Pages

Sunday, January 27, 2013

Bekerja di Pabrik itu Menyenangkan



Pendahuluan
Sebelum jauh, saya coba gali informasi mengenai perusahaan-perusahaan favorite fresh graduate di Indonesia. Berdasarkan survey yang dilakukan majalah warta ekonomi, yang dilakukan pada periode Oktober – November 2010, yang melibatkan 1590 responden di wilayah Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, berikut 10  besar perusahaan “idaman” di Indonesia dari urutan pertama hingga sepuluh, [1] PT Pertamina (Persero), [2] PT Astra International Tbk, [3] PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), [4] PT Bank Central Asia Tbk (BCA), [5] PT Unilever Indonesia Tbk, [6] PT Garuda Indonesia, [7] PT Indosat Tbk, [8] PT Bank Mandiri Tbk, [9] Chevron IndoAsia Business Unit, [10] PT Medco Energi International Tbk.
Alasan responden dalam menentukan pilihannya antara lain : 1] Memiliki standar gaji yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan lain (30,16%), [2] Memberi tunjangan dan fasilitas yang lebih baik dibandingkan perusahaan lain (28,3%), [3] Merupakan perusahaan besar dan maju (13,1%), [4] Perusahaan terkenal (10,9%), [5] Perusahaan terbaik di bidangnya (10,7% ).


Sebenarnya saya kurang setuju teknik sampling  ini, pertama,  tidak mungkin membandingkan perusahaan – perusahaan dibidang yang berbeda, jauh lebih baik, jika sampling harus di cluster, sehingga perusahaan-perusahaan terbagi kedalam bidang masing-masing.

Alasan kedua, saat menggunakan skala Linkert, dalam menerjemahkan “persepsi” responden,  pertanyaannya, apakah surveyor mememberikan pemahaman yang benar  mengenai skala ini? Dengan luasnya wilayah survey, kecil kemungkinan melakukan ini.

Alasan ketiga, Apakah responden benar-benar mewakili pendapat umum? Gender, Background pendidikan, pengalaman kerja, jabatan, latar belakang pekerjaan, masa kerja, dll. Sangat mempengaruhi sebuah pendapat. Jadi secara proporsional, responden harus mewakili berbagai kelompok. Dan saya tidak melihat data ini, jadi, apakah data penelitian bisa dikatakan valid untuk mewakili pendapat umum masyarakat Indonesia ?

Meski menyisakan banyak pertanyaan, misal mengapa pertamina? Padahal dari target Lifting yang ditetapkan pemerintah saja, tidak pernah bisa mencapai, dan jika dari  aspek Drilling , kan masih ada  operator pengeboran milik asing yang beroperasi di Indonesia? Dimana posisi Conoco, Total Fina, dll.  Ok kita bicara basic salary saja, dari sebuah sumber, berikut  saya mendapat estimasi rata-rata nilai basic salary fresh graduate dibeberapa Mining & Oil  di Indonesia  di tahun yang sama ( 2010 ).  Chevron 15 Jt, Total E&P 12 Jt, Conoco 12 Jt, Pertamina 8 -10 Jt, Haliburton  10 Jt, Exxon  10 jt, CNOOC 9-10 Jt, Schlumberger 9 jt. So, mengapa harus Pertamina ? 

Atau dibidang manufacture, dimana posisi Tetra Pak ? perusahaan yang memonopoli Teknologi pengolahan dan pengemasan makanan/minuman  di dunia dan di Indonesia selama 60 tahun. Kalau boleh saya sebut, Jika di IT  makhluk ini setara dengan Microsoft lah … Oh iya, bicara mengenai standard basic salary di manufacture, jangan mudah tergiur dengan nominal yang tinggi lho ya, siapa tahu, perusahaan ini telah melebur tunjangan tidak tetap kedalam struktur basic salary, jadi dari sisi ini terlihat tinggi, tapi dari Take Home Pay ya sebenarnya  biasa – biasa saja.

Ah sudahlah, saya tidak akan membahas Survey ini berlama-lama. Apapun  bentuk keraguan saya terhadap hasilnya, survey ini memberikan sedikita gambaran mengenai persepsi bahwa bekerja di pabrik bukanlah menjadi pilihan utama, di poin ini saya setuju.

Bersiap Memasuki Pabrik
Pabrik berasal dari kata Fabrikasi atau perakitan, sebenarnya bidang industri ini punya nama keren, yaitu Manufacture. Istilah terakhir ini yang paling sering saya gunakan. Ada pertanyaan yang tidak akan pernah manusia bisa jawab, diantaranya mengapa terlahir sebagai suku bangsa …, dari keluarga …, laki-laki / perempuan, warga negara … Pertanyaan ini yang menyadarkan manusia bahwa Tuhan-lah yang lebih berkuasa. Bagi saya ada satu pertanyaan lagi, Mengapa bekerja di Pabrik ? Sampai saat ini saya belum tahu jawabannya, tapi satu hal yang pasti, Tuhan punya rencana !

Manufacture  bukanlah tempat ideal untuk menjadi mimpi para fresh graduate, ini adalah fakta. Meski mengambil jurusan Teknik Mesin, Elektronika, Pertambangan, Arsitektur, Sipil masih saja terselip di otak para engineer – engineer muda kita ini untuk jadi PNS, menjadi pengusaha mandiri/ enterpreniur, atau malah kerja di Bank. Ah … buat apa kalian capek – capek habiskan waktu belajar menjadi engineer kalau tidak mau bermimpi  bekerja di bagian engineering.  Apakah karena Engineering  ini bagian dari organisasi sebuah pabrik ?

Saya akan berbicara mengenai idealisme. Pertumbuhan ekonomi 2012  Indonesia di level 6,7% sangat membanggakan. Ini memberikan gambaran begitu kuatnya pertumbuhan sektor real melalui investasi tahun lalu. Dimanakah sektor real itu ? sektor real yaitu sektor investasi di industri manufacture. Dan bidang ini memerlukan kita.

Saya menulis artikel mengenai “Sejarah Industrialisasidi Indonesia”,  memang benar, sejarah industri kita berasal dari mesin-mesin di pabrik tebu pada era tanam paksa. Hingga tahun 80-an, industri manufacture dipersepsikan sebagai bidang indsutri yang keras dan “tidak nyaman”, identik dengan demonstrasi, upah murah, rendahnya inovasi, dll. Program Repelita pada era orde baru, yang mencanangkan era indsutrialisasi dalam mengejar pertumbuhan ekonomi instant . Menyebabkan pesatnya pertumbuhan industri padat karya yang diikuti laju urbanisasi besar-besaran. Jangan bicara kompetensi dan kompetisi saat itu. Dalam sudut pandang saya, memang ada beberapa aspek, namun masalah kompetensi inilah yang salah satunya menjadi penyebab tidak kuatnya industri manufacture dalam menghadapi badai krisis tahun 1998.

Namun ini semua cerita lalu. Saya telah mempelajari dengan detail beberapa sekor industri manufacture di beberapa culture ( manufacture Indonesia, Jepang, Korea, Jerman ). Tekanan berbagai situasi seperti politik, ekonomi, sosial telah mendorong terjadinya perubahan pada manufacture di Indonesia untuk lebih kompetitive. Perusahaan-perusahaan Nasional semakin sadar pentingnya teknologi, re-engineering, dan Inovasi produk. Selama saya berada didalamnya, bebrapa tahun belakangan industri manufacture menjadi tempat yang menyenangkan dan menggairahkan, pameran-pameran teknologi semakin sering, barangkali ini dipengaruhi oleh tumbuhnya indsutri  permesinan China. Strategi Marketing juga lebih kearah Diversifikasi Produk, sehingga proses tidak monoton. Pak SBY juga mencanangkan bahwa era upah buruh murah sudah berakhir. Artinya, hanya orang-orang  yang memiliki kompetensi dan kompetitive yang bisa memasuki indsutri ini. Inilah hukum yang berlaku, jika ada perusahaan yang melanggar, alam akan menghukumnya.

Apa yang harus disiapkan untuk  bekerja di pabrik ?
Pertama mindset, mulailah berpikir bahwa  bekerja di pabrik memerlukan kompetensi yang memadai karena  dunia industri telah memasuki era kompetisi yang crowded.

Kedua, pelajari bidang keahlian khusus anda, jika anda study di bidang mesin, jadilah ahli mesin yang benar, begitu pula dengan bidang lainnya, elektonika, pertambangan, perikanan, kelautan, arsitektur, sipil, kimia, IT, dll, jangan pernah mempercayai  jika ada orang yang berkata, “kuliah yang diperlukan yaitu perubahan mindset.” Tidak hanya mindset, proses kuliah merupakan transformasi dari tidak bisa menjadi bisa untuk bidang-bidang tertentu dan sudah terspesialisasi. Saya berbicara mengenai Knowledge (pengetahuan) dan Skill  (ketrampilan). Jika anda sudah berpikiran menjadi enterpreniur, saya pikir anda salah jurusan dan putus asa dalam proses kuliah.

Ketiga, Tanamakan ini. Bekerja di pabrik bukanlah untuk selamanya, bekerja di pabrik memberikan peluang lebih luas bagi kita untuk  memperdalam penguasaan keahlian. Ada banyak pengetahuan yang didapat disini, termasuk mengenai dunia bisnis itu sendiri. Dengan memasuki dunia Industri, anda memiliki peluang untuk menjadi pemain utama. Secara alami, jika kita memiliki mental wirausaha, peluang-peluang yang terkait dengan bidang keahlian dan benar-benar dikuasai akan bermunculan. Misal seorang engineer senior, memiliki peluang untuk menjadi distributor Genset, Pompa, Electronic Parts, Pneumatic Parts, Consultant Automatisasi, Consultant management, Consultant Quality Sistem, Bisnis Scrap, Bisnis barang bekas sisa packaging, dan lain-lain. Bidang-bidang yang terspesialisasi seperti ini memerlukan penguasaan dan kedalaman pengetahuan . Tidak  banyak orang yang mampu, tentunya ini baik untuk bisnis anda bukan? Dari pada berwirausaha di bidang yang hanya bermodal “mental”, dan terlalu mudah untuk ditiru.

Penutup
Bukannya sentimen dengan program wira usaha yang didengung-dengungkan pemerintah. Namun belakangan saya berpikir frekuensi  dari  sosialisasinya sudah mengarah ke indoktrinasi, malah ada university yang khusus  memberikan mata kuliah tentang wira usaha. Awalnya saya berfikiran positif, namun lambat laun, kok sepertinya ini menjadi semacam solusi instant dan jangka pendek dari pemerintah akibat ketidak mampuan dalam memberikan lapangan pekerjaan. Jadi dengan konsep MLM diharapkan akan muncul  enterpreniur-enterpreniur  yang secara teori akan membantu penyerapan  tenaga kerja di Indonesia. Tapi satu yang pemerintah mungkin lupa,  tenaga kerja yang bergerak di sektor – sektor ini  masuk dalam kategori informal, yang  sangat jauh dari perlindungan UU ketenagakerjaan.  Saya melihat standard ganda disini, di satu sisi pemerintah mencanangkan berakhirnya era upah buruh murah, namun disisi lain mendorong terciptanya situasi ketenaga kerjaan yang lebih buruk.

Stop Indoktrinasi ini, dan jauh lebih tepat jika pemerintah mendorong para tenaga kerja dan calon tenaga kerja memiliki  pengetahuan, keahlian, dan attitude ( kompetensi ) yang baik dan terspesialisasi. 
Dengan cara apa ?

1) Bagi calon tenaga kerja yang belajar dari institusi formal ( SMK, University ) Pemerintah membuat kebijakan yang mendorong sistem pendidikan bertumbuh dan memiliki kaitan dengan dunia Industri. Ini tidak sekedar lembaran Undang-undang, melainkan melibatkan banyak stake holder, mulai dari tingkat kesejahteraan pendidik, budget untuk riset, biaya pendidikan, tersedianya  infra struktur pendidikan, dll.
2) Di tingkat SMP, SMU, SMK berdayakan Program Bimbingan Karir (BK), bidang ini memerlukan keahlian khusus dan orang-orang yang profesional . Pastikan kita memiliki sistem yang bisa membantu anak-anak Indonesia mengetahui sejak dini, dimana bidang keahlian mereka.
3) Bagi calon tenaga kerja yang belajar dari sektor nonformal ( BLK, dll ), pemerintah memberikan pelatihan dan sertifikasi yang diakui oleh dunia industri. Misal Operasional mesin-mesin perkakas, Welding skill, Akuntansi, perpajakan, dll. Evaluasi kinerja semua Balai latihan kerja di seluruh wilayah Indonesia, apakah mereka efektif. Apakah alokasi  dana dari pemerintah sudah memadai ?
4) Mempermudah mekanisme pemberian modal.

Pesan untuk para pemegang  kuasa di Istana (dan sekitarnya), “ tidak ada yang instant bung.” Semuanya harus melalui proses, pengorbanan, biaya, keahlian dan profesionalisme. Project Indoktrinasi mengenai enterpreiurship secara masif, dalam jangka panjang adalah kesia-siaan!

Bekerja  di Pabrik sangat menyenangkan, kita memiliki kesempatan mengupdate teknologi dan knowledge  secara gratis, berbagai  project inovasi dan lingkungan sosial yang unik. Anda juga berkesempatan mengetahui perkembangan teknologi diluar negri dengan mengunjungi pusat-pusat teknologi dan berinteraksi dengan  para expert secara gratis. Simbiosis mutualisme, pengusaha mendapatkan peningkatan kinerja, dan kita mendapatkan pengetahuannya. Uang atau Salary memang penting, tetapi bukanlah yang terpenting !
Welcome to Manufacture … Good Luck.


17 comments:

  1. Salam kenal Pak Dedy. artikel yang menarik. bagi saya bekerja di pabrik memang menyenangkan. apa lagi kalau tercipta suasana kekeluargaan antara operator dan staf beserta pimpinan manajemen. ada rasa memiliki.
    kunjungi website kami www.maximasukses.co.id
    Bergerak di bidang fabrikasi, machining dan suplaier spare part industri.
    Semoga kita bisa bekerjasama.
    Salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga,
      Terima kasih untuk informasinya, mudah2 an kita ada kesempatan bekerja sama.

      Delete
  2. trimk bung dedy..artikelnya sangat menginspirasi saya,
    kebetulan fresh graduate, chemical engineering, sedang mencari kerja
    lumayan, bekal sbelum masuk didunia kerja, tks :)

    kunjungan balik
    blog-engineer.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. You've amazing Blog. Keep Blogging & Good Luck

      Delete
  3. thank bung dedy artikelnya menarik..meskipun sya kerja di pabrik,tapi disana membuka wawasan yg luas bagi saya..sya lulusan SMK TI,tapi diterima sbg op boiler.. :-D

    ReplyDelete
  4. Salam kenal Bapak Dedy,
    Suatu artikel yang menarik Pak....suatu saat nanti saya yang buruh pabrik juga mengharapkan adanya artikel seperti ini namun bagi kamu yang bukan lulusan universitas tapi buruh kecil keluaran SMA, SMK, STM...yang berpenghasilan dari UMR. Terutama buruh Garment dengan manajemen Korea, Jepang dan India/Pakistan.
    Mohon sekali Pak dilakukan penelitian secara ilmiah mengenai "senangnya" kerja di Pabrik.
    Juga apakah Disnakertrans memberi masukan bagi ahli bangsa asing yang bekerja di pabrik di indonesia bagaimana "cara menghadapi orang Indonesia" dalam hubungan kerja, terutama pada saat memberi instruksi, alih tehnology, sopan-santun dsb.
    Terima kasih Bapak Deddy.

    ReplyDelete
  5. Tq pak Dedy atas sharingnya.

    Semoga kita bisa bercakap2 untuk sharing dan masukan untuk saya yang kebetulan berpindah haluan dari dunia IT ke Manufacturing (di PPIC)..
    Saya sudah email melalui contact us. :)

    Have a nice day pak.
    Good luck.!

    ReplyDelete
  6. Salam Kenal P'Dedy.

    Membaca Artikel Bapak , jadi termotivasi untuk menjadi ahli ( tp belum tahu ahli dibidang apa , karena keterbatasan pengetahuan ).
    dari artikel diatas ada catatan yang cukup menghujam (Dari pada berwirausaha di bidang yang hanya bermodal “mental”, dan terlalu mudah untuk ditiru.).
    Kata-nya setelah menjadi " berwirausaha" memang dituntut untuk selalu kreatif.

    terima kasih P'Dedy

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. Artikel yang sangat menarik untuk di bahas

    Salam kenal Saya Bayu Dari semarang. Yang saya dapat dari artikel ini adalah menurunnya minat kaum muda untuk bekerja pada sektor manufacture terutama menjadi buruh, tentu hal ini di sebab kan oleh beberapa sebab. penyebab tersebut di antaranya adalah tumbuh nya perekonomian negara kita , semakin tumbuh kesadaran orang tua maupun pemuda untuk meraih pendidikan yang tinggi,semakin banyaknya investasi yang masuk ke negara kita dan lain2. Saat ini hampir semua sektor tumbuh dan memerlukan banyak tenaga kerja, di antaranya Manufacture, properti, mining, agrikultur,finance,trade, hotel dan pariwisata,infrastructure dll. Dengan tumbuhnya sektor sektor tersebut maka sektor manufacture harus bersaing dalam mendapatkan SDM dengan sektor sektor lain nya.contohnya Lulusan engineering bukan hanya milik sektor manufacture, karena hampir di butuhkan semua sektor,bahkan Bank sekalipun yaitu sebagai maintenance building.Dengan keadaan ini maka tentu saja lulusan engineering lebih memilih sektor mana yang lebih menjanjikan dan memberikan kesejahteraan yang lebih baik untuk dirinya dan masa depan nya. Dalam pemikiran orang mengapa sektor manufacture sering identik dengan buruh kasar, tdk ada jenjang karir, tidak ada prestige nya kerja di pabrik, lingkungan kerja yang terpisah antara staf kantor pabrik dan produksi seolah beda kasta, demo buruh, upah murah, PHK tanpa pesangon dan lain lain. mengapa hal itu bisa terjadi tetapi jarang di temui pada sektor lain. Beberapa kejadian tadi itulah yang menyebabkan orang enggan untuk kerja di pabrik. kalau saya bandingkan dengan pekerja operator tambang misalkan, sama sama kerja kasar (operator alat berat) dapat shift, resiko keselamatan jg tinggi tetapi mengapa operator tambang ini berani menggaji lebih tinggi, berani memberikan libur lebih lama sehingga operator2 tambang ini menadi favorit lulusan anak2 smk.
    Saat ini banyak muncul kawasan industri di daerah2, bahkan di boyolali saat ini kekurangan tenaga kerja 16000 orang. hal ini sulit di bayangkan terjadi saat 10 tahun yang lalu di mana mencari kerja sulitnya bukan main.sesama sektor manufacture aja sdh terjadi persaingan untuk rekrut sdm, ini bukan lah hal yg buruk.Dengan demikian posisi tawar buruh menjadi tinggi dan upah murah akan hilang dengan sendirinya tanpa perlu ada intervensi dari pemerintah. Apapun itu manufacture harus tetap ada , sebagai pemenuh kebutuhan konsumsi masyarakat maupun yg lain dan sebagai sumber pendapatan negara.Kedepan, mungkin untuk memenuhi kebutuhan sdm buruh apabila sudah sulit untuk merekrut buruh maka dapat di lakukan beberapa alternatif, yaitu melakukan otomatisasi industri maupun dengan mendatangkan buruh dari negara lain (bangladesh,india,nepal,afrika ,etc) seperti yg dilakukan malaysia maupun negara- makmur lain nya. dan tidak perlu memaksa orang untuk menjadi buruh.cepat atau lambat mau tdk mau suka tidak suka Indonesia akan mengalami hal seperti itu seiring pertumbuhan ekonomi negara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedikit cerita,
      setelah lulus smk ,saya kerja di pabrik , itu pertama kali sy kerja. saya kerja di sebuah industri kertas. Product perusahaan itu adalah continues form, fax paper amplop, smart card, segel kotak suara pemilu, surat suara pemilu dll. saya bekerja disitu sebagai maintenance mesin.sebagai gambaranya perusahaan itu adalah sebuah group yang mempunyai beberapa cabang yaitu medan,surabaya, kerawang, jakarta, semarang. saat itu saya ditempatkan di surabaya. di cabang di surabaya itu di pimpin oleh seorang GM ,mempunyai 3 manager, dan karyawan sekitar 100 orang.untuk karyawan produksi hampir semuanya alumni smk grafika malang.untuk maintenace 3 orang termasuk saya dan 1 orang kepala maintenance. saat itu saya mengalami rasa tidak nyaman yg luar biasa intinya saya tdk kerasan.saya terus membanding bandingkan tempat saya magang dulu di malaysia di sebuah hotel bintang 5.setahun sebelumnya saya hidup nyaman kemudian di th 2005 saya harus kerja di pabrik, saya tinggal di mess di blkng pabrik.saya berada di lingkungan kawasan pabrik yang sungguh tdk nyaman, area pergudangan gersang. ok,Itu soal lingkungan yang mungkin orang lain tidak akan mempermasalahkan.terus gmn suasana kerja nya?, bagian produksi di batasi sama dinding dengan staf dan management.saya benar benar merasa di bedakan antara orang produksi dan staf yg pernah kerja di pabrik akan tau seperti apa tanpa saya cerita di bedakannya sprti apa). kalau anak produksi begitu masuk kerja, ruangan produksi langsung di kunci dari luar sama satpam (rasanya seperti budak). pakaian seragam kerja cuma kaos yg ada krah nya itupun cuma dapat 2, udah dapat di bayangkan baunya seperti apa kalau papasan ma anak produksi, maka dari itu mungkin orang staf enggan bertemu anak2 produksi yg beda kasta.

      Delete
    2. Dari sisi karir, orang pribumi hanya maksimal sebagai supervisor kecuali HRM orang melayu sumatra utara.Dan memang banyak pabrik di luar sana yaitu perusahaan lokal milik non pribumi yang jg seperti itu. Jadi kami hanya bisa jadi babu di negeri sendiri di tanah sendiri. Masih mending PMA,untuk jajaran management masih bnyk di jumpai level menegement dari orang pribumi.yang saya heran adalah para operator produksi sangat menjiwai dengan yg dikerjakanya, ya mungkin karena sesuai jurusan nya ,smk grafika. jadi mereka dimana2 ngomongin masalah kerjaan.sangat antusias mereka untuk kerja di pabrik, sehingga mereka lupa untuk melanjutkan kuliah.kalau saya berprinsip meskipun udah kerja , tdk boleh hanya cukup ijazah SMK. yang saya heran dari mereka waktu itu, apakh mereka mau kerja di pabrik seperti itu sampai tua. Namun dari semua cinta mati mereka terhadap pabrik, mereka bertepuk sebelah tangan dengan owner.owner hanya menganggap buruh pabrik nya hanya sapi perahan, ini terbuktu ketika pabrik cabang kerawang melakukan unujk rasa untuk menuntut supaya management menggaji mereka mengikuti UMR setempat (terjadi tahun 2013), mereka langsung dipecat. kalau ga salah itupun bermasalah mengenai pesangon sampai ke pengadilan bbrp kali.
      Alhamdilillah saya kuat di Pabrik tanpa masa depan tersebut 5 bulan, setelah itu saya tdk mau kerja di pabrik. saya kerja di sektor lain,sambil kuliah saya bekerja. Masa masa pahit dalam hidup saya yang tidak akan pernah saya lupa adalah ketika saya kerja di pabrik. 5 bulan di perusahaan itu terasa sangat lama.Di sektor yang lain saya tidak merasakan hal2 seperti di pabrik diantaranya diskriminasi ras, diskriminasi bagian (produksi dan staf kantor), dan di sektor lain saya menemukan orang2 sevisi bahkan melebihi saya visi mereka.

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete
    4. Setelah beberapa tahun keluar dari perusahaan tersebut saya di pertemukan lagi dengan teman2 pabrik tersebut lewat sosmed, mereka sampai saat ini masih ada yg kerja di pabrik tersebut tetapi ada jg yang sudah keluar, yang saya kawatirkan dari mereka pada waktu itu terbukti, mereka tdk mengalami perubahan yg signifikan dalam hidup mereka.Saya berharap ketika Negara kita perekonomian nya semakin maju kelak, rakyat kita bekerja pada sektor manufactur tetapi menempati posisi2 strategis dan ada karirnya dan tdk ada lagi yang menempati posisi2 buruh.Dalam artikel di atas jg ada kritikan terhadap generasi muda meskipun belajar di engineering tp bekerja di bank, itu tdk bisa di salahkan, karena pengalaman saya ketika kerja di pabrik ,waktu papasan ma orang kantoran (cewek) saya jd galau krna itu pasti bukan segment pasarku :(
      pikirku waktu itu.hehe,,.dan ketika ada pegiat wira usaha untuk kamum muda jg jgn di salahkan karena itu dapat menciptakan lapangan kerja. semakin tersedia bnyk lapangan kerja maka semakin tinggi posisi tawar pekerja,

      Terima kasih

      Delete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete