat yang tepat)
- Right Time
(Waktu yang tepat)
- Right
Customer (Pelanggan yang benar)
- Right Price
(Harga/biaya yang sesuai)
Kegiatan
logistik bukan hanya soal menyetir truk. Berikut adalah elemen-elemen
kritikalnya:
1. Transportasi (Manajemen Armada)
Ini
adalah wajah paling terlihat dari logistik. Melibatkan pemilihan moda
transportasi (darat, laut, udara, atau kereta api) berdasarkan kecepatan,
biaya, dan jenis barang.
2. Pergudangan (Warehousing)
Bukan
sekadar tempat menyimpan barang, tapi juga mencakup:
·
Penerimaan:
Mengecek barang yang masuk.
·
Penyimpanan:
Menata barang agar mudah dicari (menggunakan sistem rak/pallet).
·
Cross-docking:
Proses bongkar muat langsung dari truk masuk ke truk keluar tanpa disimpan lama
di gudang.
3. Manajemen Inventaris (Inventory
Management)
Memastikan
stok barang selalu tersedia sesuai kebutuhan tanpa terjadi penumpukan yang
memakan modal kerja. Ini berkaitan erat dengan pencatatan data yang akurat.
4. Pengemasan (Packaging)
Logistik
harus memastikan barang dikemas dengan standar yang aman untuk perjalanan jauh
(misal: penggunaan bubble wrap, kayu palet, atau kontainer
berpendingin).
5. Penanganan Barang (Material
Handling)
Penggunaan
alat seperti forklift, conveyor, atau robot otomatis untuk
memindahkan barang di dalam area kerja guna meminimalkan kerusakan.
Jenis-Jenis Logistik Berdasarkan Arah Aliran
Logistik
dibagi menjadi tiga kategori utama berdasarkan alirannya:
- Inbound
Logistics (Logistik Masuk): Proses membawa bahan baku atau
suku cadang dari pemasok ke pabrik/perusahaan.
- Outbound
Logistics (Logistik Keluar): Proses mengirimkan produk jadi
dari gudang perusahaan ke distributor, toko, atau konsumen akhir.
- Reverse
Logistics (Logistik Balik): Proses penanganan barang yang
dikembalikan oleh pelanggan (retur), baik karena kerusakan, klaim garansi,
atau daur ulang.
Elemen
Logistik, dalam keseluruhan operasi perusahaan menempati posisi yang sanagt
penting, sama halnya dengan performance produksi, dan performance menjual (
marketing ). Dalam sejaran Perang Dunia ke-2, Jerman tidak akan dapat menguasai
Eropa, jika tidak diimbangi dengan kemampuan dalam aspek Logistik.
Taktik Blitzkrieg (secara harfiah berarti "perang
kilat") adalah doktrin militer yang mengandalkan kecepatan,
kejutan, dan pemusatan kekuatan yang luar biasa untuk melumpuhkan lawan sebelum
mereka sempat membangun pertahanan yang stabil.
Taktik ini pertama kali mengguncang dunia
saat Invasi Polandia (1939) dan mencapai puncaknya
dalam Kejatuhan Prancis (1940), di mana tentara
Prancis yang besar dikalahkan hanya dalam hitungan minggu. Pada prinsipnya,
gerakan maju dengan sangat cepat ini, tidak akan berjalan jika dukungan
logistik lebih lambat pergerakannya seperti
suplai amunisi, ransum makanan, perlengkapan medis, bahan bakar. Ini
terjadi saat jerman menyerang Rusia, dengan kode oprasi barbarossa ( 1941-1945
) mengalami kegagalan dan berbalik menjadi kekalahan, saat peralatan tempur
Jerma tidak mendapat dukungan suplay bahan bakar, amunisi, dan pakaian musim
dingin akibat jarak tempur yang terlalu jauh, infrastruktur buruk, dan musim
dingin ekstrem yang membekukan mesin.
Begitu pula cerita yang menjadi legenda yang
diukir oleh pihak sekutu, dibawah pimpinan Jenderal
George S. Patton Jr. selama Perang Dunia II, terutama saat memimpin Angkatan
Darat Ketiga AS (Third Army). Strateginya berfokus pada serangan agresif yang
tidak henti-hentinya untuk membuat musuh panik dan kehilangan inisiatif.Untuk
mendukung serangan, Divisi Logistik Sekutu, menciptakan Red
Ball Express yang menjadi salah satu kunci kemenangan Sekutu atas
Jerman di Perand Dunia ke-2.
Red Ball Express adalah sistem
konvoi truk logistik masif yang dijalankan Sekutu selama 83 hari (25 Agustus -
16 November 1944) pasca-D-Day di Prancis, mengirimkan bahan bakar, amunisi, dan
perbekalan ke garis depan. Dipelopori oleh 73% pengemudi kulit hitam
(African-American), ribuan truk beroperasi 24 jam non-stop melalui rute khusus
bertanda bola merah, yang berhasil mengirimkan lebih dari 400.000 ton pasokan
untuk mendukung kecepatan gerak maju pasukan Sekutu.
INVENTORY
Dalam kacamata Supply Chain Management, Inventory atau persediaan adalah stok barang yang disimpan oleh perusahaan untuk memenuhi permintaan pelanggan atau kebutuhan produksi di masa depan.
Satu
hal penting yang harus menjadi pemahaman dasar, yaitu Inventory adalah "Uang
yang Menganggur" karena barang tersebut memiliki nilai
tunai yang terjebak di gudang hingga akhirnya terjual atau digunakan. Dengan
pemahaman ini, penanggung jawab gudang atau inventory memiliki beban tanggung
jawab, untuk memutar secepatnya barang di gudang untuk menjadi uang. Misalnya
dengan dengan memperkuat akurasi pendataan barang ang tersimpan, dan mempersingkat
lead time persiapan barang yang akan didistribusikan.
Memiliki
stok itu mahal. Ada tiga biaya yang harus dikelola, yaitu :
1.
Holding Costs
(Biaya Simpan): Sewa gudang, listrik, asuransi, dan gaji staf
gudang.
2. Ordering Costs (Biaya Pesan): Biaya administrasi setiap kali memesan barang
ke supplier.
3. Stockout Costs (Biaya Kehabisan Stok): Kerugian karena kehilangan penjualan atau
denda karena gagal memenuhi kontrak pelanggan.
Perlu diingat, biaya-biaya yang muncul ini bukanlah
biaya langsung. Ini termasuk biaya langsung, bahkan berpotensi menjadi biaya
overhead. Saat tingkat produksi dan penjualan menurun, Biaya penyimpanan tidak
bisa menyesuaikan. Pengelolaan yang tidak tepat, biaya penyimpanan berpotensi memberikan
beban pada keuangan perusahaan.
Jenis-Jenis
Inventory
Berdasarkan tahapan produksinya, inventory dibagi menjadi
empat kategori utama:
· Raw Materials
(Bahan Baku): Barang mentah yang belum diproses (misal: kayu untuk
pabrik furnitur).
· Work-in-Process (WIP/Barang Setengah Jadi): Barang yang sedang dalam
tahap produksi tetapi belum selesai (misal: kerangka kursi yang belum dicat).
· Finished Goods (Barang Jadi): Produk siap jual yang menunggu untuk dikirim
ke pelanggan.
· MRO (Maintenance, Repair, and Operations):
Barang pendukung yang tidak menjadi bagian dari produk, tapi diperlukan untuk
menjalankan bisnis (misal: oli mesin pabrik, alat tulis kantor, baut cadangan).
Fungsi
Utama Inventory
Mengapa perusahaan harus menyimpan stok dan tidak
membelinya saat butuh saja? Ada tiga alasan utama:
1.
Decoupling
(Pemisahan): Memisahkan proses produksi dari fluktuasi pasokan bahan
baku agar pabrik tidak berhenti beroperasi jika pemasok terlambat.
2. Antisipasi
Permintaan: Menjaga stok agar siap menghadapi lonjakan pesanan
mendadak (misal: saat Lebaran atau Harbolnas).
3.
Economies of Scale:
Memungkinkan perusahaan membeli barang dalam jumlah besar untuk mendapatkan
diskon harga (bulk discount)
dan menghemat biaya kirim.
Metode
Pengelolaan Inventory (Aliran Barang)
Cara Anda mengeluarkan barang dari gudang sangat menentukan
keuntungan dan akurasi pajak:
· FIFO (First-In,
First-Out): Barang yang pertama masuk adalah yang pertama keluar.
Cocok untuk barang yang punya masa kedaluwarsa (makanan, obat-obatan).
· LIFO (Last-In,
First-Out): Barang yang terakhir masuk justru dikeluarkan lebih dulu.
(Jarang digunakan sekarang dan dilarang dalam standar akuntansi IFRS/PSAK
tertentu).
· FEFO (First-Expired,
First-Out): Barang dengan tanggal kedaluwarsa terdekat harus keluar
lebih dulu, tanpa memedulikan kapan barang itu datang. Biasanya, barang-barang
ini memiliki masa kadaluwarsa yang tidak bisa di tolerir, seperti bahan
makanan.
Teknik Pengendalian Stok
Agar gudang tidak penuh sesak tapi juga tidak kehabisan
barang, manajer inventory menggunakan teknik berikut:
· ABC Analysis:
Mengelompokkan barang berdasarkan nilai investasinya.
o Kelas A: Barang mahal, jumlah sedikit,
pengawasan sangat ketat.
o Kelas B: Barang menengah.
o Kelas C: Barang murah, jumlah banyak,
pengawasan longgar.
· Economic Order
Quantity (EOQ): Rumus matematika untuk menentukan jumlah
pesanan paling optimal agar biaya pesan dan biaya simpan berada di titik
terendah.
· Safety Stock (Stok Pengaman):
"Cadangan darurat" yang disimpan untuk mengantisipasi jika ada
keterlambatan pengiriman dari vendor atau lonjakan permintaan yang tak terduga.
· Just-In-Time (JIT):
Strategi ekstrem di mana perusahaan hampir tidak punya inventory; barang datang
tepat saat akan masuk ke mesin produksi. Ini butuh koordinasi SCM yang sangat
canggih. Bukan hanya canggih, perusahaan harus memiliki nilai tawar yang sangat
tinggi terhadap suplier. Hingga suplier, “mau” memenuhi kebutuhan suplay sesuai
permintaan. Misal dengan kebijakan harga relatif tinggi, dan Minium Order
Quantity ( MOQ ) yang cukup besar dan stabil dalam periode panjang.
PENUTUP
Logistik
dan Inventory adalah satu kesatuan
fungsional. Di perusahaan kecil, keduanya biasanya dikelola oleh satu
orang yang sama. Di perusahaan besar, mereka mungkin menjadi departemen yang
berbeda (namun tetap di bawah koordinasi Manajer SCM) agar ada spesialisasi dalam menekan biaya.






No comments:
Post a Comment