Monday, February 27, 2012

Bagaimana Proses Pembuatan Kondom (Condom)





Pendahuluan
Terlepas dari perasaan "risih" saat menulis artikel ini, kondom (condom) sebagai  produk manufacturing sangat menarik bagi saya. Jika dilihat secara visual dan sifatnya yang sekali pakai, kondom terlihat seperti produk yang sederhana. Akan tetapi, dibalik dinding-dinding pabrik pembuatannya, proses pembuatannya tidak semudah yang dibayangkan.  Produk ini memiliki standar produksi yang sangat tinggi dan ketat. Adapun standard yang berlaku saat ini yaitu ISO 4074 tahun 2002 dan WHO  2003. Standard ini diperlukan untuk menjamin proses produksi dapat menghasilkan produk yang sesuai spesifikasi. Umum diketahui, selain untuk mencegah kehamilan, kondom juga berfungsi sebagai pelindung dari infeksi yang disebabkan oleh beberapa kuman dan virus ganas, seperti kuman gonorhea, Virus HIV, dan Virus Hepatitis B yang berskala nanometer. Bisa anda bayangkan jika produk yang memasuki pasar tidak sesuai spesifikasi, fatal bukan.
Penelitian menyimpulkan efektivitas kondom dalam mencegah kehamilan mencapai 90%,  tingkat kegagalannya lebih banyak disebabkan oleh faktor penggunaan yang tidak benar.
Pori-pori kondom terkecil sebesar 5 mikron, hampir sama dengan diameter sperma 3.5 mikron. Cukup sempit untuk sel sprema memasuki lobang-lobang ini. Disamping itu ketebalan kondom mencapai 194 kali diameter kepalanya.

Maaf, jika  anda ingin menemukan tulisan yang membahas sisi kenikmatan, saya pastikan anda tidak akan mendapatkannya.


History
Berdasarkan catatan sejarah,  orang-orang Mesir lah yang pertama kali menggunakan kondom di tahun 1350 sebelum masehi. Kondom primitif ini terbuat dari kulit tipis dari kandung kemih dan usus binatang sebagai “sarung”. Kondom  pada saat itu dipakai bukan untuk mencegah kehamilan, tapi untuk menghindari terjangkitnya penyakit kelamin.

Dalam perkembangannya bahan dasar pembuatan kondom terus berkembang, mulai dari usus binatang (domba), ruber, latex, hingga polyuretan. Pertama kali Kondom dibuat dalam skala manufacture di  Amerika oleh Schmid Laboratories pada tahun 1883, Perusahaan ini didirikan oleh Julius Schmid.
Julius, man in the middle
Proses Manufacturing
Proses pembuatan  kondom terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu :
1.       Compounding
2.        Storage
3.       Production Proscess

Step 1. Compounding
Pembuatan kondom dimulai dengan pencampuran bahan dasar lateks dengan beberapa bahan kimia seperti sulfur, Zno, nocrac, perkacit, dan Vufanol melalui proses pencampuran selama 4-5 hari. Pencampuran dilakukan dalam alat Drum besar yang bernama Balls Mills. Proses ini akan memperkecil ukuran partikel bahan sebelum menjadi kondom.
Compounding

Step 2, Storage
Setelah proses ball mills, bahan-bahan yang sudah tercampur tersebut divulkanisasi. Pada proses ini bahan-bahan kimia kemudian dicampur lagi dengan bahan-bahan penstabil suspensi selama 7,5 jam, untuk kemudian dimatangkan selama kurang lebih 4 hari.
Storage
Step 3, Production Process
Production Process terbagi kedalam 4 bagian, yaitu ; 1) proses Dipping, 2) post treatment, 3) Test Quality, 4) Lubricating dan Packaging.
Alur proses keseluruhan dapat dilihat di diagram berikut ( diambil dari : http://www.smile-condoms.com/francais/fabrication/manufacturingflowchart.htm )
Production Flowchar

Proses Dipping
Tahap ini merupakan tahap pembentukan produk. Tahap pembentukan dilakukan dengan 1 unit mesin memanjang, yaitu Dipping Machine. Skema mesin ini dapat dilihat pada gambar dibawah, ( dan link berikut : http://www.smile-condoms.com/francais/fabrication/manufacturing.htm )

Dipping Machine


Skema Dipping Line
Keterangan Gambar Skema :
Secara garis besar Dipping machine terdiri dari conveyor rantai dengan glass forming ( forming kaca ) yang diinstall dikedua sisi rantai. Rantai bergerak satu arah. Seperti dalam gambar, proses diawali dari pembersihan glass forming di Driying Brush, dengan tujuan untuk membersihkan forming dari material lain yang menempel, proses bergerak maju mulai dari pencelupan ( 1st latek Dip) hingga proses terakhir Rinsing, yaitu kondom yang melekat pada forming dilepaskan dengan air bertekanan ( jet washer ), kemudian forming bergerak kembali ke step awal yaitu pembersihan di Dryiing Brush. Begitu seterusnya.

Berdasarkan alur proses yang ditunjukkan dalam diagram production process, alur proses dipping dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Former Cleaning. Bagian ini membersihkan glass forming ( forming kaca ) dengan menyemprotkan air lalu dikeringkan dengan soft nylon brush yang berputar.
Brush Forming
Glass Forming after cleaning

2.      Lateks Dipping 1.  Glass forming dicelupkan pada  cairan latex untuk pertama kalinya.
Dipping Process
3.  Drying Oven. Setelah proses pencelupan, cairan yang telah menempel di permukaan glass forming (Lateks Film) dikeringkan dengan menggunakan electric infra red heating, dan langsung didinginkan dengan udara bertekanan / blower.
4.       Lateks Dipping 2. Untuk kedua kalinya, glass forming yang sudah dilapisi lateks pada Dipping 1, dicelupkan kembali ke dalam bak pencelupan kedua.
5.       Drying Oven. Setelah keluar dari Bak pencelupan kedua, glass forming kembali memasuki oven untuk proses pengeringan.
6.       Beading. Proses ini  membentuk ring dibagian pangkal kondom. Prosesnya menggunakan 2 buah roll yang berputar.
Beading Process

7.       Drying Oven ( final ).  Proses pengeringan terakhir, prosesnya masih sama, yaitu menggunakan panas yang bersalal dari electric infrared. Dan didinginkan dengan udara bebas.
8.       Leaching. Merupakan Bak pencucian, yang dilengkapi dengan electric heating, termostat untuk mengontrol suhu air dan water overflow, untuk mengatur volume air. Proses ini bertujuan membersihkan kondom dari semua bahan kimia terlarut  dan menghilangkan protein dalam lapisan lateks ( Lateks Film ).
Leaching Process

9.       Stripping. Pada bagian ini, kondom yang melekat pada glass forming dilepas dengan menyemprotkan air bertekanan. Produk dalam kondisi basah dan dikumpulkan dalam bak penampungan.
Stripping Process

Proses Post Treatment
Dalam Post Treatment ini, kondom di treatment dengan menggunakan air yang dicampur bahan kimia Anti Tack K dan Anti Tack G. Tahap berikutnya kondom dikeringkan dalam mesin thumbling, menjalani proses pengeringan  selama sekitar 3,5 jam dengan bubuk nipsil, hisil, dan carplex, untuk mecegah pelekatan produk.
Thumbling
Quality Test
Quality Test produk ini, mengikuti standarisasi yang sangat tinggi karena menuntut tingkat keamanan dan Higienis produk. ( Flow Chart Quality Test  dibawah, juga bisa dilihat pada link berikut : http://www.smile-condoms.com/francais/fabrication/qualityflowchart.htm )

QC Inspect Flow Chart
Test Quality  terbagi kedalam 3 tahap.

Test Quality  ke-1
1.       Sample diambil dari product yang keluar dari proses pengeringan pada mesin Thumbling.
2.       Dari Setiap Batch (  periode proses yang sama ) diambil 150 sample untuk dilakukan beberapa test.
Visual Test : 125 sample
Water test (pin hole) : 125 sample
Dimention Test : 10 Sample
Burstling Test ( uji letusan) : 10 Sample
Tensile Test ( uji tarik ) ; 5 sample
Pin Hole Test
Bursling Test

Tensile Test
3.       Jika dalam Water Test ditemukan lebih dari 5 sample not ok, maka keseluruhan produk dalam batch ini masuk kedalam kategori Grade C, setelah dilakukan 100% test elektronik.
4.       Jika dalam Visual Test ditemukan lebih dari 20% ( 10 sample ) defect kategori Major. Manager QA memutuskan disposisi seluruh produk dalam batch ini. Total produk di reject atau diterima setelah dilakukan 100% test electronik.

Test Quality ke-2
1.       Setiap Batch produksi, setelah menjalni test quality ke-1, akan menjalani 100% electronic test
Electronic Test
2.       Berdasarkan hasil water test ( pin hole test ) dan visual control, product setiap Batch produksi akan dikategorikan ke dalam beberapa klasifikasi Grade.
3.       Setelah dilakukan Test, diambil 200 sample, untuk dilakukan visual test dan water test, jika masih ditemukan masalah, seluruh product dalam satu batch dikirim ke Departemen khusus sortir dan screening.
4.       QA harus melakukan test ulang dan memgklasifikasikan Grade product yang dimaksud dalam point 3.
5.       Product yang lolos uji, harus disertakan informasi code, warna, quantity, dan Grade dalam kemasannya. Dengan klasifikasi Grade sebagai berikut :
·         Grade A1                      0/200                 pin-hole (AQL 0), Visual Check 100% pass
·         Grade A                         0/200                pin-hole (AQL 0)
·         Grade B                         1/200                pin-hole (AQL 0.25)
·         Grade C                         2/200                pin-hole (AQL 0.40)
·         Grade D                         3/200 -7/200  pin-hole (AQL 0.65 – 1.5)
6.       Batch Produksi harus disimpan didalam ware house/Gudang, dengan masa penyimpanan selama 12 bulan setelah test produksi.

Quality Test ke-3

1.       Pada Test Quality  ke-3, sample diambil setelah produk melalui proses foil packaging/pengemasan. Diambil  setiap customer sebelum delivery/pengiriman.
2.       Product yang lolos dilanjutkan pada final box packaging, jika tidak lolos test, pengiriman akan di tunda, sampai diputuskan disposisi produk oleh bagian QA.

Proses Lubricating & Foil Packaging
Pada tahap ini dilakukan pelumasan permukaan luar produk dengan sejenis silicon oil yang berfungsi  sebagai pelumasan, tahap ini dinamakan lubricating. Setelah itu dilanjutkan dengan tahap pengemasan produk dengan baha foil / foil packaging.
Tahap ini merupakan tahapan terakhir dalam proses produksi kondom. Produk outputnya masih diberlakukan quality test, yaitu Quality Test ke-3.
Packaging  Process
Untuk keseluruhan proses produksi produk ini, dapat dilihat di vidio berikut.
( link:http://www.youtube.com/watch?v=u22BbGNzLWo )



Penutup
Standar manufaturing dan quality test yang sangat tinggi menuntut adanya tingkat kendali proses dengan baik. Jika terjadi kesalahan proses, dengan spesifikasi quality seperti ini, bisa dipastikan akan banyak produk yang  reject dan tidak terpakai atau mengalami grade down, yang mengakibatkan perbedaan harga jual.
Melihat kondisi ini, tampak normal, jika saat ini, di Indonesia hanya memiliki dua perusahaan pembuat kondom. Karena itu, masih banyak produk-produk dipasaran yang masih di import untuk menutupi kekurangan suplay.

Sebagai penutup, saya akan menyampaikan pesan bagi  para pengguna produk ini. Pada sub bab pendahuluan, saya sampaikan hasil penelitian, bahwa efektifitas kondom dalam mencegah terjadinya fertilisasi/pembuahan atau kehamilan mencapai 90%, dan kegagalannya lebih disebabkan faktor pemakaian yang tidak tepat. Lantas bagaimana efektivitasnya dalam mecegah penularan penyakit ?
Kembali ke persepsi masing-masing, apakah ini good atau bad news. Kalau saya sih, melihat ini berita buruknya.
Dengan diameter pori-pori kondom terkecil  sebesar 5 mikron, bagaimana efektivitasnya untuk membendung “lewatnya” virus HIV yang hanya berukuran 0.1 mikron? Ok saya permudah ilustrasinya. Jika anda memilik bola kecil  berukuran 1 cm, sulitkah bagi anda untuk memasukkannya kedalam lubang berukuran 50 cm ( 0.5 meter ) dalam jarak dekat ? Menutup mata pun anda  bisa lakukan ini bukan ? Percayalah, hanya faktor waktu yang menghambat  kapan virus-virus itu mencemari cairan lainnya. Diperburuk dengan masifnya gerakan mekanis yang menekan cairan, maka perjalanan virus-virus melintasi labirin kondom akan semakin cepat.
Saat ini, ketebalan kondom yang dijual di pasar berkisar antara 483 – 635 mikron. Sedangkan kisaran pori-pori kondom-kondom tersebut  saat tidak direntangkan adalah 5 – 50 mikron. Kelihatannya masuk akal jika kegagalan kondom dalam melindungi pelaku seks bebas dari penyakit mematikan HIV-AIDS, dilaporkan oleh Alan Guttmacher Institute pada tahun 1989 mencapai 22.3 persen, British Journal of Medicine pada tahun 1987 mencapai 26 persen, dan New England Journal of Medicine pada tahun 1989 mencapai 33 persen. Dengan tingkat kegagalan antara 20 – 30 %, berarti kondom tidak benar-benar “safe’ jika digunakan untuk aktivitas seks yang beresiko, seperti seks bebas.






No comments:

Post a Comment

This Blog Free of Advertisement