Secara
formal, OEE (Overall Equipment Effectiveness) didefinisikan sebagai
metode evaluasi yang mengukur seberapa efektif mesin atau Line Produksi manufacture saat beroperasi, berdasarkan tiga metrik
utama: yaoitu ketersediaan ( Availability ) , kinerja ( Performance ) , dan
kualitas ( Quality )
OEE didefinisikan melalui tiga elemen rasio:
- Availability
(Ketersediaan), AV: Rasio antara waktu operasi aktual
terhadap waktu yang direncanakan. Fokus pada kerugian akibat waktu henti (Down
Time).
- Performance
(Kinerja), PR: Rasio antara jumlah produk
yang diproduksi terhadap potensi jumlah produk yang dihasilkan dalam
periode waktu operasi aktual. Fokus pada kerugian akibat kecepatan yang
berkurang (Speed Loss).
- Quality (Kualitas),
QL: Rasio antara unit produk yang baik (lolos seleksi)
terhadap total unit yang diproduksi. Fokus pada kerugian akibat barang
cacat (Quality Loss).
Ketiga
elemen ini dihubungkan dengan formulasi sbb :
Hubungan antar elemen OEE
Ketiga elemen penyusun OEE, yaitu Availability,
Performance, dan Quality dirancang supaya masing memberikan kontribusi nilai
yang maksimal dan seimbang.
Kita kembali ke rumus : OEE = A x P x Q
Anda lihat setiap elemen dihubungkan dengan tanda
kali ( x ) ? mengapa bukan tambah (+) ?, hubungan perkalian mencegah terjadinya
subsidi silang yang biasa terjadi pada penambahan . Pada hubungan penambahan jika
ada elemen yang bernilai rendah, masih dapat diimbangi dengan elemen lain yang
bernilai tinggi.
Mari kita buat simulasinya.
Elemen dengan nilai tinggi kita akan beri nilai : 1
(100%) , dan nilai rendah kita beri : 0,5 ( 50%)
Kondisi ke-1 : Availability bernilai rendah, elemen lain tinggi
A=0,5 , P = 1, Q=1 è OEE = 0,5 x 1 x 1 = 0,5 (50%)
Kondisi ke-2 : Performance bernilai rendah, elemen lain tinggi
A=1 , P=0,5 , Q=1 è OEE = 1 x 0,5 x 1 = 0,5 (50%)
Kondisi ke-3 : Quality bernilai rendah, elemen lain tinggi
A=1, P=1, Q=0,5 è OEE = 1 x 1 x 0,5 = 0,5 (50%)
Berbeda situasinya, jika ketiga elemen dihubungkan
dengan penambahan (+), ini mirip dengan fomulasi yang digunakan saat penyusunan
KPI ( Key Performance Indoicator ) dan MBO ( Management by Objective ).
Contoh, kita ambil saja kondisi ke-1 : Jika nilai
maksimum setiap elemen 1, maka nilai totalnya adalah 3.
A=0,5 , P = 1, Q=1 è = 0,5 + 1 + 1 = 2,5
Kita buat interpolasinya = ( 2,5 / 3 ) x 100% = 83,3% (
Nilai berubah menjadi tinggi, ini yang dimaksud dengan subsidi silang atau
saling menutupi )
Menghitung performance mesin dengan menggunakan OEE,
masing-masing elemen terlihat berdiri sendiri, dan tidak saling menutupi. Ketiga
elemen atau variable, harus memberikan nilai kontribusi maksimum, untuk
mencapai nilai OEE yang tinggi. Menurut saya ini bukan hanya konsep yang bagus,
tapi sangat amat bagus. Tim Operasional,
tidak dapat melakukan strategi kontraproduktif, seperti : Output Produksi tinggi tanpa memperhitungkan
aspek Quality. Atau sebaliknya, Quality produk tinggi, meskipun dengan speed
produksi rendah.
Dalam artikel kali ini, saya tidak akan menjelaskan
detil teknis terkait hal ini. Anda dapat menggali lebih dalam mengenai dasar
OEE di artikel-artikel yang sudah banyak tersedia.
Untuk siapa instrument OEE dibuat ?
Untuk semua departemen yang terkait langsung proses
produksi, yaitu Departemen produksi, maintenance, dan quality. Tidak menutup
kemungkinan nantinya akan berkaitan dengan departemen lain seperti Pengadaan (
Procurement ), atau PPIC ( Planning Produksi ).
Ketiga fungsi utama ini yang paling bertanggung
jawab pada pencapaian OEE. Tim Produksi menyiapkan operator yang kompeten
lengkap dengan Prosedurenya, Tim maintenance
melatih teknisi, menjamin kesiapan spare part, dan menjaga performa mesin dengan preventive maintenance, dan
bagian QC melakukan monitor dan control terhadap kualitas bahan baku sebagai
input, output produk, dan pelaksanaan SOP yang berkaitan langsung pada
kualitas.
Diperlukan koordinasi antar kepala departemen ini dalam
menganalisa, penetapan rencana perbaikan, hingga monitoring hasil perbaikan.
Berdasarkan pengamatan penulis, ketiga elemen yang
diukur, sangat tergantung pada performance mesin. Bukan pada operator yang
mengoperasikannya. Ini sejalan dengan Konsep industri manufacture modern, yaitu
memperkecil peran atau intervensi manusia dalam upaya mengoperasikan mesin,
sebaliknya, mesin harus memenuhi prinsip mudah dioperasikan ( easy to operate
), bahkan oleh operator baru yang memiliki jam operasional minimum ( 1 hari ),
mesin dapat memberikan feedback indicator jika terjadi malfungsi, memiliki
realibility yang sangat baik, tetapmenghasilkan output produ dengan quality
yang baik dalam kecepatan operasi maksimum, dan yang terkahir, mesin memiliki
konstruksi yang memudahkan teknisi dalam melakukan perbaikan ( breakdown
maintenance ) maupun perawatan ( preventive maintenance ), termasuk didalamnya
kemudahan dalam melakukan pergantian spare part, dalam ukuran waktu perbaikan.
Standar penilaian OEE dan komponennya
OEE Skor Total:
§ 100%: Sempurna (Produksi Ideal).
§ 85%: Kelas Dunia (World Class) - Target jangka panjang.
§ 60%: Rata-rata industri (masih banyak ruang perbaikan).
§ 40%: Rendah (perlu perbaikan segera/perusahaan baru).
Komponen Penilaian OEE (Formula:
OEE = Availability × Performance × Quality):
·
Availability (Ketersediaan)
- Standar >90%
·
Performance (Kinerja)
- Standar >95%
· Quality (Kualitas) - Standar >99%
Detail Elemen OEE
Mari kita telusuri satu persatu, setiap elemen.
1. Availability
(Ketersediaan)
Elemen ini, terdiri dari waktu operasi aktual dan
waktu yang direncanakan. Fokus utama elemen ini yaitu, untuk mendeteksi adanya
waktu henti atau down time yang tidak terencana ( unpredectible Downtime ). Dalam operasi normal, terkadang mesin
memerlukan waktu set up, jika terjadi pergantian spesifikasi item produk,
material, atau kebutuhan teknis lainnya. Beberapa mesin yang tergantung pada
panas ( Heat ) seperti Etruder, Injection, Blow Molding, Thermoforming
memerlukan waktu untuk mencapai suhu tertentu setelah stop/berhenti. Jadi
elemen Down time akan terbagi menjadi :
a. Unpredictable Downtime, yaitu waktu stop saat mesin running / beroperasi.
Biasanya, terjadi kendala teknis yang berpotensi pada terjadinya kerusakan
mesin yang lebih besar, maupun perubahan spesifikasi produk yang dihasilkan (
quality ), yang mengharuskan mesin stop beropreasi untuk dilakukan
penanganan. Dasar perhitungan Unpredictable
Downtime yaitu saat mesin Off sampai mesin kembali running normal.
Misal : Rencana waktu operasi mesin Pk. 15.00 –
23.00 ( 7 jam, istirahat 1 jam, no set up )
Pk. 19.00 mesin stop, running kembali Pk. 23.00,
total 240 menit ( 4 jam ). Tetapi sebenarnya aktual perbaikan, yaitu pergantian
spare part dan test running hanya 60 menit. Periode waktu mana yang digunakan ?
jawabannya tetap 240 menit, misal didalam waktu 4 jam, ini terdiri dari :
Informasi dari produksi ke Teknisi : 30 menit ,
Teknisi preparasi/persiapan : 60 menit, trial mesin : pergantian spare part :
30 menit , test running : 60 menit , produksi preparasi/persiapan : 60
menit.
Dari contoh data ini, aktual pekerjaan teknis yaitu
90 ( pergantian & test running ) menit, sedangkan non teknis yang dilakukan
oleh team produksi membutuhkan total waktu 150 menit. Yang berarti 37,5%
teknikal, dan 62,5% non teknikal. Untuk contoh case ini, sangat disayangkan,
downtime non teknis hampir 2x dari teknis, situasi seperti ini harus dipecahkan
melalui koordinasi kedua bagian, misal dengan merubah prosedure untuk
memperpendek waktu informasi dan persiapan dari sisi produksi atau hal lainnya.
Case yang lain, bisa juga, down time disebabkan oleh keterlambatan tim
produksi dalam memenuhi operator, PIC operator absen tanpa pemberitahuan,
sehingga, diperlukan pemindahan atau mobilisasi dari area lainnya utnuk mengisi
posisi yang ditinggalkan, ini tentunya juga dapat memakan waktu operasi mesin.
Issue ini, sangat serius bagi tim produksi, hanya karena satu orang opertor
memberikan impack besar pada perusahaan, akan terlihat tidak masuk akal.
Diperlukan analisis mendalam terkait hal ini, apakah nantinya dilakukan
perubahan prosedure atau aturan atau jika tingkat absensi relatif tinggi,
diperlukan koordinasi dengan bagian HRD untuk mencari solusi optimumnya.
b. Predictable Downtime. Dalam
praktiknya, Predictable Down time berpotensi bisa menjadi unpredictable down
time juga. Contoh, ada pergantian Molding mesin injection, waktu standard set
up, mulai dari turun – pasang – test run – set up parameter, membutuhkan waktu
45 menit. Tetapai karena faktor tertentu aktualnya membutuhkan waktu 90 menit.
Untuk case ini, yang terhitung sebagai Predictable Down time, yaitu 45 menit.
15 menit sisanya akan masuk menjadi Unpredictable down time.
Contoh
: Mesin Curing No.1 beroperasi di Shift 3, memiliki data performance sbb :
Waktu kerja 7 jam ( 420 menit ). Set up
ganti mold awal shift (Predictable Downtime): 60 menit, unpredictable downtime
: 100 menit. Stop mesin karena menunggu ketersediaan operator : 45 menit.
Maka
:
Waktu
rencana operasi = waktu kerja – Predictable down time
Waktu
aktual operasi = waktu rencana operasi – Unpredictable Down time
Ratio
Availaibility = ( waktu aktual operasi / waktu rencana operasi ) x 100%
Ratio
Availaibility : ((( 420 - 60) - (100 + 45 )) / (420 - 60)) x 100%= 59,7 %
Poin
penting saat menganalisa kinerja elemen ini, yaitu fokus pada Downtime mesin,
entah predictable, unpredictable. Tentukan faktor yang memberikan kontribusi
terbesar ( gunakan teori pareto ), sehingga perbaikan terfokus pada titik
tertentu, dan berjalan setahap demi setahap. Analisis lanjutan dengan diagram
sebab akibat/fishbone diagram sangat diperlukan, untuk mem”breakdown” penyebab
hingga menemukan yang dinamakan “ sumber ‘ akar dari segala permasalahan “.
2. Performance ( Kinerja )
Elemen OEE yang kedua yaitu Performance atau
Kinerja. Tersusun dari 2 elemen, yakni Jumlah aktual produk yang dihasilkan (
Hasil Produksi Aktual ) dan Potensi
jumlah produk yang dihasilkan dalam periode waktu aktual operasi ( Potensi Hasil
Produksi ).
Jumlah aktual produk yang dihasilkan, merupakan Hasil Produksi Aktual masing – masing
mesin atau Line produksi yang dihasilkan dalam satu periode Batch Produksi. 1
Batch produksi biasanya mengacu pada scope manajerial paling kecil, atau Shift
Produksi. Pada umumnya, pergantian atau
rotasi operator dan Leader terjadi antar shift. Periode waktu pada elemen kedua
ini , harus sama dengan periode waktu yang digunakan untuk membatasi elemen
pertama.
Unit yang digunakan, tentunya tergantung dengan
model manufacture setiap perusahaan, bisa menggunakan metric berat ( Kg ),
Satuan ( Pcs ), Volume ( Liter ), Debit ( Liter per menit ), dan sebagainya.
Potensi jumlah produk yang
dihasilkan dalam periode waktu operasi aktual. Yang
perlu digaris bawahi yaitu istilah “Potensi”, Mengapa tidak menggunakan Hasil
produksi yang Rencana ( Plan ) atau
Target Produksi ? istilah terakhir, lebih mengacu pada waktu kerja yang
tersedia, yang umumnya digunakan oleh bagian Planning ( PPC ) untuk estimasi
kapasitas mesin produksi, dan menentukan target produksi. Waktu kerja, ini
menggunakan Jam kerja yang telah ditentukan oleh perusahaan.
Untuk
mendapatkan “ Potensi Hasil Produksi”, memerlukan data Cycle Time mesin dan
waktu aktual Operasi.
Cycle
Time, terbagi menjadi 2 jenis, yaitu Cycle Time OEM ( Original Equipment
manufacture ) yaitu Cycle time yang dijanjikan oleh pabrik pembuatnya, dan
Cycle Time Standard, yaitu yang digunakan saat sekarang.
Cycle
Time Standard umumnya bersifat Mandatory, yang artinya sudah ditetapkan
berdasarkan kesepakatan antara bagian operasional dan manajement, dengan
mempertimbangkan umur, kondisi, dan kualitas produk yang dihasilkan. Dengan kata
lain, sudah ada standardnya, dan jenis data ini yang nanti digunakan dalam
perhitungan.
Elemen
lainnya yaitu waktu aktual operasi, aspek ini suah kita bahas di poin 1 ( Availability ). Yang didapat dari :
Waktu
rencana operasi = waktu kerja – Predictable down time
Waktu
aktual operasi = waktu rencana operasi – Unpredictable Down time
Contoh
: Mesin Curing No.1 beroperasi di Shift 3, memiliki data performance sbb :
Waktu kerja 7 jam ( 420 menit ). Set up
ganti mold awal shift (Predictable Downtime): 60 menit, unpredictable downtime
: 100 menit. Stop mesin karena menunggu ketersediaan operator : 45 menit. Cycle
Time standard mesin : 30 menit/Pcs, Jumlah produksi aktual = 5 Pcs/shift
Maka
:
waktu
Aktual Operasi = (420 – 60) - (100 + 45 ) = 215 menit
Cycle
Time Standard = 30 menit/Pcs
Potensi
Jumlah Produk yang dihasilkan = 215 / 30 = 7,1 Pcs / Shift
Ratio
Performance = (5 / 7,1) x 100% = 70,4%
Dimanakah
kemungkinan masalahnya ? meskipun sudah menggunakan waktu aktual operasi,
mengapa Ratio Performancenya masih jauh dibawah ? Ada 2 kemungkinan,
Pertama yaitu “RAM UP” , RAM artinya
tanjakan, UP artinya naik. Saat Start awal, mesin tidak langsung running dengan
speed atau kecepatan standard. Merupakan hal yang lumrah, mesin memerlukan
waktu awal, sama halnya dengan kendaraan
bermotor, selalu diawali dengan kecepatan rendah, untuk mendapatkan Torsi yang
besar, setelah mendapatkan momentum, baru kecepatan berada di tingkat standard.
Kemungkinan kedua, Mesin running tapi masih belum lancar, istilahnya “STOP –
GO”, Mesin runing, kemudian di Stop, running lagi, begitu seterusnya. Sehingga,
mesin tidak beroperasi dalam standard speed yang konstan. Umumnya ini berkaitan
dengan 100% masalah Teknis, yaitu kualitas perbaikan mesin tidak maksimal, yang
disebabkan oleh antara lain , kompetensi (skill & pengetahuan ) Teknisi
yang masih kurang, atau faktor performance spare part pengganti rendah. Manajer
Teknik, wajib melakukan analisis terkait
dengan issue ini.
3. Quality ( Kualitas )
Kualitas yang dimaksud yaitu kualitas produk, dimana
produk yang dihasilkan telah memenuhi standard spesifikasi yang telah
ditentukan. Ratio Quality, terdiri dari 2 elemen, yaitu : Jumlah Produk dengan
Kualitas sesuai standard, dan Total Jumlah Produk yang dihasilkan. Dengan
Formulasi sbb :
Ratio
Quality = ( Jumlah Produk sesuai Standard / Total Jumlah Produksi Aktual ) x
100%
Jumlah
Produk dengan Kualitas sesuai Standard. Tim Quality, umumnya memiliki data, Jumlah Produk yang tidak lolos
standard quality yang ditemukan pada Inspeksi awal. Umumnya, barang ini
direjcet untuk dibuang lalu dibuatkan penggantinya, bisa dari pembuatan ulang
atau repair / perbaikan.
Dari data
ini, dapat diketahui, Jumlah Produk dengan Kualitas sesuai Standard, yaitu
dengan perhitungan :
Jumlah
Produk dengan Kualitas standard = Total jumlah Produksi Aktual – Jumlah tidak
lolos standard kualitas
Total
Jumlah Produksi Aktual, menggunakan
data yang sama dengan element point 2 ( Performance
). Yaitu Jumlah produk aktual yang dihasilkan, sebelum dilakukan inspeksi dari
Tim Quality
Contoh : Mesin
Curing No.1 beroperasi di Shift 3, memiliki data performance sbb : Jumlah
produksi aktual = 5 Pcs/shift, Jumlah
produk tidak sesuai standard quality = 1 Pcs
Maka
:
Jumlah
produk yang sesuai standard Quality = 5 – 1 = 4 Pcs
Ratio
Quality = ( 4 / 5 ) x 100% = 80%
Quality produk yang
dihasilkan dan dikirim ke customer merupakan tanggung jawab tim Quality, lebih
spesifik Manajer QC/QA. Tim Quality memiliki tanggung jawab untuk menjamin
produk terkirim ke custoner telah memenuhi standard. Indikator yang digunakan,
yaitu dengan metode yang terukur, melakukan inspeksi quality terhadap produk
yang dihasilkan. Ratio Quality ini, menjadi indikator seberapa baiknya tim
operation dalam melakukan proses produksi. Meliputi, ketaatan dalam mengikuti
SOP, tingkat kompetensi operator, tim teknis, dan jajaran Leader, dan keberhasilan pengelolaan / manajemen
perbaikan dan perawatan mesin.
Seorang Manajer QC/QA
harus dapat mengkoordinasi bagian-bagian yang berkaitan dengan pencapaian
Quality, dengan Produksi, Maintenance/Engineering, Procurement, PPIC, Ware
House, General Affair, dsb. Pemahaman akan implementasi Quality Tools, , validitas
data, pemahaman alur proses dan prosedure, metode standard Inspeksi , dan
kemampuan dalam berkomunikasi , menjadi kompetensi wajib , yang harus dimiliki.
Dari contoh diatas, maka nilai OEE dari mesin Curing No.1,
periode kerja Shift 3 :
OEE = Availability x
Performance x Quality = 59,7% x 70,4% x 80% = 33,6%
Berdasarkan
standard penilaian OEE, Skor mesin seperti dalam contoh diatas memiliki skor
Rendah ( < 40%) , dan perlu dilakukan perbaikan segera.
Proses Pendataan
Data mentah dari OEE, berasal dari performance
setiap mesin produksi yang digunakan. Misal, perusahaan yang memproduksi Ban
Mobil, di Departemen Curing memiliki 20
unit mesin, dalam berbagai type, dan merk yang berbeda. Data OEE harus muncul
dari setiap mesin, yang artinya akan keluar 20 data OEE dari semua mesin dalam
setiap batch produksi. Misal, 1 batch produksi berarti 1 shift, maka dalam 1
hari yang terdiri dari 3 shift, dari Departemen Curing sendiri akam memiliki 20
x 3 shift data. Jika dalam 1 bulan
memiliki waktu operasi 30 hari, memiliki 20 x3 x 30 data OEE. Yang nantinya
bisa diklasifikasikan sesuai kebutuhan, misal berdasar type yang sama, atau
perbandingan performance rata-rata rasio OEE setiap hari. Ini tergantung
kebutuhan analisis tentunya. Bisa dibayangkan besarnya cakupan data yang
dikumpukan.
Data yang baik harus bersifat objektif
(sesuai keadaan sebenarnya), mutakhir (up to date). Data berkualitas
tinggi wajib konsisten, lengkap, dan tidak duplikat untuk memastikan
pengambilan keputusan yang tepat. Data yang memenuhi syarat ini penting
agar kesimpulan penelitian atau keputusan bisnis yang diambil akurat dan tidak
menyesatkan.
Proses pengambilan data dan menghimpun dalam sebuah database, bukan pekerjaan yang kecil. Aktivitas ini bukan seperti administrasi biasa. Ada beban tanggung jawab, untuk menghasilkan data yang berkualitas tinggi. Keseluruhan proses pendataan bekerja dalam sistem yang dirancang khusus. Jelas ini bukan pekerjaan sampingan.
Dari
Gambar diatas, tahapan yang paling penting, sulit, dan kompleks berada pada
tahap awal, yaitu bagaimana data lapangan diambil dan diinput kedalam Data
base. Data diambil dari setiap mesin yang digunakan dalam proses produksi di
setiap Shift Kerja.
Semua data ini dibuat untuk apa ? Jelas sebagai indikator kinerja, untuk dianalisis akar masalah, dan tentukan rencana perbaikannya ( action plan ), perhatikan time line dibawah
Kolom
paling kiri menunjukkan serangkaian aktivitas yang membentuk siklus berulang
setiap hari. Pengambilan data, Input, Process Data hasil produksi tanggal 2, di
Shift 1, 2,3 mulai Pk. 07.00 sampai 07.00 sehari setelahnya ( tgl 3 feb ),
merupakan satu siklus, dimana data output harus tersaji di pagi hari tgl 3 Feb,
untuk dianalisis, dan membuat rencana-rencana perbaikan, untuk proses tanggal 3
February. Agar, permasalahan di tanggal 2 feb, tidak terulang di tanggal 3 feb.
Begitulah
kurang lebih konsepnya. Artinya, Data mentah dari lantai produksi, setiap
mesin, setiap shift harus terkumpul, terinput, masuk data base, di proses, dan
tersajai keesokan paginya di tanggal 3 feb. Terlihat rapi, tapi tidak mudah
dalam pelaksanaanya. Jika anda mengumpulkan semua data berupa form manual,
untuk diinput ulang keesokan paginya, apakah bisa tersaji di pagi yang sama ?
Ada kemungkinan data tersaji sudah sore, di posisi Shift 2, kapan dilakukan
analisis ? apakah cukup waktu untuk menyusun dan mensosialisasikan renana
perbaikan ? Jika siklus ini berulang, semua data terkumpul tidak lebih hanya
menjadi pekerjaan administrasi tanpa adanya follow up berupa rencana perbaikan yang
memadai. Bisa jadi, action yang dilakukan, tidak berdasar analisis data,
melainkan berdasar perkiraan, asumsi, atau informasi sekunder ( misalnya ,
berdasar informasi si A, si B, si C … ). Akibatnya, Akar penyebab akan tetap
tidak tersentuh.
Diperlukan metode yang efektif & effisien dalam proses pengambilan dan input data, tentunya tetap mempertimbangkan aspek biaya. Bagaimanapun, terkait dengan alokasi karyawan, pekerjaan administrasi tidak langsung menghasilkan produk. Semaikin banyak sumber daya manusia dipos ini, akan memberikan beban biaya yang significan bagi operasional.
Pendataan
dengan konsep MAKER – USER
Sebelum menuju tahap input, data yang
diambil dari lantai produksi benar-benar berkualitas tinggi, yang mewakli
kondisi sebenarnya dilapangan. Konsep Maker – User, atau Pembuat – Pengguna,
dapat mengantisipasi terjadinya kesalahan pencatatan / pendataan baik yang
disengaja maupun tidak disengaja. Maker yaitu Pelaksana pekerjaan, yang
memberikan service perbaikan Teknis, dan User sebagai pihak yang meminta dan
menggunakan jasa tadi.
Artinya, “Maker”
sebatas pelaksana tugas, untuk pencatatan data waktu down time, jenis Down
time, Cara Perbaikan, semuanya ditulis atau dicatat oleh “User”, dengan
persetujuan Pelaksana, dengan bukti tanda tangan kedua pihak. Sehingga data
yang diperoleh merupakan data “matang” dan berkualitas tinggi.
Detail – detail seperti
ini, wajib untuk dilakukan saat merancang sistem pendataan. Tentunya draft
sistem pendataan yang dirancang, harus diuji coba di kondisi sebenarnya (
aktual ), untuk memahami tingkat kesulitan tim pelaksana di lapangan, sehingga
alur proses dan aturan yang ditetapkan merupakan yang paling efektif.
Input –
Display Data
Saat,
tahap awal pendataan sudah ditentukan, lanjut ke tahap berikutnya yaitu Input
Data. Dari Simulasi Tabel Time Line, kita dapat melihat betapa ketatnya jadwal
ini. Data hari kemarin, harus tersaji di pagi – hari ini, untuk dilakukan
analisis. Jika tersaji sore hari, maka sudah akan terlambat dalam pengambilan
action perbaikan jika ada masalah. Bayangkan, Tim Shift 1 (pagi) sudah pulang, dan shift 2 (sore)
sudah berjalan, artinya Time yang bekerja di shift 1, bekerja tanpa arah jelas,
dan berlanjut ke Shift 2. Ada kemungkinan, nanti masalah akan menumpuk di Shift
3.
Dan
yang perlu menjadi perhatian, situasi ini akan terjadi setiap hari, dan akan
terakumulasi terus menerus dari bulan ke bulan.
Artinya,
Data berkualitas yang sudah terkumpul, menjadi sebatas “papper work” atau hanya pekerjaan administrasi karena tidak
digunakan maksimal untuk pengambilan keputusan manajerial di bagian operasional.
Saya analogikan, jika tim Leader ( supervisor , Mnajaer ) berperan sebagai
pilot pesawat. Mereka tidak tahu kalau mesin – mesinnya sudah mati ketika
diudara, meskipun panel instrumen telah menunjukan situasinya. Baru menyadari
ketika Pesawat sudah jatuh di tengah lautan. Bagaimana menurut anda, apa istilah yang lebih
tepat untuk menggambarkannya ?
Penerapan prosedure
yang efektif dan Penggunaan teknologi dalam proses inputing, seperti Komputer
atau Tab , yang terintegrasi dengan server data base, delokasi yang dekat
dengan stasiun – stasiun kerja akan sangat membantu mempercepat prosesnya. Artinya,
data yang terkumpul langsung diinput di Periode waktu yang hampir bersamaan. Alih-alih
dikumpulkan, dan diinput keesokan
harinya oleh administrasi.
Keuntungan data
input langsung, akan memudahkan jika diperlukan verifikasi dan crosscheck, karena
semua petugas baik pelaksana maupun user masih ada dilokasi kerja.
Data yang sudah
terinput, masuk ke data base, secara real time
diolah dan disajikan oleh sistem
IT perusahaan. Artinya data akan tersaji bebrapa saat setelah shift kerja
berakhir. Data ini bisa langsung tersaji melalui Display di lantai produksi
atau stasiun – stasiun kerja, melalui layar Monitor, maupun diakses oleh tim
manajer melalui aplikasi di Hand Phone. Pada intinya, semua orang langsung tau,
hasil kerja mereka, dan data sudah siap pagi hari keesokan hari.
Sumber : Internet
PENUTUP
Penggunaan OEE
dalam Pengendalian produksi akan memberikan dampak positif yang significan,
untuk tercapainya target produksi seperti Delivery, Lead Time, Output,
Productivity, Quality, dan Biaya Produksi.
Terlepas dari
segala manfaat ( Andvantage ), OEE tidak lebih dari Monitoring Tools yang sangat bagus. Yang berfungsi sebagai feedback
bagi pengambil keputusan di tingkat manajerial. Pertanyaan yang penting, yaitu,
Apa yang akan dilakukan setelahnya. Ini doktrin dasar yang harus dipahami dan
dijalankan.
Tentu ini semua
perlu biaya, saya menyebutnya sebagai “Investasi”, mulai dari Biaya
perencanaan, Sosialisasi & Trainning, Pendataan, hardware – software, dan
lain sebagainya. Pengendalian biaya, menjadi faktor yang penting, mulailah
dengan action berbiaya paling rendah, misalnya scope divisi yang terkecil. Simulasikan
dan buat Mock up sistemnya. Dan
presentasikan hasil simulasinya, untuk meyakinkan “advantage” dari implementasi
OEE dihadapan manajemen tingkat atas.
Sejauh dilakukan
dengan konsep berpikir yang benar, kemauan, dan tekad …. Ini semua sepadan
Jika organisasi perusahaan anda, sudah menerapkan OEE dengan hasil akhir yang tidak sesuai harapan, coba analisis dan breakdown akar masalahnya satu persatu. Meskipun artikel ini singkat, coba ikuti alurnya dari awal, untuk menemukan penyimpangannya. Bisa saja masalah muncul dari data yang tidak berkualitas, metode input yang tidak efisien, atau metode analisis penyebab masalah yang tidak optimal.
Semoga Sukses






No comments:
Post a Comment