Pages

Sunday, January 20, 2013

Belajar dari Tragedi Tsunami Plaza UOB Jakarta






Foto dan vidio yang beredar di internet  ini  memberikan gambaran yang sangat mengerikan. Hampir tidak terbayangkan sebuah gedung mewah di pusat ibu kota tak berdaya melawan ganasnya alam. Lelah rasanya berpolemik apakah ini bencana alam, atau karena ulang manusia. Dalam hitungan detik, kita tersadar bahwa hasil karya manusia setinggi apapun tingkat keamanannya tetap tidak akan (pernah) berdaya melawan alam....Pray for Jakarta


Saya coba mengurai  bencana ini dari sisi teknis, karena bagaimanapun saya masih penasaran, adakah kesalahan konstruksi di Plaza UOB ini. Hari ini saya buka web site Thamrin Nine untuk coba mengenal lebih dekat, tapi tidak bisa diakses. Ok, meskipun tidak cukup informasi saya akan coba gambarkan kejadian ini  sehingga bisa kita tarik hipotesanya.
Area Basement Plaza UOB terdiri dari 4 lantai, dengan dimensi seperti pada gambar diatas.
Dari beberapa saksi mata, saya dapatkan kronologis kejadian sbb :
Kamis, 17 January 2013, Pk. 09.00 air mulai masuk
Pk. 09.30 air bah seperti tsunami mulai masuk
Pk. 14.00 seluruh lantai basement penuh dengan air
Volume air dalam area Basement
Berikut gambaran yang saya dapat : Total volume basement 25.500 m3. Ini setara dengan 375 unit Container Panjang ( 40 Feet ) ditempatkan pada posisi berjajar.
Jika terisi penuh, ruangan basement ini mampu menampung 25,5 juta liter  air.

Debit air masuk
Waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi seluruh basement  yaitu 4.5 jam, jadi kurang lebih debit air yang masuk ke area basement sebesar : 1500  liter/sec

Perancangan Sum pit
Sum pit adalah sebuah lubang yang dirancang untuk mengumpulkan air dan cairan tumpah lainnya. Salah satu lokasi yang paling klasik untuk sebuah lubang bah adalah ruang bawah tanah,basement, ruang pompa/gensetl fungsinya agar air dari sisa ruang bawah tanah  di lokalisasi

untuk memastikan bahwa ruang bawah tanah tidak banjir. Biasanya, sump pit dilengkapi dengan pompa pit, pompa yang dirancang untuk menyedot cairan dari lubang untuk memastikan bahwa tidak meluber. Pompa sum pit merupakan jenis pompa submersible (rendam) saya pernah mengulas mengenai pompa ini di artikel yang berjudul Memahami Pompa Benam ( Submersible Pump )

Manajemen Gedung Thamrin Nine menyatakan bahwa di B3 terpasang 6 pompa sum pit dan 3 lainnya terinstall di B4, jadi totalnya ada 9 pompa.
Saya akan berandai-andai disini. Dari gambar spesifikasi sederhana diatas, tinggi B3 ke permukaan 13 meter, dan B4 kepermukaan 17 meter. ( saya perkirakan plus 5 meter pipa memasuki jalur drainase )
Saya ambil data dari Grundfos Indonesia, yaitu type DW . Pompa Type ini  banyak digunakan di area pertambangan, ekskavasi, construction, dan drainase parkir bawah tanah (basement) Beberapa merek pompa memiliki spesifikasi yang tidak jauh berbeda satu dengan yang lain, ada kemungkinan gedung ini menggunakan merek lain, namun dengan spesifikasi yang tidak jauh berbeda.
Spesifikasi Pompa yang mendekati
 Link terkait : http://id.grundfos.com/products/find-product/dw.html

Untuk Basement 3 (B3) total head min 18 meter, Type yang sesuai :
Minimum req : type DW.65.27.3 / 3,4 kw / Debit 17 liter per second
head min 22 meter untuk B4 , Type yang sesuai :         
Minimum req : type DW.65.39.3.H / 5,7 kw / Debit 22,2 liter per second         


Anda tidak perlu melihat merek atau type pompanya, tapi debit yang dihasilkan, Dengan perkiraan spesifikasi pompa seperti diatas, saya perkirakan total debit air sebesar 168.6 liter/sec.
Satu hal lagi, bahwa kondisi saluran drainase diluar sudah terendam air, akibatnya  pompa mendapat beban tambahan berupa tekanan air dari luar, yang dapat membuat motor pompa overload.

Debit air bah yang masuk sebesar 1500 liter/sec , dan pompa sum pit memiliki debit 168,6 liter/sec. Hanya 11,24%  air yang bisa dikeluarkan dibanding dengan air masuk. Tidak berimbang bukan, ini bisa lebih buruk jika management gedung menggunakan pompa dengan spesifikasi lebih rendah. Namun, jika benar seluruh pompa beroperasi dengan benar, minimal bisa memperlambat terisinya seluaruh lantai basement, jadi masih ada tambahan waktu untuk evakuasi.

Kesimpulannya : Meskipun  aliran listrik tetap tersuplay, sistem pompa tidak akan bisa mengatasi derasnya air masuk ke area basement.

Mengapa Tidak ada aliran Listrik 
Ternyata ada masalah lain, aliran listrik terputus. Untuk keamanan, memang ada pemutusan aliran listrik dari PLN. Akan tetapi gedung pabrik dan perkantoran memiliki Generator Set (Gen Set) untuk menggantikannya, dengan menggunakan ATS (Automatic Transfer Switch), secara otomatis jika suplay listrik PLN terputus langsung digantikan Genset. Dalam perancangan electrical Gedung, umumnya Genset berdekatan dengan Panel induk, dan akan  lebih baik lagi (dari sisi biaya material instalasi)  jika berdekatan dengan Trafo PLN.

Terkait lokasinya di Plaza UOB, Saya tidak tahu persis dimana, tapi perkiraan saya antara di B2 atau B3. Terlalu berisiko unit-unit ini diletakkan di B4, terutama terhadap banjir, B4 akan terisi air terlebih dahulu. Jika di B1, konstruksi lantai untuk Genset di design tahan getaran. Tentunya tidak menarik dari sisi biaya konstruksi jika dibebankan di lantai-lantai atas. Jika benar dilokasi ini, logic jika Genset tidak bisa mengambil alih  suplay listrik dari PLN, karena mesin dan unit controlnya sudah tenggelam dalam waktu yang sangat cepat, atau malah sengaja di matikan oleh Teknisi.

Di situasi ini, semua sistem peringatan tidak akan berfungsi, misal  sirine dan loud speaker dalam gedung. Jika benar, kejadian ini akan disertai matinya sarana telekomunikasi, Lift, dan semua infrastruktur yang menggunakan listrik. Kita akan mengetahui lebih detail setelah dilakukannya investigasi dari instansi terkait,
Namun melihat skala bencananya, selama di basement, dimanapun berada, unit ini tetap tidak akan berfungsi.

Bagaimana selanjutnya ...
Design Basement Plaza UOB tidak direncanakan untuk menahan kejadian seperti ini, saya pikir gedung-gedung tinggi lainnya di Jakarta memiliki kesamaan. Tidak bermaksud mendahului hasil investigasi, berdasarkan informasi teknis ini bukanlah kesalahan Design dan konstruksi gedung, dari sisi management Gedung kejadian ini bisa masuk dalam kategory Force Majeure.

Masukan bagi instansi terkait, mohon debit  pompa  ruang-ruang basement Gedung-gedung  untuk mengatasi resiko banjir ditetapkan dengan standard maksimum,  terutama bagi bangunan yang berdekatan dengan saluran drainase atau sungai yang beresiko tinggi. Dan yang lebih penting, dilakukan monitoring yang ketat dalam penerapan regulasinya.

Untuk sumber-sumber tenaga listrik cadangan yaitu Diesel Generator Set ( Genset ) dan Electrical Main Panel harus berada diatas level permukaan tanah, melebihi level resiko genangan tertinggi yang pernah terjadi. Aliran listrik cadangan  menjadi sangat vital saat PLN memutus suplay. Diantaranya untuk  perangkat komunikasi, penerangan, pembangkit unit-unit pompa system pemadam kebakaran gedung dan operasional berbagai  infrastruktur penunjang keselamatan penghuni gedung.


Jebolnya Tanggul Latuharhary 
Bagi saya, justru pertanyaan besarnya yaitu mengapa Tanggul latuharhary  jebol. Apakah ada kelalaian dalam pelaksanaan prosedure perawatan? atau kemungkinan adanya masalah konstruksi. Jika benar, besar kemungkinan tragedy Plaza UOB ini bukanlah yang terakhir. Dinas PU DKI harus bertanggung jawab.
Jika benar ada penyimpangan prosedure, segera copot Ka. Dinasnya dan ganti dengan orang yang lebih kompeten!

Penutup
Sebelum saya mengakhiri, saya mohon maaf,, artikel ini berisikan  perkiraan dan asumsi  di karenakan minimnya informasi teknis yang bisa diperoleh, terlepas dari minimnya tingkat akurasi (validitas)  informasi yang memungkinan terjadinya kesalahan saya dalam menarik hipotesa, kejadian ini adalah bencana yang mengerikan, inilah pesan yang ingin saya sharingkan.

Semoga menjadi  bahan evaluasi bagi para pejabat terkait dan refleksi bagi kita semua sebagai bagian dari masyarakat  dalam mencegah terjadinya hal-hal serupa dimasa mendatang.

PRAY FOR JAKARTA
Sumber foto : Beberapa media online

1 comment:

  1. Analisa mantap nih pak.
    Btw kerja dmn pak dedy ?

    ReplyDelete