Pages

Tuesday, January 01, 2013

Manufacture ...Selamat Memasuki Tahun 2013



Kamis, 27 Desember 2012
Jam 8 pagi, saya sampai ke lokasi pabrik, seperti biasanya, Manager PPIC, Chief Production  dan beberapa orang staff tampak memulai aktivitasnya. Kami berada dalam satu ruang operation yang berisi team PPIC, Purchasing, Quality Control, dan Production Staff. Saya menuju ke meja production Manager, satu meja didepan Chief production dan disamping kanan PPIC manager. Setiap pagi menjadi rutinitas kami di produksi dan PPIC untuk monitoring hasil produksi kemarin, seluruh data kami analysis, dengan meeting kecil  tidak kurang dari 15 menit, kami dapat  meng-evaluasi kinerja kemarin, dan saya sudah mendapat 100% gambaran apakah produksi masih sesuai rencana hari ini, 80% rencana minggu ini, dan 50% dibulan ini.


45 menit setelahnya, saya menuju  ruang workshop. Setiap pagi team maitnenance, yang terdiri dari workshop, dan engineering melakukan meeting koordinasi. Team inilah tulang punggung produksi, 80% kecepatan dan kekuatan kami sangat tergantung dengan  kinerja mereka. Kebetulan secara struktur team  maintenance ada dibawah saya. Pertengahan tahun ini, mudah-mudahan kami bisa memiliki team workshop yang lebih kuat dengan adanya penambahan personel dan beberapa  tambahan mesin utama. Dalam meeting, tidak ada issue yang sangat penting, semuanya berjalan normal, hanya pertanyaan beberapa orang mengenai libur tahun baru, dan paling lambat saya baru akan putuskan dihari sabtu. Saya tidak ingin karyawan slow down, itu alasannya.

Setelah Meeting dengan Team Maintenance, saya mampir sebentar ke ruang control produksi, setiap awal shift , para leader juga melakukan hal yang sama, yaitu meeting koordinasi. Dan di awal shift ini juga, setiap harinya setiap Grup leader di semua bagian melakukan briefing 5 menit untuk semua operator dan teknisi. Tidak hanya daily meeting, kami memiliki weekly meeting yang dilakukan terpisah, untuk leader di Maintenance  dan Produksi . Terkait dengan hal ini, kami sangat percaya, bahwa  alur komunikasi dan informasi  sangat  berpengaruh pada kecepatan  dan kekuatan produksi.  Intinya, setiap poin penting dan critical hasil evaluasi 15 menit tadi, dengan sistem, kami harus pastikan semua karyawan pada lini terdepan ( front line ) mengetahui dan memahami pada hari itu juga.

Saya kembali melaukan patrol pagi dan berbincang dengan para leader dibawah. Tidak hanya masalah kerja, terkadang mereka  kami juga berbincang atau berdiskusi masalah keluarga. Karyawan kami lebih didominasi perempuan. Mereka adalah wanita-wanita perkasa, beberapa orang bersama suami menjadi tulang punggung keluarga, dan banyak juga mereka sendirilah yang menjalankan peran ini. Perbincangan kami tidak lepas dari aspek ekonomi. Apalagi kalau tidak masalah pendapatan. Saya sangat setuju bahwa standard upah mereka didesain tidak untuk mencukupi kebutuhan hidup di level normal. Kadang penghasilan tambahan dengan Jam lembur menjadi pemasukan yang tidak kalah besarnya.  Tanpa mengurangi rasa empati, saya selalu berpesan bahwa masalah ekonomi tergantung bagaimana kita mengaturnya. Jika gaji dan lembur tidak cukup, cobalah untuk melakukan bisnis sampingan selama tidak mengganggu. Untuk hal ini, saya siap untuk menjadi konsultannya … free. Di akhir perbincangan kami, dengan tulus mereka berharap semoga perusahaan terus maju, agar kehidupan karyawan dan keluarganya juga ikut terbawa menjadi lebih baik. 
Mereka adalah tulang punggung ekonomi keluarga, dengan keterbatasan modal, skill dan knowledge, salah satu jalan keluarnya yaitu bekerja di pabrik.

Jumat, 28 Desember 2012
Jam 1 siang, saya meeting dengan Direktur.  Semenjak gelombang demo menuntut  kenaikan UMP/UMK, kami selalu memonitor perkembangannya. Hingga berita terakhir, keluarnya SK Gubernur DKI untuk menaikkan UMP DKI 2013 hingga 45% lalu diikuti SK-SK  dari Gubernur propinsi  lain, poinnya kurang lebih sama, UMP 2013 naik rata – rata 45 % dibanding 2012. Tidak hanya ini, pada bulan November kami juga sudah memprediksi bahwa pertengahan tahun depan, Tarif Dasar Listrik pasti naik, kisarannya ada di 15%. Efek kenaikan tingkat upah dan Listrik, akan memberikan  efek domino yang sangat besar selain hanya Factory Labor Cost. Terkait dengan kondisi yang sama dialami oleh pabrik-pabrik suplier  material dan ekspedisi, Purchasing Cost juga dipastikan akan naik. Dan Pesan Management Jelas, perusahaan tidak bisa menaikkan harga untuk mengimbanginya.

Untuk beberapa manufacture yang bergeraka dalam Industri makanan dan minuman seperti Mie Instant, Snack, Soft Drink, Air Dalam Kemasan, dll , lebih memungkinkan untuk menaikkan harga jual produk, artinya kenaikan biaya produksi dibebankan pada customer. Namun untuk Industri lain tidak semudah itu. Dan perusahaan kami termasuk Industri lain ini. Jadi Impossible menaikkan harga jual! Customer di Jepang dan Eropa tidak akan peduli dengan kondisi di Indonesia, karena sampai saat ini produk kami sudah tdiak bisa bertarung dengan China dalam hal harga, selling poin kami ada di quality. Pada batas tertentu kami menyadari selling poin ini  tidak akan banyak membantu. SAVING COST dan INCREASE PRODUCTIVITY ! Itulah jawabannya.

Saving Cost dapat diperoleh dengan menghilangkan pemborosan. Seperti diketahui, aktivitas ini merupakan bentuk dari Implementasi Lean Manufacturing. Implementasi ini tidak bisa diperoleh hasilnya dalam 1 atau 2 tahun, karena target jangka panjangnya yaitu membentuk suatu budaya perusahaan ( organization culture ), beberapa perusahaan mencoba menggunakan ini sebagai proyek instant, namun sepengatahuan saya, tanpa didasari sikap mental dari seluruh karyawan, kesinambungannya akan menjadi sangat sulit, karena memang kita tidak bisa melihat program saving cost sebagai "proyek" yang cenderung jangka pendek. 

Increase Productivity. Kami memiliki Rumus Productivity Perorang , yaitu Total Record produksi : Total orang. Naikkan Record atau turunkan penggunaan orang. Hanya itu pilihannya, sialnya, saya tidak bisa menaikkan record semaunya sendiri, dengan model MTO ( Make To Order )  kita tidak bisa men-drive  customer untuk order sebanyak-banyaknya. Dan akan berbahaya jika kami putuskan untuk membuat stock, bagaimana kalau tidak terjual ? Apakah kami harus meng-upgrade teknologi proses menuju Automatisasi dan  less worker process ? Sudah siapkah kita melakukan Revolusi IndustriPertanyaan terakhirnya, Apakah kami harus melakukan pengurangan tenaga kerja ?

Anda bisa bayangkan, dalam tempo 1 hari, saya dihadapkan pada dua perspektive yang sangat berseberangan, sisi yang satu pekerja dan sisi lainnya pengusaha. Dalam hati kadang saya mengeluh, Ah … apakah Aktivis-aktivis buruh memahami kemungkinan ending yang seperti ini ? Apalagi saat mendengar statement Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) , Said Iqbal bahwa Menjajaki awal tahun 2013, serikat Pekerja terus meminta kenaikan upah setiap tahunnya sebesar 30% hingga genap 100% pada 2015. Artinya kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2013 mencapai 40%, harus dilanjutkan kenaikan UMP 2014 & 2015 masing-masing 30%.

Apakah tuntutan ini normal ? Apakah beliau ini sudah pernah berada di posisi Manager dan dihadapkan dalam situasi sulit seperti  saat ini ? Jika diposisi saya, pilihan apa yang kira-kira beliau ini ambil ? Jawaban dari pertanyaan ini gelap bagi saya, awal yang sempurna untuk memasuki 2013 bukan ?

Senin, 31 Desember 2012
Hari ini saya libur, semua sesuai rencana, di awal bulan kami sudah targetkan  produksi terakhir jatuh pada hari sabtu, 29 Des, untuk memenuhi semua order di bulan Desember.  Jadi semua karyawan bisa menutup tahun bersama keluarga.

Di tahun 2013 ini pertumbuhan industri manufacture masih remang-remang bagi saya, mudah-mudahan rencana ekspansi kami tidak terganggu dengan adanya masalah Upah ini. Dan bagi semua Leader dalam Struktur Organisasi Industri Manufacture di Indonesia, apakah anda di posisi Grup Leader, Mandor, Supervisor, Manager, hingga Direktur, saya sampaikan Selamat Tahun Baru 2013, semoga tahun ini kita dan perusahaan kita menjadi lebih baik

God Bless You ! Warms Regards,
Dedy Londong

1 comment:

  1. Blog yg sangat membantu saya memahami manufacture. Jgn sampai perusahaan asing alih tempat ke negara tetangga krn cost tenaga di indonesia semakin mahal. Dilematis.

    ReplyDelete