Saya pernah mendengar pertanyaan menarik ini. Jawabannya terkadang tergantung siapa yang dfmenjadi obyeknya. Ya dialah yang menanggap terpenting. Kalau gak ada perasaan sedikit gak enak, paling akan muncul dengan jawaban aman “ semuanya penting “.
Mari kita
bongkar satu persatu, apakah itu manager dan Supervisor. Pertama kita akan menemukan referensi.
Dalam Buku yang
berjudul “ Manajemen “ Robbins dan Coulter, memberikan uraian yang detail
mengenai pembagian manjer berdasarkan fungsi manajerialnya.
“
Manajer adalah seseorang yang melakukan koordinasi dan pengawasan terhadap
pekerjaan orang lain.sehinga sasaran-sasaran organisasidapat dicapai .
Pekerjaan seorang manajer bukanlah menyelesaikan tugas-tugasnya pribadi,
pekerjaan manajer adalah berupaya membantu orang lain menyelesaikan tugas-tugas
mereka dengan baik. Wujudnya dapat berupa koordinasi atas pekerjaan suatu
kelompok dan depertemen tertentu didalam perusahaan, dapat pula berupa
mengawasi pekerjaan individu tertentu.
Para
Manajer biasanya dikelompokkan kedalam kelas Manajemen Lini Pertama (
operasional ), Manajemen Tingkat Menengah, dan Manajemen Puncak ( Lihat gambar
piramida dibawah )
Pada
jenjang terbawah manajemen, para Manajer
Lini Pertama ( First Line Manager ) mengelola pekerjaan para karyawan non –
manajemen, yang biasanya melibatkan kegiatan memproduksi barang-barang atau jasa bagi para pelanggan
organisasi.Manajer lini pertama seringkali disebut juga penyelia ( Supervisor
), namun dapat juga disebut manajer shift kerja ( shift manager ), manajer
Distrik, manajer depertemen, atau manajer kantor ( office manajer ).
Manajer Tingkat Menengah ( Middle
Manager ) adalah mereka yang berada pada posisi diantara jenjang terbawah
dan jenjang teratas organisasi. Para manajer dari kelompok ini mengelola
pekerjaan dari manajer tingkat pertama dan dapat memiliki sebutan ( title )
semisal manajer regional, pimpinan proyek ( project
leader ), manajer toko ( store manajer
), atau manajer divisi .
Pada Jenjang teratas didalam organisasi , duduklah para Manajer Puncak ( Top Manager ), yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan – keputusan yang dapat mempengaruhi jalannya seluruh organisasi dan menentukan rencana kerja dan sasaran-sasaran bagi organisasi secara keeluruhan. Orang – orang yang berada pada posisi ini biasanya memiliki nama jabatan semisal VP Eksekutif ( Executive vice president ), direktur pelaksana ( Managing director ), direktur operasi ( Chief Operating Officer ), atau direktur utama ( Chief Executive Officer ) .”
( Robbins,S.P dan Coulter,M.(2010).Manajemen.edisi kesepuluh, Hal.6.Jakarta:Erlangga )
Nah, Setelah membaca uraian diatas, apa yang anda pikirkan. Mungkin anda pernah menemui sebuah lowongan kerja “ First Line Manajer”, tepat seperti uraian inilah yang dimaksud. Mari kita terjemahkan uraian diatas kedalam struktur organisasi yang umumnya diterapkan di perusahaan Indonesia.
Bagan
Struktur Organisasi diatas hanya contoh saja, berdasarkan referensi diawal
artikel ini, mari kita klasifikasikan ke
dalam 3 jenjang utama.
1. Top
Manager : Direktur
2. Middle Manager : Kepala Pabrik,
Manajer Keuangan, Manajer Marketing, Manajer SCM ( Suplay Chain Management )
3. First Line Manager : Artinya semua
jabatan dibawah Middle manager dan diatas Operator/Operasional level. Yaitu,
Mulai dari Grup Leader, Kepala Shift, Kepala Seksi ( Section Chief ), Supervisor
( SPV), dan Manajer Departemen (
Produksi, QC, Teknik, HRD, PPIC, Gudang-Logistic, Purchasing )
Anda bisa
membuat kriteria berdasar perusahaan tempat anda saat ini, karena meskipun
memproduksi jenis produk yang sama, antar perusahaan memiliki sisi unik, yang
dapat membedakan jenjang jabatan atau struktur organiasai.
Kembali ke Judul
artikel ini. “ Mana yang lebih penting,
Supervisor atau Manager ?” Ternyata Pertanyaannya yang kurang tepat. Karena
Supervisor juga masuk dalam kategori Manajer, yaitu Manajer Lini Pertama (
first line manajer ).
Dalam satu
wilayah operasi, saya ambil contoh Depertemen Produksi. Jika kita kembali ke
contoh bagan diatas, Manajer Departemen Produksi – Section Chief – Kepala Shift
– Grup Leader berada dalam satu unit kerja, yaitu unit kerja produksi. Struktur
seperti ini, diciptakan dengan mempertimbangkan jumlah operator/karyawan
operasional langsung ( seperti operator mesin, Teknisi lapangan ) dan fungsi –
fungsi didalamnya. Karena Manjer tidak bisa seorang diri handle seluruh aktivitas
operator atau teknisi di lapangan. Apakah mereka sudah bekerja sesuai SOP ?
Apakah mereka memahami bagaimana mengoperasikan mesin ? Apakah mereka terjamin
keamanan / safety selama bekerja ? Apakah mereka memproduksi barang berdasarkan
item dan jumlah sesuai rencana ? Apakah produk terjamin kualitasnya ? dan lain
sebagainya.
Seorang Manajer
Departemen, membutuhkan telinga tambahan untuk mendengar apa saja yang
disampaikan oleh operator di lapangan, mata tambahan untuk melihat segala
aktivitas opreasional di lapangan, mulut tambahan untuk menyampaikan arah
operasional dilapangan, tangan dan kaki tambahan untuk menyelaraskan tempo
kecepatan di lapangan. Jadi segala hal yang dikerjakan oleh Manajer Departemen,
terhubung langsung dengan semua aktivitas operasional di lapangan. Untuk itulah,
di bentuk posisi struktural pembantu yang juga saling terkait, dan
tersinkronisasi, sampai pada tingkat kepala di lapangan.
Beberapa Manajer
Departement , Aktivitasnya akan dikelola oleh Middle Manager, dan diatas
diposisi puncak ada Top Manajer yang mengelola keseluruhan perusahaan.
Lalu mengapa
pertanyaan seperti “ Mana yang lebih penting, Supervisor atau Manager ?” dapat
muncul ? Sejauh dari pengalaman dari Penulis. Pertanyaan ini muncul dikarenakan
dalam satu unit kesatuan didalam departemen fungsi struktural tidak berjalan
dengan benar. Job description antar jenjang tidak jelas batasan wewenang dan
tanggung jawabnya, sehingga saling tumpang tindih. Kondisi ini menyebabkan
distribusi beban kerja manajerial tidak terdistribusi merata, dan menumpuk pada
titik – titik tertentu. Sehingga tidak mengherankan terkadang dalam sebuah
depertemen, peranan supervisor lebih menonjol dibanding Manager Departemen.
Supervisor lebih memahami teknis dilapangan, memahami perencanaan dan stratgi
pengaturan orang, memahami prosedure, dan dapat menganalisis dengan lebih baik.
Ditengah situasi
dan kondisi inilah, muncul pertanyaan tadi.
Kesimpulannya,
kita tidak harus terjebak oleh pertanyaan “ Mana
lebih Penting “, karena mata tidak lebih penting dari kaki, otak tidak
lebih penting dari jantung, dan seterusnya. Jadikan ini sebagai indikator
kinerja sebuah struktur organisasi.
Khususnya untuk
semua kepala yang berada di jenjang Manajer Lini Pertama ( First Line Manager ). Orang – orang yang berada di kelompok ini
wajib memiliki kemampuan ( pengetahuan dan ketrampilan ) manajerial dan Teknis
Operasional yang sangat baik. Tidak ada alasan Manager Departemen Produksi,
tidak tahu Insruksi Kerja ( IK ) para operatornya. “ Oh, itu masalah teknis, bukan kerjaan saya, ini kerjaan kepala
dilapangan “
Cukup sekian, dan semoga sukses untuk
anda semua …



No comments:
Post a Comment