Pages

Friday, February 13, 2026

Fenomena "False Manager" dalam Realitas Organisasi Perusahaan

                              


Apakah False Manager ?

False Manager  diadopsi dari kosakata bahasa Inggris, terdiri dari dua suku kata,

            False {kt.sifat} / fɔːls = Palsu

            Manager {kt.benda} /ˈmænɪdʒə(r) = Manajer

kedua suku kata ini membentuk sebuah frasa “ False Manager “ , yang secara harafiah diartikan sebagai manajer palsu.

False Manager adalah istilah yang digunakan dalam konteks manajerial untuk mendeskripsikan seorang individu yang secara formal memegang jabatan manajer, tetapi gagal mengadopsi pola pikir dan fungsi strategis sebagai seorang manajer, justru waktunya didominasi oleh pekerjaan teknis dan operasional harian layaknya supervisor.

Ketika seorang False Manager mengerjakan tugas – tugas supervisi, maka pelaksanaan fungsi strategis manajerial menjadi terbengkalai. Kemungkinan terburuknya, manajer puncak  yang turun menutupi kekosongan ini. Akibanya, fungsi strategis yang menjadi tanggung jawab manajer puncak  berjalan dengan tidak optimal. Ini akan menjadi efek domino. Dari sisi organisasi perusahaan, situasi ini akan mengurangi kemampuan dalam membaca dan mangantisipasi  kondisi eksternal, yang dalam jangka panjang akan berdampak pada laju pertumbuhan.

Sebelum kita lebih dalam membahas topik False Manager dan menganalisa hingga mencari jalan keluarnya. Mari kita mengingat kembali konsep manajerial secara umum, sehingga kita memiliki sudut pandang yang sama dalam melihat  hal – hal pokok dan mendasar.

Jenjang Manajemen

Secara umum, jenjang manajemen merujuk pada tingkatan atau urutan kedudukan yang terstruktur dalam suatu organisasi atau sistem kepegawaian. Jenjang ini menunjukkan perkembangan karier, tingkat tanggung jawab, wewenang, dan hak yang melekat pada posisi tersebut. Meskipun jenjang jabatan struktural antar perusahaan terkadang  memiliki perbedaan. Namun, pada umumnya  memiliki konsep manajerial yang sama.

 


 Piramida jenjang manajemen

Sumber : Robbins dan Coulter, 2010

Konsep sederhananya seperti ini,  semua orang yang memiliki bawahan berarti melakukan fungsi dan peran manajerial. Beberapa literatur, bahkan menyebutnya sebagai “manajer.”  Yaitu seseorang yang melakukan koordinasi dan pengawasan terhadap oarang lain, untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi (Robbins dan Coulter,2010). Tentunya, penyebutan “manajer” untuk semua jenjang manajemen akan membingungkan. Pada praktiknya,  kita menyebut manajer lini pertama sebagai “supervisor” dan manajer tingkat menengah sebagai “manajer”. Berikut pengklasifikasian dalam organisasi.

 1. Manajer Lini Pertama

Manajer Lini Pertama, atau yang sering disebut supervisor, adalah individu yang mengelola pekerjaan para staf non-manajemen. Mereka secara langsung terlibat dalam mengawasi kegiatan operasional yang memproduksi barang atau jasa bagi pelanggan organisasi. Pada intinya, mereka yang berada di tingkatan ini bertanggung jawab untuk mengelola operasi harian baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam industri manufaktur, umumnya supervisor terbagi lagi ke dalam tiga tingkatan,

 A. Supervisor Lini Pertama : ( Grup )  Leader, mandor 

Supervisor Lini Pertama langsung membawahi  staf operasional atau operator. Merekalah yang mengawasi dan mengkoordinasikan  pekerjaan operator secara langsung..

Contoh :

Dalam  satu hari siklus  produksi, tim produksi terbagi kedalam beberapa grup shift kerja.  Dalam 1 Shift, terbagi lagi kedalam beberapa grup berdasarkan jenis proses. Masing – masing grup, akan dikepalai oleh ( grup ) leader atau mandor.  Karena membawahi langsung operator, maka merekalah yang disebut sebagai  Supervisor Lini Pertama.

B. Supervisor Lini Kedua : Kepala Shfit

     Kepala shift disini berperan sebagai atasan grup leader.

Kepala shift bertugas  mengawasi dan mengkoordinasikan pekerjaan beberapa ( grup ) leader.

Namun di beberapa model struktur organisasi yang lain, ( grup ) leader juga berperan sebagai kepala shift yang membawahi langsung operator. Untuk kondisi ini,  maka kepala shift  sebagai supervisor lini pertama.

C. Supervisor Lini Ketiga : Kepala Bagian, Kepala Seksi ( Section Chief )

Yaitu seseorang yang masih bertanggung jawab pada hasil kerja harian, mengawasi dan mengelola seluruh aktivitas teknis operasional harian dan menerima laporan hasil kerja dari kepala shift atau supervisor lini kedua.

Berikut contoh model struktur  manager Lini pertama / supervisor departemen produksi yang beroperasi  dengan siklus   3 shift per hari.

 

                                                    Struktur organisasi manajer lini pertama atau  supervisor


Untuk menghindari terjadinya kesalah pahaman, selanjutnya saya hanya menggunakan istilah “ supervisor “ untuk menggantikan “manajer lini pertama”.

2. Manajer Tingkat Menengah

Manajer tingkat menengah menduduki posisi struktural kunci, berada di antara jenjang manajerial teratas dan terbawah. Mereka menerima dan menganalisis laporan dari para supervisor, serta bertanggung jawab penuh atas pengawasan pelaksanaan sistem operasional. Selain itu, peran mereka mencakup koordinasi lintas bagian, serta penyusunan strategi dan perencanaan untuk perbaikan atau inovasi sistem. Manajer di kategori inilah yang menjadi fokus utama pembahasan dalam buku ini.

3. Manager Puncak

Manajer Puncak adalah tingkatan manajemen tertinggi dalam sebuah organisasi. Mereka bertanggung jawab penuh atas pengambilan keputusan strategis yang berdampak pada jalannya seluruh organisasi, serta menetapkan rencana kerja dan sasaran utama dalam lingkup perusahaan. Jajaran ini mencakup Direktur Utama (CEO), Presiden Direktur, dan jabatan eksekutif tingkat-C lainnya seperti Chief Operating Officer (COO), Chief Financial Officer (CFO), Chief Marketing Officer (CMO), Chief Technology Officer (CTO), dan Chief Human Resources Officer (CHRO).

Fungsi Manajerial dalam Realitas

Meskipun piramida jenjang manajemen (sebagaimana diilustrasikan dalam Gambar 1.1) dirancang memiliki garis batas struktural yang tegas dan jelas, realitas operasional di lapangan tidak selalu demikian. Pudarnya garis batas ini paling sering terjadi pada dua jenjang manajerial: Manajer Lini Pertama ("supervisor") dan manajer tingkat menengah ("Manajer").

Inilah yang menjadi inti utama pembahasan dalam buku ini.

Di dunia kerja nyata, terdapat persepsi yang sangat mengganggu di kalangan manajer: bahwa peran manajer hanyalah “peran supervisor yang diperluas”. Perspektif keliru inilah yang secara tajam memudarkan garis batas fundamental antara kedua peran tersebut.

Masalah muncul ketika supervisor-supervisor yang hebat, yang menguasai kecakapan teknis operasional, dipromosikan ke jenjang manajer. Promosi ini seringkali dianggap sebagai penghargaan (reward) yang seharusnya diterima sebagai pengakuan atas keberhasilan mereka. Namun, karena promosi ini dilakukan tanpa disertai pelatihan yang memadai mengenai fungsi-fungsi manajerial yang baru, mereka cenderung mempertahankan pola pikir supervisor - hanya saja dengan ruang lingkup yang lebih luas.

Fenomena ini menciptakan False Manager” (Manajer Palsu): individu yang menduduki jabatan manajerial tetapi gagal menjalankan peran strategis yang esensial. Bahkan, jika mereka pindah ke perusahaan lain, tanpa pengembangan kompetensi manajerial, mereka akan tetap menjadi “False Manager”. Dari sisi manajerial, persepsi ini tidak dapat dibenarkan, mengingat efek destruktifnya pada koordinasi dan kinerja organisasi secara keseluruhan. Sayangnya, realitas ini masih sering terjadi di banyak perusahaan di Indonesia.

Arsitek vs Pelaksana

Untuk memperjelas batas  peran diantara supervisor dan manajer , mari kita simak penjelasan sederhanamya.

1. Manajer adalah arsitek dan perancang sistem: arsitek merancang bangunan dan memastikan tahap konstruksi berjalan sesuai rencana. Fokusnya adalah pada gambaran besar, visi, strategi, dan sistem yang menopang untuk mencapai tujuan. Konsep seperti ini mirip dengan peran manajer, yaitu memastikan bahwa tim memiliki alat, anggaran, dan struktur organisasi yang tepat untuk bekerja sesuai ttujuan yang direncanakan.

Kata Kunci: Strategi, Membuat sistem, jangka panjang.

2.    Supervisor adalah pelaksana (eksekutor): Peran ini biasanya dijalankan oleh  mandor, leader lapangan atau Section Chief. Fokusnya adalah bagaimana sistem yang disiapkan oleh Manajer, termasuk didalamnya  prosedur dan aturan dijalankan.dengan benar.  Supervisor memastikan bahwa setiap mesin beroperasi dengan benar , setiap pelanggan dilayani, dan setiap anggota tim tahu persis apa yang harus dilakukan jam per jam.

Kata Kunci: Tindakan, Detail Harian, Menjalankan sistem, kepatuhanr

Sebagai kesimpulan, meskipun Manajer dan Supervisor bekerja dalam kesatuan tujuan, peran mereka secara fungsional dipisahkan oleh dinding yang tidak terlihat. Manajer berfokus pada perancangan sistem dan penentuan cara tim bekerja, sementara supervisor bertanggung jawab penuh untuk memastikan eksekusi operasional dan penyelesaian pekerjaan harian.

Menelusuri  Munculnya Fenomena False Manager

False Manager  tidak muncul dengan tiba-tiba. Ia adalah produk dari proses panjang yang gagal, di mana organisasi dan individu sama-sama melompat terlalu cepat, meninggalkan celah besar dalam pola pikir dan kompetensi. Pola pikir ini dapat dipastikan  merupakan hasil dari jalur karir yang tidak dipersiapkan dengan baik. Kemunculan  False Manager   berawal  dari tiga kegagalan utama, yaitu : Kegagalan Struktural, Kegagalan Psikologis, dan Kegagalan Sistemik.

1. Kegagalan Struktural :  Jenjang Manajerial Tidak Berfungsi

A. Jebakan Supervisor Terbaik

Organisasi, dalam upaya mendapatkan kandidat di posisi manajer, cenderung memilih supervisor yang paling hebat atau yang paling berprestasi dalam hal teknis operasional. Pemilik bisnis atau managemen puncak berpikir, "Andi adalah sales terbaik kami, ia harus menjadi manager sales." Atau, "Siti paling cepat memperbaiki bug teknis, ia harus memimpin tim IT."

Peran supervisor dan manajer memang memiliki perbedaan yang jelas, tetapi organisasi sering kali gagal total dalam mengubah "setelan" atau kerangka berpikir manajer baru yang dipromosikan.

Akibatnya promosi, pada akhirnya hanya menjadi momen perubahan dari Supervisor terbaik menjadi seorang False Manager.  

B. Miskonsepsi Identitas Baru

Miskonsepsi di sini dimaknai sebagai kegagalan mendasar dalam memahami konsep peran yang baru. Ketika individu dipromosikan, mereka seringkali tidak dibantu untuk mengganti konsep identitas profesional mereka. Ini sebuah kegagalan yang menjadi akar masalah terjadinya False Manager.

Seorang False Manager cenderung masih mengidentifikasi diri mereka dengan narasi sukses masa lalu sebagai Supervisor “Pemecah masalah tercepat," "Orang yang tahu segalanya tentang lapangan," dan "pelaku eksekusi terbaik."

Sebaliknya, identitas yang benar dan konstruktif bagi seorang manajer adalah yang berorientasi pada sistem dan masa depan: "arsitek sistem," "pengembang talenta," dan "perencana masa depan."

Tanpa pergeseran identitas dari eksekutor menjadi arsitek ini, manajer akan terus mencari validasi dan rasa keberhargaan diri dengan kembali menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya didelegasikan kepada supervisor atau timnya. Hal ini tidak hanya membatasi pertumbuhan tim di bawahnya, tetapi juga menghambat manajer itu sendiri dalam menjalankan tugas strategisnya yang vital.

C. Fungsi Manajerial dijalankan dengan tidak tepat

Fungsi Manajerial dijalankan dengan tidak tepat adalah cerminan langsung dari kelemahan dalam kompetensi dan efektivitas pelatihan manajerial organisasi. Ketika kepemimpinan manajer lemah berpadu dengan supervisor yang tidak kompeten (yang juga gagal menjalankan fungsi manajerial yang didelegasikan), siklus negatif yang merugikan akan terbentuk:

·         Pelimpahan balik operasional. Manajer terpaksa langsung menangani aktivitas operasional harian yang seharusnya menjadi tugas Supervisor. Hal ini terjadi karena adanya "ketidakmampuan" manajer untuk memberikan koreksi, pengarahan, dan pengembangan yang diperlukan demi menaikkan kompetensi Supervisor.

·  Stagnasi Kompetensi: Alih-alih melatih dan mengembangkan Supervisor, manajer mengambil alih pekerjaan mereka, yang mengakibatkan stagnasi kompetensi di tingkat lini pertama.

Seiring waktu, tanpa adanya intervensi atau koreksi dari manajemen puncak, fungsi manajerial akan bercampur aduk. Perkawinan peran yang tidak sehat ini menghilangkan fokus strategis manajer dan menghambat efisiensi operasional, yang pada akhirnya berpotensi menjadi bencana struktural di masa mendatang bagi organisasi.

2. Kegagalan Psikologis : Kenyamanan Keahlian

Kegagalan ini bersifat internal, murni psikologis, dan menjadi akar masalah mengapa seorang False Manager terus-menerus kembali ke "Zona Kuning" mereka.

"Zona Kuning"  dianalogikan sebagai metamorfosa psikologis dari lampu lalu lintas, yang secara visual tersusun vertikal dari atas ke bawah:

·   Merah (paling atas): Melambangkan tuntutan manajemen masa kini yang penuh tantangan, memerlukan mindset strategis, dan memaksa perubahan. Ini adalah area yang menuntut anda untuk berhenti melakukan kebiasaan lama.

·        Kuning (Tengah): Inilah zona transisi - area tunggu yang ambigu. Secara sinyal, ia berarti Siap-siap berhenti (jika datang setelah hijau) atau siap-siap jalan (jika datang setelah merah).

·    Hijau (Paling Bawah): Melambangkan kenyamanan keahlian masa lalu seorang supervisor, tempat False Manager merasa mahir. Ini adalah area yang berarti Jalan dengan nyaman.

Zona Kuning adalah tempat di mana ketakutan psikologis menjerat anda. Ia berada di antara kenyamanan masa lalu (hijau) dan tantangan strategis masa kini (merah). Anda kehilangan keberanian untuk melangkah: mundur kembali ke hijau terasa tidak mungkin (karena tuntutan jabatan), tetapi majupun tidak mau (karena ketakutan akan tantangan baru). Anda terperangkap dalam status quo yang melelahkan.

A. Daya Tarik Zona Nyaman Teknis

False Manager merasa sangat kompeten dan percaya diri dalam lingkup kerja teknis atau operasional lama mereka. Tugas seperti menyelesaikan laporan, memecahkan kode rumit, mengatur SDM, trouble shooting mesin, atau melayani pelanggan yang marah, terasa mudah dan memuaskan. Ada rasa puas, kontrol sepenuhnya, dan kepastian keberhasilan.

·         Kepuasan instant : Keberhasilan dalam Menyelesaikan tugas-tugas harian operasional dengan cepat dengan hasil yang langsung terlihat memberikan perasaaan kepuasan instan.  

·         Rasa Kontrol : Saat tim sedang kacau, kembali mengerjakan tugas lama memberikan Manajer rasa kontrol penuh yang menenangkan kecemasan.

·         Menghindari Ketidakpastian : Pekerjaan Manager  (perencanaan strategis, manajemen konflik tim, coaching) penuh dengan ketidakpastian dan membutuhkan waktu untuk melihat hasilnya. Bekerja di zona nyaman teknis terasa lebih produktif meskipun secara strategis tidak efektif.

B. Ketakutan Menjadi "Pemimpin yang Tidak Tahu"

Seorang False Manager seringkali diliputi ketakutan untuk dihakimi saat mereka bertransisi menuju peran strategis yang belum mereka kuasai sepenuhnya.

Konflik batin ini sangat nyata:

·         "Jika saya fokus pada strategi dan delegasi, saya mungkin terlihat kurang sibuk atau tidak penting."

·     "Jika saya tidak mengetahui jawaban teknis terbaru, tim akan meragukan otoritas dan kompetensi saya."

Untuk menghindari resiko-resiko yang menakutkan ini, False Manager menciptakan jalan keluar yang keliru: kembali mengerjakan pekerjaan lama. Dengan demikian, mereka dapat terus memamerkan keunggulan teknis mereka dan mempertahankan rasa hormat, atau yang lebih tepatnya, ketergantungan dari tim.

C. Siklus Validasi Diri yang Salah

Nilai diri seorang False Manager secara fundamental terikat pada output individu.

Mereka sangat membutuhkan pengakuan dan pujian, baik dari diri sendiri maupun orang lain, atas keberhasilan menyelesaikan suatu penugasan. Jaminan keberhasilan ini, secara psikologis, akan jauh lebih besar jika mereka mengerjakan tugas yang sudah dikuasai di masa lalu, yakni pekerjaan teknis operasional harian. Dengan kembali ke zona keahlian ini, mereka memastikan perolehan validasi yang mereka butuhkan.

3. Kegagalan Sistemik: Absennya Pelatihan dan Keteladanan Kepemimpinan

Meskipun individu telah dipromosikan (merupakan kegagalan internal pertama) dan secara mental menolak peran barunya (merupakan kegagalan psikologis kedua), organisasi seringkali gagal total dalam menyediakan alat yang tepat untuk pencegahan dan perbaikan.

Ironisnya, seiring berjalannya waktu, masalah sistemik ini tidak akan teridentifikasi sebagai masalah. Mengapa? Karena sebagian besar individu dalam organisasi memberikan pemakluman kolektif. Dalam skenario terburuk, gaya manajerial yang keliru ini pada akhirnya akan dinormalisasi, dan pemikiran kolektif ini membentuk budaya kerja yang disfungsional.

Untuk memahami kompleksitas ini, mari kita klasifikasikan penyebab-penyebab mendasarnya.

A. Sistem Trainning tidak optimal

Sistem Trainning  atau pelatihan tidak dibuat dengan baik. Kurangnya Analisa Kebutuhan Traning ( Trainning Need Analysis ), rencana trainning , dan buruknya pelaksanaan berkontribusi pada kegagalan ini.

B. Manajemen Puncak sebagai role model yang keliru

Salah satu penyebab sistemik utama adalah ketika manajemen puncak - Direktur atau Pemilik Bisnis, bertindak sebagai supervisor.

Hal ini terlihat jelas ketika mereka memberikan instruksi atau teguran langsung kepada operator, melangkahi wewenang dan alur komunikasi manajer di bawahnya.

Keterlibatan manajemen puncak dalam operasional di lapangan biasanya berakar dari kebiasaan emosional di masa lalu. Sejak perusahaan berdiri, mereka sangat terikat dengan aktivitas harian, bahkan hingga detail yang sangat teknis. Meskipun struktur organisasi telah berkembang, ikatan emosional ini sulit dilepaskan. Gaya kepemimpinan inilah yang pada akhirnya menjadi contoh atau role model bagi lapisan manajer untuk menjalankan fungsi pengawasan mereka.

Namun, keterlibatan manajemen puncak ini tidak selalu disebabkan oleh faktor emosional semata. Tidak berfungsinya manajer di tingkat menengah seringkali memaksa mereka untuk turun ke jenjang operasional, semata-mata demi menjalankan fungsi manajerial atau supervisi yang terabaikan atau kurang responsif.

Apapun latar belakangnya, aktivitas manajemen puncak dalam pekerjaan operasional harian akan memberikan legitimasi yang berbahaya, seolah mengatakan: "Beginilah cara pengawasan yang benar." Dampaknya, manajer di bawahnya merasa dibenarkan untuk menghabiskan waktu di lapangan, memberikan instruksi langsung, dan mengintervensi jenjang manajemen paling bawah.

C. Indikator Kerja Utama (KPI) yang kurang tepat.

Kontras KPI: Operasional vs. Manajerial

Seringkali, KPI untuk manajer masih secara keliru mencerminkan kinerja operasional harian tim (misalnya: output mesin, reject periode tertentu, downtime mesin, mutu produk). Semua indikator ini sebenarnya adalah target kinerja Operator dan Supervisor di lapangan.

KPI Manajer memiliki titik fokus yang fundamental berbeda. KPI Manajer harus mengukur seberapa efektifnya sistem, strategi, dan penggunaan anggaran dalam mendukung pencapaian target operasional tersebut.

Fungsi Feedback dan Analisis Strategis KPI

Setiap KPI didasari oleh dua elemen pokok: Rencana Target dan Aktual Pencapaian. Selisih antara aktual dan target ini disebut Gap. Gap inilah yang berfungsi sebagai umpan balik (feedback) utama. Jika Aktual lebih kecil dari target, gap tersebut menjadi indikasi adanya masalah yang harus diidentifikasi dan diatasi melalui rencana perbaikan berkelanjutan.

Ruang lingkup KPI seorang manajer bersifat luas, dan feedback KPI menjadi indikasi kunci mengenai efektivitas sistem dan strategi yang diterapkan. Dari feedback ini, manajer dituntut untuk melakukan analisis mendalam:

1.    Sistem: Apakah sistem yang mengatur proses sudah tersedia dan berfungsi?

2.  Kelemahan Sistem: Jika sudah ada, apakah sistem tersebut masih memiliki kelemahan struktural?

3.    Implementasi: Jika sistem sudah baik, apakah pelaksanaannya tidak berjalan sesuai standar baku (standard operating procedure)?

Intinya, feedback dari KPI bukan sekadar angka. Yang terpenting, Manajer harus dapat mengukur secara empiris tingkat pengaruh dari strategi yang ditetapkan pada periode sebelumnya. Kesimpulan dari analisis ini akan menentukan apakah strategi masa lalu perlu diganti, dimodifikasi (adjustment), atau dipertahankan.

Pembahasan lebih mendalam, dapat anda baca dalam Buku yang telah terbit.

Book Title : False Manager : Andakah Salah Satunya ?

Writter       : Dedy Stefanus Londong

Publisher   : PT. NAS Media Indonesia

Years        : November 2025

ISSBN       : 978-634-205-754-4


ANDA BISA DAPATKAN DENGAN BUKU INI GRATIS. PERMINTAAN MELALUJI EMAIL KONTAK YANG TERSEDIA.

DENGAN HANYA MENGGANTI BIAYA PENGIRIMAN






No comments:

Post a Comment