Sejak digunakan pertama kali oleh Toyota, berapa banyak manufacture indonesia yang telah menerapkannya dalam Line proses telah menikmati hasilnya ? Jika perusahaan anda menjadi salah satu yang berhasil saya ucapkan selamat, bagi yang belum juga menikmatinya, teruslah bekerja keras untuk mewujudkannya.
Monday, July 09, 2012
Memahami Just In Time (JIT)
Sejak digunakan pertama kali oleh Toyota, berapa banyak manufacture indonesia yang telah menerapkannya dalam Line proses telah menikmati hasilnya ? Jika perusahaan anda menjadi salah satu yang berhasil saya ucapkan selamat, bagi yang belum juga menikmatinya, teruslah bekerja keras untuk mewujudkannya.
Label:
Knowledge
Saturday, July 07, 2012
KOMPETENSI (Competency)
Dalam lingkungan Human Resources, “Kompetensi” merupakan salah satu kata yang paling sering
disebut. Sebelum kita berbicara lebih banyak lagi mengenai kata ini, saya akan
awali dengan pertanyaan “ Apa pengertian Kompetensi ?”.
Berikut
ini bebeapa pengertian dari Kompetensi.
1. Kompetensi adalah suatu kemampuan untuk
melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi atas ketrampilan dan pengetahuan serta
didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut .
2. Kompetensi merupakan karakteristik individu yang
mendasari kinerja atau perilaku ditempat kerja.
3. Kompetensi merupakan landasan dasar
karakteristik orang dan mengindikasikan cara berperilaku atau berpikir,
menyamakan situasi, dan mendukung untuk periode waktu yang lama ( Spencer dan
Spencer,1993:9 )
4. Kompetensi sebagai kemampuan seseorang untuk
menghasilkan pada tingkat memuaskan di tempat kerja.
Secara
garis besar, Kompetensi menjelaskan apa
yang dilakukan orang di tempat kerja pada berbagai tingkatan dan memperinci
standard masing – masing tingkatan, mengidentifikasi karakteristik pengetahuan
dan ketrampilan yang diperlukan individual yang memungkinkan menjalankan tugas dan tanggung jawab secara
efektif sehinggga mencapai standard
kualitas profesional dalam bekerja.
Label:
Knowledge
Tuesday, July 03, 2012
PROMOSI ( Promotion )
1. Pengertian Promosi
Siagian
(2006)[1]
menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan promosi ialah apabila seorang pegawai
dipindahkan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain yang tanggung jawabnya lebih
besar, tingkatannya dalam hierarki jabatan lebih tinggi dan penghasilannya pun
lebih besar pula. Setiap pegawai mendambakan promosi karena dipandang sebagai
penghargaan atas keberhasilan seseorang menunjukkan prestasi kerja yang tinggi
dalam menunaikan kewajibannya dalam pekerjaan dan jabatan yang dipangkunya
sekarang, sekaligus sebagai pengakuan atas kemampuan dan potensi yang
bersangkutan untuk menduduki posisi yang lebih tinggi dalam organisasi. Promosi
dapat terjadi tidak hanya bagi mereka yang menduduki jabatan manajerial, akan
tetapi juga bagi mereka yang pekerjaannya bersifat teknikal dan non manajerial.
Label:
Knowledge
Saturday, June 23, 2012
Kepuasan Kerja ( Job Satisfaction )
1. Pengertian Kepuasan Kerja
Menurut Hasibuan (2007) Kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Kepuasan kerja (job statisfaction) karyawan harus diciptakan sebaik-baiknya supaya moral kerja, dedikasi, kecintaan, dan kedisiplinan karyawan meningkat. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi kerja. Kepuasan kerja dinikmati dalam pekerjaan, luar pekerjaan, dan kombinasi dalam dan luar pekerjaan. Kepuasan kerja dalam pekerjaan adalah kepuasan kerja yang dinikmati dalam pekerjaan dengan memperoleh pujian hasil kerja, penempatan, perlakuan, peralatan, dan suasana lingkungan kerja yang baik. Karyawan yang lebih suka menikmati kepuasan kerja dalam pekerjaan akan lebih mengutamakan pekerjaannya daripada balas jasa walaupun balas jasa itu penting (1).
Label:
Atitude
Saturday, June 16, 2012
Kualitas Produk
Salah satu nilai utama yang diharapkan oleh pelanggan dari produsen adalah kualitas produk dan jasa yang tertinggi. Menurut American Society for Quality Control[1], kualitas adalah keseluruhan ciri serta sifat suatu produk atau pelayanan yang berpengaruh pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat.
Menurut
Kotler[2]
: Kualitas produk adalah kemampuan suatu barang untuk memberikan hasil /
kinerja yang sesuai atau melebihi dari apa yang diinginkan pelanggan. Sedangkan Garvin yang dikutip oleh Gaspersz[3],
untuk menentukan kualitas produk, dapat dimasukkan ke dalam 6 (enam) dimensi, yaitu :
1. Performance; berkaitan
dengan aspek fungsional suatu barang dan merupakan karakterisitik utama yang
dipertimbangkan pelanggan dalam membeli barang tersebut.
2. Feature; karakteristik
sekunder atau pelengkap yang berguna untuk menambah fungsi dasar yang berkaitan
dengan pilihan-pilihan produk dan pengembangannya.
3. Reliability;
berkaitan dengan probabilitas atau kemungkinan suatu barang berhasil
menjalankan fungsinya setiap kali digunakan dalam periode waktu tertentu dan
dalam kondisi tertentu pula.
4. Conformance;
berkaitan dengan tingkat kesesuaian dengan spesifikasi yang ditetapkan
sebelumnya berdasarkan keinginan pelanggan. Kesesuaian merefleksikan derajat
ketepatan antara karakteristik desain produk dengan karakteristik kualitas
standar yang telah ditetapkan.
5. Durability ;
berkaitan dengan berapa lama suatu produk dapat digunakan.
6. Service Ability ;
karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan , kompetensi kemudahan dan
akurasi dalam memberikan layanan untuk perbaikan barang.
7. Aesthetic ;
karakteristik yang bersifat subyektif mengenai nilai-nilai estetika yang
berkaitan dengan pertimbangan pribadi dan refleksi dari preferensi individual.
8. Fit and Finish ;
karakteristik yang bersifat subyektif yang berkaitan dengan perasaan pelanggan
mengenai keberadaan produk sebagai produk yang berkualitas.
Pengertian kualitas sangat beraneka ragam. Menurut Boetsh
dan Denis yang dikutip oleh Fandy Tjiptono[4] : Kualitas
merupakan suatu kondisi
dinamis yang berhubungan dengan produk,jasa,manusia, proses dan lingkungan yang
memenuhi atau melebihi harapan. Pendapat diatas dapat dimaksudkan bahwa seberapa besar
kualitas yang diberikan yang berhubungan dengan produk barang beserta faktor
pendukungnya memenuhi harapan penggunanya. Dapat diartikan bahwa semakin
memenuhi harapan konsumen, produk tersebut semakin berkualitas.
Relevan dengan pendapat diatas, Clark[5] mendefinisikan kualitas
sebagai ” how consistenly the product or
service delivered meets or exceeds the customer’s (internal or eksternal)
expectation and needs” (seberapa konsisten produk atau jasa yang dihasilkan
dapat memenuhi pengharapan dan kebutuhan internal dan eksternal pelanggan).
Sedangkan Stevenson[6] mendefinisikan kualitas
sebagai ” the ability of a product or
service to consistently meet or exceed customer expectations” (kemampuan dari suatu produk atau jasa untuk
memenuhi atau melebihi harapan pelanggan).
Dengan kata lain, meskipun menurut produsennya, barang
yang dihasilkannya sudah melalui prosedur kerja yang cukup baik, namun jika
tetap belum mampu memenuhi standar yang dipersyaratkan oleh konsumen, maka
kualitas barang atau jasa yang dihasilkan oleh produsen tersebut tetap dinilai
sebagai suatu yang memiliki kualitas yang rendah. Disamping
harus mampu memenuhi standar yang dipersyaratkan oleh konsumen, baik buruknya
kualitas barang yang dihasilkan juga dapat dilihat dari konsistensi
keterpenuhan harapan dan kebutuhan masyarakat. Pernyataan ini menegaskan bahwa
kualitas tersebut hendaknya dinilai secara periodik dan berkesinambungan
sehingga terlihat konsistensi keterpenuhan standar diatas.
Dari beberapa teori diatas dapat disimpulkan bahwa
kualitas produk dapat menentukan kepuasan pelanggan yang berhubungan dengan
harapan dari pelanggan itu sendiri terhadap kualitas produk yang dirasakannya. Sedangkan
menurut Stevenson[7],
dimensi kualitas produk adalah sebagai berikut :
1.
Performance, hal ini berkaitan dengan aspek fungsional
suatu barang dan merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan
dalam membeli barang tersebut.
2.
Aesthetics, merupakan karakteristik yang bersifat
subyektif mengenai nilai-nilai estetika yang berkaitan dengan pertimbangan
pribadi dan refleksi dari preferensi individual.
3.
Special features, yaitu aspek performansi yang berguna untuk
menambah fungsi dasar, berkaitan dengan pilihan-pilihan produk dan
pengembangannya.
4.
Conformance, hal ini berkaitan dengan tingkat kesesuaian
terhadap spesifikasi yang ditetapkan sebelumnya berdasarkan keinginan
pelanggan.
5.
Reliability, hal ini yang berkaitan dengan probabilitas
atau kemungkinan suatu barang berhasil menjalankan fungsinya setiap kali
digunakan dalam periode waktu tertentu dan dalam kondisi tertentu pula.
6.
Durability, yaitu suatu refleksi umur ekonomis berupa
ukuran daya tahan atau masa pakai barang.
7.
Perceived Quality, berkaitan dengan perasaan pelanggan
mengenai keberadaan produk tersebut sebagai produk yang berkualitas.
8.
Service ability, berkaitan dengan penanganan pelayanan purna
jual, seperti penanganan keluhan yang ditujukan oleh pelanggan.
[1] Kotler, Philip. Marketing Management, 11th Edition.
Prentice Hall Int’l, New Jersey ,
2003, p.84
[2] Ibid, p.305
[3] Umar, Husein. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. PT Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta, 2003, hal.233
[4] Tjipto, Fandy,
2000.Strategi Pemasaran.Penerbit Andi Yogyakarta.Hal 57
[5] Clark, B.Consumer
Behaviour Online.WWW.Briclarke.Hostinguk.com.2000.Hal 5
[7] Stevenson, William J.2005.Operations Management 8th
ed.McGraw-Hill.Hal 386
Label:
Knowledge
Saturday, June 09, 2012
Kualitas Pelayanan
Pelayanan menurut
Lovelock[1] didefinisikan sebagai
kegiatan ekonomi yang menciptakan dan memberikan manfaat bagi pelanggan pada
waktu dan tempat tertentu, sebagai hasil dan tindakan mewujudkan perubahan yang
diinginkan dalam diri atau atas nama penerima jasa tersebut. Sedangkan
pengertian pelayanan menurut Kotler[2] yaitu setiap tindakan atau kegiatan
yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain pada dasarnya tidak
berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.
Jadi pelayanan dapat didefinisikan sebagai tindakan atau
kinerja yang menciptakan manfaat bagi pelanggan dengan mewujudkan perubahan
yang diinginkan dalam diri atau atas nama penerima. Sehingga pelayanan itu
sendiri memiliki nilai tersendiri bagi pelanggan dalam hubungannya dengan
menciptakan nilai-nilai pelanggan.
Christian Gronroos[3] mengemukakan bahwa terdapat empat
faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan, yaitu :
1. Menjaga dan memperhatikan ,
bahwa pelanggan akan merasakan karyawan dan sistem opersional yang ada dapat
menyelesaikan problem mereka.
2. Spontanitas, dimana karyawan
menunjukkan keinginan untuk menyelesaikan masalah pelanggan.
3. Penyelesaian masalah, karyawan
yang berhubungan langsung dengan pelanggan harus memiliki kemampuan untuk
menjalankan tugas berdasarkan standar yang ada, termasuk pelatihan yang
diberikan untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik.
4. Perbaikan, apabila terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan harus mempunyai personel yang dapat menyiapkan
usah-usaha khusus untuk mengatasi kondisi tersebut.
Menurut Tjiptono[4], ada 4 karakteristik pokok pelayanan
(jasa) yang membedakannya dengan barang , yaitu :
1.
Intangibility : tidak
ada bentuk fisiknya sehingga tidak dapat dilihat, oleh karena itu pemasar
menggunakan sejumlah alat untuk membuktikan kualitas pelayanan (jasa) yang
ditawarkan.
2.
Inseparability
: pelayanan (jasa) yang dijual tidak terpisahkan dari orang yang
memasarkan. Pelayanan (jasa)
diproduksi dan dikonsumsi pada saat yang bersamaan. Service provider (penyedia jasa) dan customer (pelanggan) akan bertemu secara langsung maupun tidak
langsung sehingga hal ini mempengaruhi kualitas pelayanan (jasa) dan karena itu
pula tidak dapat distandarisasi.
3.
Variability : pelayanan (jasa) yang beragam sangat tergantung
siapa yang menyajikan, oleh karena itu untuk dapat mengendalikan kualitas, PLN
melakukan seleksi yang ketat dan pelatihan yang tersistem bagi SDMnya,
menstandarisasi proses kinerja pelayanan (jasa) di seluruh internal PLN,
memonitor kepuasan pelanggan melalui survei atau kotak saran.
4. Perishability
: Karena sifatnya yang
tidak dapat disimpan, maka PLN harus mampu menjaga kontinuitas pasokan listrik
.
Menurut Zeitham1 dan Bitner[5], Kualitas pelayanan (jasa), adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan
pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan
pelanggan. Dengan demikian ada 2 faktor utama yang
mempengaruhi kualitas pelayanan (jasa), yaitu : expected service dan perceived
Service.Apabila pelayanan (jasa) yang diterima atau dirasakan (perceived service) sesuai dengan yang
diharapkan (expected service), maka
kualitas pelayanan (jasa) dipersepsikan baik dan memuaskan. Jika pelayanan
(jasa) yang diterima melampaui harapan pelanggan,maka kualitas pelayanan (jasa)
dipersepsikan sebagai kualitas yang ideal.Sebaliknya jika pelayanan (jasa) yang
di terima lebih rendah daripada yang di harapkan, maka kualitas pelayanan
(jasa) dipersepsikan buruk.Maka, baik tidaknya kualitas pelayanan (jasa)
tergantung pada penyedia pelayanan (jasa) dalam memenuhi harapan pelanggannya
secara konsisten.
Sepuluh faktor utama yang menentukan
kualitas kepuasan pelanggan (jasa) yang di kembangkan pertama kali pada tahun
1985 oleh Zeithaml, Berry dan Parasuraman[6]
meliputi 10 dimensi, yaitu :
1. Tangibles
; keberadaan fisik
pemberi pelayanan, meliputi tempat parkir, fasilitas gedung, tata letak dan
tampilan barang, kenyamanan fasilitas fisik, peralatan dan perlengkapan modern.
2. Reliability ; mencakup 2 hal pokok,yaitu konsistensi
kerja (performance) dan kemampuan
untuk dipercaya (dependability).Hal
ini berarti perusahaan memberikan pelayanan (jasa) nya secara tepat sejak saat
pertama (right in the firts time).Selain
itu juga berarti bahwa perusahaan yang bersangkutan memenuhi janjinya.
3. Responsiveness ; pelayanan yang baik harus disertai dengan
tingkat keikutsertaan /keterlibatan dan daya adaptasi yang tinggi, yaitu
membantu dengan segera memecahkan masalah.
4. Competence ; pelayanan yang baik harus di dasarkan
kepada kecakapan/keterampilan yang tinggi.
5. Access ;
meliputi memberikan/menyediakan keinginan
pelanggan dan pelayanan yang mudah dihubungi.
6. Courtesy ;
pelayanan yang baik harus disertai dengan sikap keramahan,
kesopanan kepada pihak yang dilayani.
7. Communication
; pelayanan yang baik harus didasarkan kepada kemampuan berkomunikasi yang
baik dengan pihak yang di layani.
8. Credibility
; pelayanan yang baik
harus dapat memberikan rasa kepercayaan yang tinggi kepada pihak yang di
layani.
9. Security ; pelayanan yang baik harus memberikan rasa
aman kepada pihak yang di layani dan membebaskan dari segala resiko atau
keragu-raguan pelanggan.
10. Understanding
The Customer ; pelayanan
yang baik harus didasarkan kepada kemampuan menanggapi atau rasa pengertian
kepada keinginan pihak yang dilayani.
Dalam pengembangan selanjutnya
pada tahun 1990, kualitas pelayanan (jasa) dikelompokkan ke dalam 5 dimensi
oleh Parasuraman et.all[7]
,yaitu :
1. Bukti Langsung (Tangible), yaitu : sebagai fasilitas yang dapat dilihat dan di
gunakan perusahaan dalam upaya memenuhi kepuasan pelanggan,seperti gedung
kantor, peralatan kantor, penampilan karyawan dan lain lain.
2. Kendala (Reliability), yaitu : kemampuan memberikan
pelayanan kepada pelanggan sesuai dengan yang di harapkan, seperti kemampuan dalam menempati janji, kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan untuk meminimumkan kesalahan.
3. Daya Tanggap (Responsiveness), yaitu sebagai sikap tanggap, mau mendengarkan dan
merespon pelanggan dalam upaya memuaskan pelanggan, misalnya : mampu memberikan
informasi secara benar dan tepat, tidak menunjukan sikap sok sibuk dan mampu
memberikan pertolongan dengan segera.
4. Jaminan (Assurance), yaitu :kemampuan karyawan dalam menimbulkan
kepercayaan dan keyakinan pelanggan melalui pengetahuan,kesopanan serta
menghargai perasaan pelanggan.
5. Kepedulian/Empati (Emphaty), yaitu : kemampuan atau kesediaan karyawan memberikan
perhatian yang bersifat pribadi, seperti bersikap ramah, memahami kebutuhan dan
peduli kepada pelanggannya.
Dalam 5 dimensi kualitas
pelayanan yang baru ini, dimensi Competence,Credibility dan Security dikelompokkan ke dalam dimensi Assurance, sedangkan dimensi Access,Courtesy,Communication
dan Understanding dikelompokkan ke
dalam dimensi Emphaty.
Sedangkan Zeithaml[8] menjelaskan bahwa kualitas
pelayanan berfokus terhadap evaluasi yang mencerminkan persepsi pelanggan dari
dimensi yang spesifik tentang pelayanan. Dan juga bahwa kualitas pelayanan
merupakan komponen daripada kepuasan pelanggan. Dalam hal ini bahwa kualitas
pelayanan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan, seperti
yang terlihat pada gambar dibawah ini.
Schiffman
dan Kanuk[9] menjelaskan bahwa pelayanan
merupakan suatu hal yang penting, sebab peningkatan daripada pelayanan itu
sendiri dapat meningkatkan kepuasan pelanggan dan pada waktu yang bersamaan
dapat meningkatkan keuntungan bagi perusahaan. Sedangkan Rangkuti[10]
menandaskan bahwa kualitas pelayanan merupakan salah satu faktor yang dapat
menentukan kepuasan pelanggan. Lebih lanjut Handi Irawan[11] menjelaskan bahwa kualitas
pelayanan merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong kepuasan pelanggan.
Jadi dari beberapa teori yang ada
kesimpulannya bahwa kualitas pelayanan merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi kepuasan pelanggan.Teori ini digunakan dalam penelitian
karena mampu mengakomodasi dan mewakili obyek-obyek kualitas produk dan
kualitas pelayanan dari produk yang di teliti.Pada pengembangan
selanjutnya,dimensi tersebut diangkat menjadi variabel dimana dari
variabel-variabel ini kemudian diurai menjadi dimensi-dimensi dan
indikator-indikatornya.
Kualitas Layanan Menurut Harapan Pelanggan (Customer
Expectation)
Sebelum
diuraikan lebih lanjut tentang pengertian harapan pelanggan, terlebih dahulu
penulis mengemukakan definisi tentang pelanggan, dimana yang dimaksud dengan
pelanggan menurut Francis Buttle[12] dalam konteks bisnis ke
bisnis (B2B), adalah sebuah organisasi perusahaan atau sebuah institusi,
sedangkan pelanggan dalam konteks bisnis ke konsumen (B2C) adalah konsumen
akhir, yakni seorang individu atau sebuah keluarga. Kualitas layanan harus dimulai dari
kebutuhan pelanggan dan berakhir pada harapan pelanggan. Hal ini berarti bahwa
citra kualitas yang baik bukan berdasarkan sudut pandang produsen, melainkan
berdasarkan sudut pandang harapan pelanggan. Lebih
lanjut Valarie A.Zeithaml dan Mary Jo Bitner[13]
mendefinisikan harapan pelanggan sebagai berikut ” Customer expectations are the standards of or reference points for
performance againts which service experiences are compared and are often
formulated in terms of what customer believes should or will happen”.
Artinya adalah bahwa harapan pelanggan merupakan standar acuan yang menjadi
petunjuk bagi pelanggan sebelum membeli suatu produk dalam menilai kinerja
produk tersebut.
1. Desired service
Suatu level yang merupakan harapan dari pelanggan mengenai pelayanan
yang mereka inginkan. Level ini merupakan perpaduan antara kepercayaan tentang
”yang diterima” (can be) dan ”yang seharusnya diterima”(should be).
2. Adequate service
Suatu tingkatan dimana pelanggan
akan menerima pelayanan. Dan juga pada level ini merupakan kemampuan dari pihak
manajemen untuk memberikan pelayanan kepada pelanggan. Dalam tingkatan ini
pelanggan akan mendapatkan pelayanan yang cukup.
[1] Lovelock,Christopher.2002.Service Marketing In
Asia.Prentice Hall Inc Singapore.Hal 5.
[2] Kotler,Philip.2003.Marketing Management, 11th
Edition.Prentice Hall.Inc.New Jersey . Hal 85
[3] Gronroos, C.1992.Service Management and
Marketing.Lexington Books.Massachusetts,Toronto
[4]Tjiptono, Fandy. Manajemen Jasa. Penerbita Andi Offset,
Yogyakarta , 2002, hal.25
[5] Zeithaml, Valarie A. and Bitner, Mary Jo. Service
Marketing. McGraw Hill Inc, Int’l Edition, New York , 2002, p.40
[6] Parasuraman, Valarie A. Z. and Berry . Delivering Service Quality. Mc Milan , New
York , 2002, p.21
[7] Op.cit, p.26
[8] Zeithaml,Valarie A and Bitner, M.J.2003.Service
Marketing.Tata McGraw-Hill.Hal 85
[9] Schiffman ,
Leon . G and
Kanuk, Leslie Lazar.2004.Consumer Behavior 8th edition. Pearson
Prentice Hall.Hal 191
[10] Rangkuti,Freddy.2002.Measuring Customer
Satisfaction.Gramedia Pustaka Utama.Hal 31
[11] Irawan,Handi.2002.10 Prinsip Kepuasan Pelanggan.Elex
Media Komputindo.Hal 38
[12] Buttle,Francis.2007.Customer Relationship
Management.Prentice Hall Inc.Hal 126
[13] Zeithaml,Valarie A and Bitner,M.J.2003.Service
Marketing.Tata McGraw-Hill.Hal 60
[14] Zeithaml,Valarie A and Bitner,M.J.2003.Service
Marketing.Tata McGraw-Hill.Hal 62
Label:
Knowledge
Saturday, June 02, 2012
The Power of "Malas"
" You know Dedy, I'm a lazyman. Everything must be easy to do. I'm not a hard worker ".
Teman Jerman saya yang katakan ini minggu lalu. Kebijakan perusahaan di beberapa bagian yang terkait dengan proses produksi ada beberapa dari Jerman untuk memastikan dari segi proses dan quality product sesuai standar Eropa.
Teman Jerman saya yang katakan ini minggu lalu. Kebijakan perusahaan di beberapa bagian yang terkait dengan proses produksi ada beberapa dari Jerman untuk memastikan dari segi proses dan quality product sesuai standar Eropa.
Label:
Skill
Saturday, May 26, 2012
Fear Management
“ ... Hampir empat kali enam puluh menit lamanya saya telah berdiri tegak, terjepit, tertopang oleh lautan manusia. Akan terbalaskah jerih payah saya ? Tetapi sekonyong-konyong berkumandang di luar tiupan beratur-ratus selompret. Lampu listrik dalam ruangan rapat padam dengan serentak, sedangkan dari atas menyorot beberapa biasancahaya kearah sebuah pintu yang sama tinggi letaknya dengan serambi tempat duduk dibawah sekali. Sebuah lampu sorot menyinari seorang laki-laki kecil, berpakaian coklat, kepala buka dan wajah tersenyum berseri-seri . Empat puluh ribu orang, empat puluh ribu tangan bangkit dengan serentak. Orang kecil tadi maju lambat – lambat sambil memberi salam dengan melambaikan tangannya perlahan-lahan seperti seorang uskup disambut oleh hadirin dengan seruan yang gemuruh dan berirama ; Heil Hitler! Sekarang saya dengar tak lain daripada sorak sorai orang-orang yang berdiri dekat saya, diiringi bunyi tepuk tangan yang memecahkan anak telinga.
Sambil melangkah lambat-lambat dan menyambut penghormatan yang diberikan kepadanya oleh para hadirin, berjalan ia selangkah demi selangkah, melalui sebuah jembatan kecil kearah mimbar yang sengaja disediakan untuknya. Perjalanan ke tempat duduknya memakan waktu lama sekali, tak kurang dari enam menit. ……Mereka berteriak bersama-sama secara berirama dan mengarahkan mata ke titik cahaya, kepada wajah yang tersenyum berseri-seri itu. Maka bercucuranlah air mata orang-orang itu dalam gelap. Sekonyong-konyong diam ( tetapi diluar kembali bergemuruh suara lautan manusia ). Laki –laki kecil telah menjulurkan tangannya kedepan sebagai suatu isyarat yang tegas, ia menengadah kelangit – dan dari serambi bawah berkumandang ke angkasa lagu “ Horst Wessel “
Barulah saya mengerti. Hal ini tak dapat lagi dipahami jika tidak disertai perasaan ngeri dan denyutan jantung yang berdebar, sedangkan alam pikiran masih tetap sadar. Perasaan saya pada ketika itu ialah apa yang dinamakan orang kekaguman yang mempesona …”
Denis de Rougemont dalam bukunya Journal de Allemange
Ini salah satu bentuk sugesti massa,
Label:
Knowledge
Thursday, May 17, 2012
Strategi Bisnis “Serba Tanggung”
Strategi Bisnis berfokus pada peningkatan posisi bersaing produk ( barang dan jasa ) dalam segmen pasar tertentu. Strategi bisnis mengatasi masalah bagaimana perusahaan dan unit-unitnya dapat bersaing dalam bisnis dan industri. Kenyataannya, mendesain strategi bisnis akan dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan berikut :
1. Haruskah bersaing dengan biaya rendah, atau melakukan diferensiasi ?
2. Haruskah bersaing secara langsung untuk pangsa pasar yang besar, atau hanya bermain di ceruk ?
Michael Porter memberikan alternatif dua strategi generik untuk mengungguli peusahaan tertentu, yaitu biaya rendah dan differensiasi. Untuk pasar yang luas/besar, maka strateginya dikenal degnan kepemimpinan biaya ( cost leadership) dan differensiasi. Sedang untuk pasar yang sempit/ceruk, dikenal dengan fokus biaya dan differensiasi terfokus.
Label:
Knowledge
Wednesday, April 25, 2012
Memahami Perhitungan Upah lembur (Overtime)
Label:
Knowledge
Subscribe to:
Posts (Atom)










