Pages

Sunday, January 20, 2013

Menyatukan Produksi, Engineering, dan Quality Control


Sebelum memulai, saya ingin menyampaikan keprihatinan atas bencana banjir di Ibu kota ( hingga menjalar dilingkungan perumahan saya di Tangerang ), Kota Bekasi, karawang, Padang, Samarinda, dan berbagai kota lain di Indonesia.  Semoga kita diberi  ketabahan dan kesabaran pada  mentalitas para pejabat publik  yang tidak (akan) pernah belajar dari kesalahan. Bagi  para keluarga korban meninggal, saya ikut berduka cita bersama anda.


Ok, kembali ke topik pembahasan. Dalam artikel ini saya ingin memberikan sebuah pilihan yang tidak biasa. Ini lebih dari  sekedar  mindset, sesuatu yang riil, yaitu alternatif model struktur organisasi perusahaan.  Mungkinkah menyatukan produksi, engineering dan QC kedalam satu bagian ?
Jawabannya … sangat memungkinkan! Salah satu dasar manufacturing modern yaitu kecepatan. Anda ingat  formulasi ini ?  E = MC2

Rumus  ini menggambarkan teory relativitasnya om Einstein. Energi berbanding lurus dengan massa suatu materi yang bergerak  dalam satuan kecepatan cahaya. Beberapa ahli manufacture menggunakannya dalam manufacture. E yaitu Energi, M yaitu faktor-faktor produksi, dan C yaitu kecepatan.
Energi yang dihasilkan suatu perusahaan tergantung pada tingkat kecepatan seluruh faktor produksi yang dimiliki. Tingkat kecepatan disini bisa berarti kemampuan seluruh organisasi dalam memberikan response, kecepatan pengambilan keputusan, kecepatan dalam mendapatkan solusi suatu permasalahan, kecepatan lead time produksi, hingga kecepatan delivery produk ke customer. Anda bisa  dalam rumus ini. Kecepatan ( C ) secara otomatis di kuadratkan (pangkat 2), artinya  kontribusi dari variable kecepatan  memiliki impack kuadrat. Jika kita fokus pada hal ini, niscaya energi yang dimiliki perusahaan akan meningkat secara significant. Kesimpulannya Energi perusahaan tidak hanya tergantung pada tingginya qualifikasi SDM, tingkat kecanggihan mesin-mesin produksi, modern fasilitas produksi, dll. Namun dengan meningkatkan kecepatan proses, misal sebesar 2 tingkat, akan memberikan dampak 2 pangkat 2 atau 4. Saya mendapat teory ini dari seorang  profesor spesialis manufature management dari University ternama di Korea Selatan. Sudah banyak Perusahaan Korea mengadopsi formulasi ini, pendekatan yang logic bukan ?

Apa hubungannya kecepatan proses manufacture dengan penyatuan 3 fungsi kedalam satu bagian. Menurut saya penggabungkan ketiga fungsi utama ( Produksi, Engineering, dan Quality ) akan memberikan  impack yang sangat besar pada faktor “kecepatan”.
Anda barangkali  memiliki pendapat yang berbeda, misal,” Ah, fungsi ini kan bisa digabungkan dalam satu struktur bertingkat, yang ujung-ujungnya memiliki satu atasan di ujung paling atas.” Ok, saya akan coba ilustrasikan pendapat anda, dengan bagan berikut.




Contoh Model Hirarki Diagram yang melibatkan 3 fungsi dalam proses manufacture
Hirarki Diagram seperti diatas sangat lazim diterapkan pada organisasi manufaturing di Indonesia. Tujuannya sangat jelas, secara fungsional dipisahkan agar masing-masing lebih terspesialisasi dan fokus. Dengan asumsi semakin besar organisasi perusahaan, maka model struktur seperti ini dirasa yang paling optimal. Dan beberapa pendapat memang benar, meskipun terpisah ketiga fungsi ini tetap akan bermuara pada satu titik.

PENYATUAN 3 FUNGSI
Sejauh pengamatan, berdasarkan teknologi dan aspek safety saat operasional dan maintenancenya, saya membagi industri manufacture kedalam 3 golongan besar, yaitu Industri ringan, sedang, berat.

1. Industri ringan, yaitu Industri dimana teknologi permesinannya mengutamakan pada mekanisme pneumatic, mekanisme robotic dalam skala kecil, automatisasi mesin yang belum terintegrasi satu sama lain, translasi dengan menggunakan parts  dalam size kecil, teknologi pemanasan dibawah 5000C, atau teknologi pendingin hingga chiller (-5 oC) atau frezeer (-27oC )

2, Industri sedang, Yaitu Industri dimana teknologi permesinannya menggunakan sumber tenaga pneumatic,  power pack ( Hidraulic ), mekanisme robotic dalam skala lebih besar ( industri otomotif ), Automatisasi dalam skala lebih besar dan saling terintegrasi,  tingkat higienis  sangat  tinggi ( industri obat, electronic  ), mekanisme translasi / rotasi dengan menggunakan parts dalam ukuran lebih besar dan berat ( misal Gear dengan Diameter luar > 1000 mm ), penggunaan motor-motor DC ber kekuatan besar, penggunaan instalasi hot water dan steam, teknologi pemanasan antara 500- 900oC ), atau teknologi pendinginan hingga blast frezeer (-40oC )

3. industri berat, identik dengan  sebutannya, jenis industri ini memiliki ciri-ciri, antara lain ; menggunakan material moving dalam skala besar ( conveyor, forklift, crane untuk tonase besar ), penggunaan intalasi pipa bertekanan dan bersuhu  tinggi ( industri gas, minyak, dan kimia ),  teknologi pemanasan diatas 1000oC ( indsutri peleburan ), atau teknologi pendinginana hingga super frezeer (-60oC ).

Berdasarkan tingkat kompleksitas teknologi yang digunakan, Industri sedang dan berat  menuntut adanya spesialisasi fungsi, saya pernah membahas dalam artikel mengenai engineering, bahkan beberapa industri memiliki struktur yang sangat detail didalam setiap fungsi, dengan masing-masing memiliki head selevel General  Manager. Saya menyebut model ini dengan pabrik didalam pabrik, atau raja – raja kecil.  Jadi jelas secara teoritis dan parctice, untuk kedua golongan industri ini sangat tidak memungkinkan  untuk menyatukan ketiga fungsi, malah cenderung  struktur dimasing-masing fungsi cenderung  semakin melebar, dan dalam operasionalnya menggunakan tenaga-tenaga profesional yang terspesialisasi.

Hasil optimal akan didapat jika model yang saya maksud diterapkan dalam industri ringan.  Biasanya jenis industri seperti ini memproduksi customer product dengan mengutamakan strategi diversifikasi dan mass production. Model industri seperti ini dituntut kecepatan dalam meresponse arah pasar. Model ini dianut beberapa manufacture Jepang yang  productnya memimpin pasar global. Jadi jangan dianggap model struktur seperti ini efektif saat perusahaan dalam taham pertumbuhan ( Growth ).

Mari berbicara lebih teknis. Struktur seperti ini akan menghasilkan karyawan mulai dari operator hingga manager dengan qualifikasi complete, mereka memiliki kemampuan dalam hal production  dan control quality (  level Operator, Foreman, Supervisor, dan manager ), dan ditambah kemampuan dalam hal perawatan dan perbaikan mesin ( level Foreman keatas ). Orang-orang yang memiliki talenta dalam permesinan dididik untuk menjadi petugas maintenance,  yang terbaik akan naik posisinya menjadi foreman, begitu seterusnya hingga posisi manager. Setingkat Grup leader bisa dipastikan adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dalam hal perawatan dan perbaikan mesin plus pengetahuan dan quality mindset yang memadai.

Kombinasi 3 hal ini dalam satu otak, akan memberikan hasil akhir yang luar biasa. Logikanya seperti ini, jika fungsi QC dibuat terpisah, dan ditempatkan QC in line dalam proses produksi apakah mereka akan menjamin proses ? jawabannya tidak bukan ? Industri sepatu menerapkan model QC in line, dan tetap dalam produksi berkecepatan tinggi, QC in line adalah kesia-siaan. Jauh lebih efektif jika setiap operator menjadi QC bagi dirinya sendiri. Begitu pula untuk fungsi maintenance mesin, trouble shooting dan down time lebih singkat, dan yang terpenting  adanya keseimbangan berpikir antara konsep produksi, quality dan machine maintenance, Leader akan menciptakan keseimbangan dimana secara alami akan tercipta titik optimum yang dapat memenuhi aspek quality, volume produksi, dan optimalisasi mesin.

Dalam model ini sebenarnya fungsi QC dan Engineering tidak benar-benar hilang, QC dibatasi pada pembutan standard / specifikasi product, dan operaionalisasi laboratorium uji product. Untuk menunjang fungsi maintenance, ada bagian terpisah yaitu  workshop/bengkel yang berfungsi sebagai pembuat  spare parts dan piping instalation. Diagram Hirarki berikut  menggambarkan model ini.
3 Fungsi dalam  Produksi

Dalam diagram diatas, terlihat hanya ada bagian production sendiri, yang seolah-olah minus dukungan Engineering dan QC, karena  yang ada hanya QC-Laboratory, bahkan ada perusahaan yang menggabungkan QC-Laboratory ini dengan fungsi Management Representatif dan Quality Assurance  (QA). Dan benar jika anda mencari dalam struktur tidak akan bisa ditemui, maksimal yang anda dapatkan yaitu workshop, inipun sebatas operasional mesin-mesin perkakas dan maintenance jalur instalasi pipa, dan building. Jawabannya semua fungsi ini ada didalam produksi itu sendiri. Ketiga fungsi telah melebur dengan sangat sempurna kedalam fungsi produksi. Bagaimana ... anda berminat menerapkannya ?

Akhir kata, model ini seperti menggabungkan 2 kutub medan magnet, utara dan selatan, tampak mustahil bukan ? namun saya ingin sampaikan bahwa tidak ada yang mustahil dalam dunia industri modern ... mengutip tag line ADIDAS " Impossible is nothing" dan jangan lupa ada perusahaan Global diluar sana yang telah menerapkannya  dengan hasil yang luar biasa. 
Semoga bermanfaat & terima kasih

No comments:

Post a Comment