Pages

Monday, November 05, 2012

Dibalik Ricuh Demo 18 Oktober di PT. Panarub Dwikarya

sumber foto : Radar Tangerang
Sebelum membaca artikel ini, saya sarankan anda membaca terlebih dahulu artikel tautannya, saya publish pada tanggal 5 Agustus 2012, dengan judul “ Mengkritisi Demo Pekerja PT. Panarub Dwikarya “ di Link berikut :http://www.dedylondong.blogspot.com/2012/08/mengkritisi-demo-pekerja-pt-panarub.html. Ini menjadi artikel kedua yang menyoroti permasalahan hubungan industrial di PT. Panarub Dwikarya.

Nama Saya Dedy, bekerja sebagai operation manager di sebuah perusahaan plastic  untuk pasar lokal dan ekspor.  Jadi sudah pasti saat ini saya tidak memiliki hubungan struktural dengan PT. Panarub Dwikarya.

Kamis, 18 Oktober 2012, Pk. 14.00 saya mendengar kabar mengejutkan dari beberapa media on line. Panarub Dwikarya didemo ribuan buruh  dan berhasil masuk ke area pabrik. Sebagai praktisi manufacture, saya terus mengikuti perkembangan di PT.Panarub Dwikarya. Keputusan perusahaan untuk mem-PHK 1300 karyawan merupakan keputusan yang sangat berani dan penuh resiko. Jika anda membaca artikel yang saya maksud di alinea pertama tadi, Aksi demo 18 Oktober adalah yang terbesar sejak demo besar terakhir tanggal 17  July 2012. Semenjak itu demonstran hanya bisa mendekat dalam radius ± 100 meter dari pintu gerbang. Satu hal yang langsung terlintas dalam pikiran, pasti mayoritas demo kali ini didominasi laki-laki yang “sangat berani” hingga bisa “masuk dan menguasai area pabrik. Tentu ini perkembangan yang sangat menarik sejak hari pertama Demo tanggal 12 July 2012.

Ditengah kesibukan kerja, saya coba mendapatkan informasi-informasi valid untuk menggambarkan situasi saat ini. Ternyata banyak media yang kurang tepat dalam menggambarkan situasi yang sebenarnya.  Dalam banyak kasus terkait dengan hubungan industrial biasanya perusahaan yang menzolimi aktivis buruh, tapi dalam  kasus Panarub Dwikarya, situasinya menjadi  terbalik.

Kondisi Panarub Dwikarya Pasca Demo 12 July 2012
Sebagai Professional dalam Industri Manufacture, Saya ingin menyatakan bahwa PT. Panarub Dwikarya merupakan salah satu model  perusahaan padat karya terbaik di Indonesia. Panarub Dwikarya secara konsisten menerapkan kebijakan yang meliputi standard Kebijakan  Buyer dalam menghormati ketenaga kerjaan, kesehatan, keselamatan kerja dan lingkungan. standard ketenaga kerjaan yang harus dipatuhi diantaranya ; tidak boleh ada kerja paksa, tidak boleh ada pekerja anak, tdiak boleh ada deskriminasi, upah dan tunjangan, jam kerja, kebebasan berserikat dan perundingan bersama, dan praktek kedisiplinan. 

Anda tidak akan temui adanya karyawan berstatus  kontrak diperusahaan ini, karena memang mereka hanya mengenal karyawan dengan satu jenis status yaitu karyawan tetap, Jam Overtime yang terkontrol dengan ketat, kepatuhan pada negara sebagai kawasan berikat, program pengembangan karyawan, dan implementasi manajemen produksi pada batas maksimal, mereka menyebut dengan Line Balancing. Line Balancing merupakan bentuk dari Lean Manufacturing, yang memiliki prinsip dasar meminimalisir waste. Proses produksi mulai dari penyediaan material, loss, hasil produksi, dan lead time dihitung dengan detail dan sangat presisi.
Saya pikir model yang saya sebut terakhir inilah yang dianggap sebagai “kerja paksa” oleh para koordinator demo. Dari beberapa sumber, kalimat "kerja paksa" sering disebut dalam orasi saat demonstrasi. Jelas ini kesalahpahaman mendasar (basic missunderstanding) akibat kurangnya pengetahuan akan system manufacturing. Saat banyak aktivis demo menjadikan outsourcing dan tenaga kontrak sebagai issue utama. Panarub sudah melewati periode ini dan menuju pada kondisi yang jauh lebih baik.

Anda ingin bukti jika Panarub Dwikarya saya sebut salah satu model perusahaan terbaik di Indonesia? Berikut faktanya : 2 minggu setelah demonstrasi, hampir 80% karyawan berhasil direkrut untuk mengisi kekurangan personel di Line Produksi, memasuki bulan agustus, kebutuhan karyawan untuk semua divisi yang kurang sebagai akibat PHK massal 100% sudah terisi, full skill dan siap kerja (ready to work).  Tidak lebih dari dua hari  lowongan dibuka, ribuan  pelamar sudah antri. Ini adalah fakta bahwa Panarub Dwikarya masih menjadi perusahaan favorite para pencari kerja. Hampir tidak terlihat kesan perusahaan jahat, tidak manusiawi, dan berbagai sebutan negatif lainnya yang selama ini didengungkan oleh para pendemo.

Dampak langsung terjadinya demo terhadap kelangsungan produksi begitu besar. Dalam proses pemulihan , memasuki bulan september, kerugian sudah mencapai hitungan Milyar, yang terbesar berasal dari kebijakan mengirim lewat udara sebagai bentuk  komitmen perusahaan pada customer. Tidak cukup disitu, potensi-potensi kerugian yang berdampak besar juga terus membayang, diantaranya produktivitas dibawah normal sebagai akibat masih adaptasinya karyawan baru dengan sistem produksi atau biasa disebut dengan Rum up dan potensi kerugian akibat claim customer atau bahkan hilangnya order.

Pasca Demo, mulai pertengahan July 2012, proses produksi berangsur-angsur mulai stabil, bahkan  diperkirakan minggu kedua bulan oktober Panarub Dwikarya sudah pulih 100%. 
Namun apa boleh buat, peribahasa mengatakan " untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak" peristiwa 18 Oktober telah membuyarkan semua dan hampir membawa perusahaan kembali ke titik awal pemulihan. Kondisi ini  telah memberikan dampak luar biasa bagi perusahaan. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, sebuah ironi jika media memposisikan Panarub Dwikarya sebagai pihak yang harus disalahkan dalam masalah ini.

Serangan Massa terhadap Pekerja PT. Panarub Dwikarya
Melihat situasinya, tidak berlebihan kalau pada tanggal 18  Oktober lalu saya menggunakan kata “serangan Massa”. Dengan mengatas namakan sebuah organisasi serikat buruh, kita bisa melihat begitu brutalnya aksi ini. Dalam hati saya bertanya sendiri, apakah mereka ini pekerja Indonesia? Sejak MPBI ( Majelis Pekerja Buruh Indonesia ) menggalang aksi solidaritas buruh nasional tanggal 3 Oktober lalu, buruh menjelma menjadi kekuatan yang begitu kuat, solid dan terkendali. Pasca  aksi ini, simpati masyarakat terus mengalir. Namun dalam  vidio yang diup load di you tube berikut, tidak menggambarkan karakter buruh indonesia. Sepertinya bukan,  dan dengan terpaksa saya menggunakan kata “Massa”.


Dalam vidio kelompok massa yang sebagian besar berseragam mirip dengan salah satu serikat buruh ( berwarna biru ) mulai bergerombol dan menggulingkan barikade “Tong” di depan gerbang utama. Langkah mereka tertahan oleh barisan security yang di back up para pekerja pabrik Panarub Dwikarya. Kalah dalam jumlah, akhirnya massa berhasil mendesak masuk, melakukan banyak serangan fisik yang brutal terhadap para pekerja Panarub Dwikarya disertai dengan aksi perusakan, menurut informasi ada juga aksi pelecehan seksual terhadap pekerja wanita Panarub. Terlihat  di vidio, massa ini begitu terlatih dalam melakukan aksi kekerasan, hingga akhirnya polisi turun tangan untuk menenangkan situasi. 
Pekerja PT.Panarub Dwikarya, korban penyerangan
Pengrusakan Asset Perusahaan

Membela  Perusahaan Untuk Kelangsungan Hidup
Saya bertanya kebeberapa  pekerja di PT. Panarub Dwikarya, koq begitu gigihnya membela perusahaan? Jawaban mereka sederhana, “ kami lakukan ini bukan untuk membela perusahaan, tetapi mempertahankan hidup saya dan keluarga saya sendiri. Bagaimana nasib saya dan keluarga kalau perusahaan ini sampai tidak bisa produksi dan tutup.” Sangat mudah dipahami bukan, mereka benar, perusahaan tidak perlu dibela, kalau sudah  merugi, pemilik modal tinggal menutup pabrik. Lantas bagaimana dengan nasib pekerja-pekerja ini, berikut nasib ribuan keluarga dibelakang mereka. Tidak heran jika mereka bersedia berkorban untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan meski  dalam situasi yang tidak berimbang dan sangat membahayakan jiwa.

Kekhawatiran yang sama pastinya dirasakan oleh eks-pekerja Panarub Dwikarya yang saat ini berdemo. Dalam artikel pertama begitu jelas saya gambarkan bahwa apa yang saudara-saudara kita ini lakukan berawal dari  pengambilan keputusan yang tida cermat dan kurang perhitungan, emosional, bahkan sekedar ikut-ikutan. Akan tetapi semuanya sudah terjadi, penyesalan selalu datang belakangan. Saya berharap serikat buruh yang mengkoordinasi aksi bertanggung jawab dalam menyambung nafkah bagi keluarga-keluarga ini. "Siapa yang menabur angin, akan menuai badai".  

Ini baru halangan yang langsung terlihat, dari beberapa berita, ada arah masalah ini  menjadi komoditas politik. Beberapa politikus mulai mengintervensi perusahaan untuk merubah keputusan. Sekali lagi, mengapa masalah sederhana dibuat sulit ? Dasar perusahaan dalam mem-PHK karyawan berdasarkan interprestasi undang-undang ketenaga kerjaan yang berlaku. Jika para aktivis buruh melihat interprestasi ini keliru, mengapa tidak menempuh jalur hukum  dan dibuktikan kebenaran melalui persidangan. Jadi mengapa masalah hubungan industrial ini tidak didorong memasuki ranah hukum. 
Dititik ini saya tidak akan berasumsi, namun saya telah melihat kegigihan para pekerja PT. Panarub Dwikarya. Tidak ada kata menyerah bagi mereka untuk mempertahankan perusahaan ini apapun resikonya.

Penutup
Dalam benak publik, termasuk saya juga, ada satu pertanyaan yang menganjal, apakah pihak Buyer mengetahui akan hal ini? apakah situasi ini tidak melanggar prinsip dasar mereka sebagai Global Brand? Dari beberapa sumber mengatakan bahwa Buyer sangat memahami permasalahan yang terjadi di Panarub Dwikarya, kepatuhan pada undang-undang merupakan salah satu prinsip dasar mereka. Ini bukanlah masalah besarnya jumlah pekerja yang dipecat, apakah 1orang, atau 10 orang, jika keputusan perusahaan sudah sesuai dengan regulasi, tetap harus dijalankan. Akan sangat aneh jika Buyer mendorong produsen-produsen mereka di indonesia untuk mengambil langkah yang justru bertentangan dengan aturan. 1300 orang yang di PHK adalah tanggung jawab  serikat buruh pengorganisir aksi.
Kiranya ini menjadi pelajaran berharga bagi aksi-aksi demo serupa di Indonesia, untuk melihat persoalan dengan cermat, mengukur, menganalisa situasi, dan melakukan langkah-langkah yang cepat dan tepat sepanjang aksi.

Saya sangat memahami adanya perhatian begitu besar dari beberapa anggota dewan yang terhormat. 
Permintaan anggota DPR untuk memperkerjakan kembali pekerja yang telah di PHK bukanlah solusi terbaik. Saat ini PT. Panarub Dwikarya telah beroperasi dengan jumlah pekerja yang mencukupi. Hampir tidak masuk akal memperkerjakan mereka kembali dilihat dari sisi kebutuhan dan biaya tenaga kerja. Satu hal yang paling critical, ini akan menjadi preseden buruk bagi dunia usaha di tanah air, yaitu kebijakan perusahaan yang diambil berdasarkan perundang-undangan yang berlaku bisa serta merta digugurkan, jika ada tekanan masif dan cenderung keras dari pihak yang berseberangan.

Harapan dari pekerja-pekerja PT. Panarub Dwikarya, sangat  sederhana, ada 2000 an orang yang saat ini tengah bekerja disana, mereka ingin ketenangan dalam bekerja. Besar harapan mereka jika anggota dewan melihat peristiwa ini secara keseluruhan dan tidak sepotong-sepotong. Sampai saat ini, 2000 orang ini masih sangat yakin bahwa Panarub Dwikarya telah mengambil langkah yang tepat dan mereka bersedia berkorban untuk mempertahankan haknya untuk bekerja. 

Jika pekerja yang di PHK dianggap sebagai korban “kesalahan Interprestasi” perusahaan dalam menerjemahkan undang-undang, jauh lebih elegan jika serikat buruh  menggugat keputusan ini melalui peradilan. Biarlah hukum yang berbicara.  

Tekanan politis terhadap pengusaha akan memberikan dampak jangka panjang terhadap dunia ketenaga kerjaan nasional. Saya membahas masalah ini dalam artikel yang berjudul " Demo Buruh yang Berlebihan, Mempercepat terjadinya Revolusi Industri di Indonesia", di Link: http://www.dedylondong.blogspot.com/2012/10/demo-buruh-yang-berlebihan-mempercepat.html#more, saya sangat setuju jika masalah hubungan industrial yang terjadi di PT.Panarub Dwikarya layak mendapat perhatian utama. untuk itu doronglah agar masalah ini tetap berada di koridor hukum. Pertimbangan-pertimbangan logis yang tidak mengedapankan pencitraan, akan memberikan ketenangan dan jaminan terhadap pertumbuhan industri padat karya di Indonesia. 

Semoga artikel ini bermanfaat












1 comment: